Print this pageEmail this to someoneShare on LinkedInShare on Google+Share on Facebook
http://apbipabali.org/perjalanan-tim-bipa-dahsyat-mengikuti-konferensi-asile-2016-di-adelaide/

Perjalanan Tim BIPA Dahsyat Mengikuti Konferensi ASILE 2016 di Adelaide, Australia

Ariani Selviana Pardosi

ariani-1Semula, terbesit dalam pikirku mengapa turut menghadiri ajang konferensi ASILE 2016. Australian Society of Indonesia Language Educators, tentulah ajang ini untuk kalangan pengajar Bahasa Indonesia di Australia. Pantaslah, bila pertanyaan dari peserta lain, “Ibu mengajar di mana?Brisbane, Perth, Melbourne?” Ketika kujawab, “Saya dari Indonesia.Mengajar di Jakarta?”, ada sedikit kesan heran. Aku menduga mereka berpikir, “Jauh-jauh amat datang dari Indonesia!Biayanya besar, kan?” Terlebih beberapa pengajar di Australia pun menimbang–nimbang untuk hadir mengingat biaya keikutsertaan untuk acara ini yang relatif mahal. Bagi kami yang bermukim di tanah air tentu ada biaya ekstra administratif, akomodasi, dan transportasi untuk bisa sampai di Adelaide.

Telah lama kudengar bahwa bahasa Indonesia menjadi bahasa kedua di Negeri Kangguru ini. David Reeve seorang pengajar Bahasa Indonesia di Univesitas Sydney yang juga hadir di ajang tersebut menuturkan bahwa bahasa Indonesia mulai diajarkan di Australian pada era 1960-an. Alasan inilah yang mendorong kami untuk hadir di ajang dua tahunan ini. Paling tidak kami menyaksikan dan mengamini akan geliat, motivasi, dan kesungguhan pengajaran Bahasa Indonesia di Australia dengan mata sendiri. Pengorbanan finansial dan waktu menjadi tak ada artinya dibandingkan dengan pembelajaran, pengetahuan, dan pengalaman yang kami dapat sebelum, selama, dan sesudah ajang ASILE 2016 tersebut.

ariani-2Sebelum menghadiri ASILE 2016 di Adelaide, kami ‘terdampar’ di Melbourne. Sahabat kami yang juga pengajar Bahasa Indonesia di Damascus College, Ballarat, Silvy Watania menyambut dengan hangat. Dari perjumpaan ini, kami memeroleh gambaran pembelajaran Bahasa Indonesia di Melbourne, kesempatan berdiskusi aneka metode pembelajaran, dan yang tak kalah berharga kami merasakan kehangatan persahabatan, bercengkerama dalam canda dan tawa. Sungguh sebuah kesempatan yang tak ternilai.

Dalam ajang ASILE 2016, kami dikejutkan dengan kesungguhan para pegiat dan pengajar BIPA menggagas dan meningkatkan kualitas pembelajaran. Pemakalah berkebangsaan Indonesia maupun Australia pada umumnya berbagi metode dan pendekatan pembelajaran Bahasa Indonesia. Terbesit rasa haru dan bangga akan motivasi mereka, tetapi terselip juga rasa malu menghadapi kenyataan beberapa pengajar berkebangsaan Australia yang lebih cinta Indonesia daripada pengajar asli Indonesia. Sedikit disayangkan, bahasa pengantar ajang konferensi menggunakan bahasa Inggris. Namun, dalam komunikasi antarpeserta terbangun suasana sangat Indonesia yang sesekali diselingi dengan celoteh aneka bahasa daerah.

Lima tahun belakangan ini, peminat belajar bahasa Indonesia di Australia dikalahkan oleh peminat bahasa China dan Jepang. Selain alasan ekonomis dan politis, Prof.Dr.George Quinn, pengajar dan pemerhati bahasa Indonesia dari Australia National University menyatakan bahwa ada dua kendala besar-beliau mengistilahi dengan 2 elephants-dalam pengajaran bahasa Indonesia di Australia. Gajah pertama adalah issue berkaitan dengan Islam di Indonesia dan gajah kedua adalah dampak globalisasi bahasa Inggris. Untuk gajah kedua ini, beliau mengisahkan orang Australia yang datang ke Jogjakarta untuk memperdalam bahasa dan budaya Indonesia. Saat bertemu dengan penduduk lokal ‘malah’ mendapat ajakan, “Can I practise English with you, Sir?”. Hahaha… pupus sudah harapan orang Australia ini untuk bisa belajar bahasa Indonesia dari penutur asli. Rupanya, dampak globalisasi menumbuhkan minat orang Indonesia untuk bisa berbahasa Inggris sehingga pertemuan dengan ‘orang asing’ dianggap sebagai sebuah kesempatan praktik berbicara. Hem…

ariani-3Kejutan-kejutan lain yang kudapatkan dari beberapa pemakalah adalah ketertarikan mereka akan perkembangan bahasa gaul di Indonesia. Mereka menanggapi gejala itu sebagai sesuatu yang berdampak buruk bagi keberadaan bahasa Indonesia formal. Ironisnya, penutur asli –bahkan kita pengajar–sadar tidak sadar menanggapi hal ini sebagai sesuatu yang enteng terbukti dengan seringkali kita memakai bahasa gaul sebagai pengantar mengajar dan berbicara di ajang formal lainnya. Kita kerap tanpa dosa memakai bahasa gaul dalam forum resmi.

Seusai konferensi ASILE 2016, tim BIPA Dahsyat mendapat kesempatan berada di kelas-kelas Indonesian Studies Universitas Flinders. Universitas ini sangat tertarik belajar budaya dan bahasa Indonesia. Kecintaan terhadap budaya Indonesia ditandai dengan adanya komunitas gamelan yang dianggotai orang Australia. Mereka piawai menabuh aneka musik gamelan bahkan terampil menyinden. Luar biasa!

Seusai ajang ASILE 2016, Bipa Dahsyat mendapat kesempatan mengajar di kelas Ibu Michelle Kohler dan Ibu Firdaus, Universitas Flinders. Di kelas Ibu Michelle, kami mendapat kesempatan membahas masalah umum keberagaman Indonesia dan secara khusus tentang “Toleransi Beragama”.Dalam kesempatan ini, kami meneguhkan persepsi bahwa Indonesia adalah negara yang penuh toleransi dan harmonisasi dalam keneragaman budaya dan agama. Kami mencoba menepis kesan bahwa Indonesia penuh konflik karena perbedaan agama. Dalam kesempatan ini, kami pun mengajar aneka salam keagamaan sebagai upaya mewujudkan toleransi beragama, assalamualaikum, syalom, namo budhaya, om swastiastu. Ah… indahnya perbedaan.

ariani-4Saat mengisi kelas Ibu Firdaus, kami mendapat kesempatan memperkenalkan Bipa Dahsyat. Sungguh sebuah kesem-patan yang tidak terduga. Kami menjelaskan text books dan media ajar kami yang menggugah dan menggairahkan. Respons mereka, “Wah…buku integratif seperti ini yang kami cari!”,“Di mana dan bagaimana cara mendapatkan buku itu?”,“Kami ingin memiliki media ajar itu!” Komentar-komentar yang menyemangati kami untuk terus berkarya demi bahasa Indonesia yang bermartabat.

Ajang ASILE 2016 telah memperkaya wawasan belajar dan mengajar Bahasa Indonesia, memperkaya pertemanan kami dengan orang-orang hebat, tetapi tetap bersahaja, orang-orang yang tetap Indonesia sekalipun bertahun-tahun telah bermukim di Australia. Dari mereka, kami belajar bahwa berpikir harus global, tetapi berbudaya harus tetap lokal.

Terima kasih APBIPA Bali yang telah memfasilitasi kami, terima kasih ASILE 2016 yang telah menjadi ajang refleksi kami, dan terima kasih BIPA Dahsyat yang telah memberi kesempatan dahsyat ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

View Desktop Site