Print this pageEmail this to someoneShare on LinkedInShare on Google+Share on Facebook
http://apbipabali.org/penghargaan-satya-abdi-budaya-ii-2017/

Penghargaan Satya Abdi Budaya bagi Pejuang BIPA

Penghargaan Satya Abdi Budaya (SAB) adalah sebuah perjuangan, sebuah cita-cita, sebuah ketegaran serta sebuah pengakuan. Tidak saja itu, SAB adalah juga cinta terhadap Indonesia, ketidaklekangan pengabdian terhadap Bahasa Indonesia serta pencapaian atas sebuah upaya dan perjuangan yang panjang.

Penerima penghargaan 2017

SAB 2017 2Penerima Satya Abdi Budaya (SAB) yang kedua adalah Prof. Dr. Dendy Sugono, M.Hum (Pak Dendy) dan Dr. Erlin Susanti Barnard (Ibu Erlin) masing-masing mewakili pejuang BIPA nasional dan internasional. Penyerahan penghargaan SAB II dilaksanakan dalam rangka Konferensi Internasional Pengajaran BIPA X di kota Batu, Malang pada 12-14 Oktober 2017.

Saya berkenalan cukup dekat dengan Pak Dendy sejak tahun 2000 terutama ketika saya harus sering bertamu ke Pusat Bahasa (kini Badan Bahasa) Departemen Pendidikan Nasional di Rawamangun, Jakarta. Kunjungan saya ke Pusat Bahasa saat itu adalah dalam rangka pelaksanaan KIPBIPA IV di Denpasar. IALF Bali adalah lembaga penyelenggara saat itu bekerja sama dengan APBIPA Bali dan pada saat itu saya adalah Program Manager, Indonesian Language Services IALF Bali dan Sekretaris APBIPA Bali sementara Pak Dendy adalah Kepala Pusat Bahasa.

Pertemuan saya dengan Pak Dendy semakin sering sejak 2006 ketika beliau hendak melakukan standarisasi program BIPA di Indonesia. Pertanyaan saya saat itu kepada beliau adalah, “Bagaimana mungkin Pusat Bahasa melakukan standarisasi sementara Pusat Bahasa sendiri tidak memiliki unit BIPA? Apakah teman-teman di Pusat Bahasa benar-benar paham tentang BIPA?”

Singkat cerita Pusat Bahasa berencana membuat unit BIPA dan memulainya dengan penyelenggaraan Lokakarya Prasertifikasi Guru BIPA (2006 – 2008) dengan harapan Pusat Bahasa akan segera melaksanakan program standardisasi program BIPA beberapa tahun kemudian. APBIPA Bali diminta untuk membuat struktur program: 40 jam pelajaran terstruktur di dalam kelas dan 20 jam kerja mandiri selama satu minggu. (Pada 2009 Program Prasertifikasi Guru BIPA ini didesain ulang oleh APBIPA Bali menjadi Program Sertifikat Guru BIPA Level 1-4 seperti saat ini). Hal ini dilakukan karena tanda-tanda program sertifikasi program BIPA oleh pihak yang berkompeten untuk itu tidak kunjung tiba padahal keterampilan guru BIPA sangat diperlukan.

SAB 2017Saya ingat kali pertama bertemu dengan Ibu Erlin Barnard pada tahun 1996 saat penyelenggaraan KIPBIPA II di IKIP Padang (kini Universitas Negeri Padang). Saya sempat ngobrol sekitar 20 menit saja. Pertamuan kedua saya dengan ibu Erlin terjadi di kota Bandung pada 1999 di sela-sela KIPBIPA III di IKIP Bandung (sekarang Universitas Pendidikan Indonesia). Jika tidak salah saat itu beliau masih bertugas di Singapura.

Ibu Erlin Barnard, Ph.D. adalah Koordinator Pedagogi untuk Bahasa pada Asian Languages and Culture, Universitas Wisconsin, dengan tugas utama mengawasi aspek-aspek pedagogis dan perkembangan pembelajaran bahasa yang sering diajarkan di UW-Madison. Ia adalah alumni Jurusan Pendidikan Bahasa Inggris IKIP Malang (1986) dan telah memperole gelar doktor dari Leeds Metropolitan University pada 2004. Selama karirnya ia telah menjadi fasilitator pengembangan pedagogi di A.S, Indonesia, Malaysia, Belanda, dan Singapura. Sejumlah buku ajar BIPA sudah ia terbitkan termasuk Nah, Baca!, Ayo Berbahasa Indonesia. Ada begitu banyak prestasi akademik yang telah dicapai oleh Ibu Erlin termasuk penghargaan bergengi berupa ‘The Chancellor’s Award for Excellence in Service’ (2012).


Riwayat lahirnya SAB

Di dunia BIPA, Satya Abdi Budaya adalah sebuah pengakuan dan pernghargaan kepada individu yang telah dengan terus-menerus mengabdi untuk mengajarkan, meneliti, menulis serta berpikir untuk mengembangkan dan mempertahankan pengajaran Bahasa dan Budaya Indonesia di dalam luar negeri.

Sejak 2010, ketika saya dipilih sebagai Ketua Umum APBIPA Indonesia saya sudah berhasrat untuk memberikan penghargaan kepada para insan BIPA dengan pencapaian yang luar biasa dalam perkembangan dan pengembangan Bahasa Indonesia di dalam dan luar negeri, tidak saja dalam pengajaran melainkan juga dalam berbagai aksi dan program.

GQuinn 2Perhelatan Konferensi Internasional Pengajaran BIPA (KIPBIPA) adalah saat yang paling tepat bagi APBIPA Indonesia untuk menyerahkan penghargaan ini kepada yang paling berhak. Namun, antara 2010-2012 kami belum berhasil menemukan nama yang tepat untuk penghargaan itu. Itulah sebabnya pada KIPBIPA VIII (2012) di Universitas Kristen Satya Wacanan keinginan ini belum bisa diwujudkan. Alasan lain adalah pada saat itu ada begitu banyak persiapan yang harus dilakukan oleh Panitia KIPBIPA VIII dan APBIPA Indonesia karena penyelenggarakan KIPBIPA VIII saat itu dirangkaikan dengan pelaksanaan Konferensi ASILE (Australian Society for Indonesian Language Educators). APBIPA Indonesia belum merasa siap untuk itu.

Keinginan untuk memberikan penghargaan SAB itu menguat pada 2014. Pada saat itu saya sudah menetapkan bahwa hal ini harus dilaksanakan pada KIPBIPA IX di Denpasar 30 September -2 Oktober 2015. Saya lalu berdiskusi panjang hanya dengan M. Bundhowi (Pak Bun – Conference Manager KIPBIPA IX) karena kami ingin agar ini menjadi ‘kejutan’ dalam KIPBIPA IX terutama bagi penerimanya. Setelah menetapkan nama, saya lalu meminta bantuan Pak Bun untuk merancang bentuk fisik serifikat dan trofi SAB tersebut.

Dalam diskusi di Pusat Bahasa Universitas Ngurah Rai pada akhir 2014 disepakati dua nama penerima SAB: Dr. Widodo Hs., M.Pd (Indonesia – nasional) dan Prof. George Quinn (Australia – ineternasional). Kedua tokoh ini hampir sepanjang karirnya tetap berada di jalur BIPA melalui lembaga atau universitas masing. Untuk dan karena alasan tersebut keduanya dinobatkan menjadi penerima penghargaan Satya Abdi Budaya I.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

View Mobile Site