Print this pageEmail this to someoneShare on LinkedInShare on Google+Share on Facebook
http://apbipabali.org/pelajaran-yang-indah-dari-tempe-arizona/

Artikel 4Ini bukan tulisan atau cerita tentang keindahan Amerika seperti yang dibayangkan oleh kebanyakan orang. Juga bukan tentang kemegahan kota-kota, lebarnya jalan-jalan raya di negara Paman Obama ini. Ini adalah sebuah kesan seorang guru yang melihat banyak keindahan Amerika melalui sejumlah ungkapan dalam sejumlah esei yang ditulis oleh mahasiswa dari berbagai universitas di Amerika.

Di musim panas 2017 ini saya tiba di kota Tempe melalui bandara Phoenix, ibukota Negara Bagian Arizona, pada 19 Mei untuk memulai program BIPA pada 22 Mei. Kalau tahun 2016 program Bahasa Indonesia CLI-ASU hanya memiliki empat orang mahasiswa, tahun ini ada 11 orang mahasiswa yang berhasil lulus seleksi.

Setelah selesai minggu ke 4, ketika mereka telah menyelesaikan 80 jam belajar sangat intensif, saya mulai memberikan PR dengan jumlah kata minimal 350. Salah satu esei yang harus mereka tulis adalah jawaban atas pertanyaan saya, “Apa yang membuat Amerika ini indah?”. Harapan saya waktu itu adalah bahwa saya akan bisa belajar dari mereka tentang nama-nama tempat yang menarik di benua ini.

Artikel 2Ternyata saya mendapat lebih dari itu. Monica Orillo mahasiswa Jurusan Sospol Arizona State University menuliskan bahwa, “Keindahan Amerika adalah perbedaan Amerika itu sendiri.” Kalimat ini cukup menyentak saya karena di Indonesia kita dari dulu sangat fasih mengucapkan semboyan kebinekaan dan kesatuan kita, bhineka tunggal ika, namun sekarang kain kebhinekaan itu mulai mau dikoyak dan karenanya kain ini dan perlu dirajut ulang. Dari situ lalu saya mulai memikirkan makna lebih dalam dari kata ‘penyatuan’ dan ‘persatuan’.

Mahasiswa dari North Carolina State University, Jared Abell, melihat keindahan Amerika disebabkan oleh adanya kebebasan: kebebasan untuk memilih dan menjalankan bisnis, kebebasan untuk bersuara, dan kebasan untuk memilih makanan dan minuman sesuai kesukaan dan kemampuan. Saya jadi ingat perckapan singkat saya dengan sahabat saya yang berasal dari Timor Timur (sekarang Timor Leste) di tahun 1996. Kebetulan sahabat saya inilah yang antar-jemput saya dari Hotel Turismo – Kanwil Pertanian untuk memberi pelatihan bahasa Inggris. Dalam perjalanan pulang ke hotel dia sempat bercerita bahwa mereka punya semuanya: makanan, uang, pakaian tetapi mereka merasa tidak punya kebebasan.

Artikel 1Saat ini orang-orang Indonesia memiliki kebebasan yang luar biasa, saking bebasnya sampai melewati batas. Merusak sumbu-sumbu kesopanan, melanggar kode etik budaya. Orang Indonesia kini mulai fasih mencaci maki di depan umum – mencaci maki siapa saja. Kita juga sudah biasa melihat atau mendengar elit yang bicara bohong di depan publik karena motif tertentu.

Ada juga mahasiswa yang menguraikan bahwa yang membuat Amerika menarik dan indah adalah karena adanya banyak kesempatan. Mereka yang percaya dengan kesempatan itu dan jika mereka bekerja keras pasti akan berhasil. Yang paling indah adalah ungkapan yang ditulis oleh Vlada Dementyeva (University of Maryland) mengutip nasihat ayahnya bahwa “Kita tidak boleh memiliki apapun, hanya kata-kata yang baiklah yang bisa dimiliki dan diwariskan kepada anak-anak.” Sebagai orang tua dari tiga anak yang sudah dewasa dan memiliki dua cucu, ungkapan ayah Vlada ini sangat menyentuh dan cukup menampar muka saya.

Artikel 3Tidak saja ungkapan-ungkapan seperti ini yang membuat saya tersentuh tetapi saya juga kagum pada makna yang ada di balik ungkapan itu. Para mahasiswa ini adalah anak muda Amerika yang berumur antara 19 dan 24 tahun yang mengungkapkan dengan penuh rasa percaya diri tentang kesempatan masa depan yang ia miliki, tentang kekayaan negaranya, dan hal-hal positip lainnya. Singkatnya adalah tentang rasa nasionalisme mereka untuk ‘to serve my country’ ungkapan yang berkali-kali saya dengar dari mereka. Ketika saya mencoba memadankan ungkapan ini dengan ‘melayani negara saya’ atau¬†mengabdi pada negara tiba-tiba lidah saya terasa kelu dan pahit ketika otak saya menjalar mengingat dan melihat perilaku sejumlah elit di negeri kita.

Jadi, ke 11 mahasiswa itu sebenarnya hanya belajar bahasa dan keterampilan bahasa dari saya, tetapi saya telah belajar tentang kehidupan dari mereka. Saya pun lalu bergumam bagaimana dengan anak-anak muda Indonesia dewasa ini? Apakah mereka masih merasa bangga dengan negaranya, tahu bahwa negaranya memiliki begitu banyak kesempatan? … Entahlah, mudah-mudahan saja begitu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

View Desktop Site