Oleh-oleh Khusus dari Australia Selatan: Indonesia-Australia School Attachment Program (Port Elliot P.S, Goolwa P.S., and Victor Harbor P.S, Adelaide, South Australia) 9-30 Mei 2015 Hj. Asmiati, S.S., M.Pd. (SMKN 1 Batam) Mia 5Alhamdulillah bersyukur kepada Allah swt. setelah tiga minggu proses pengajuan Visa program Kemitraan Sekolah Indonesia-Australia (Indonesia-Australia School Attachment Program) atas nama saya, Asmiati, diterima. Hal ini cukup membuat saya khawatir dikarenakan pemberitaan yang sedang mencuat pada saat itu mengenai hukuman mati yang melibatkan warga Negara Australia yang sempat membuat hubungan diplomatik antara Australian dan Indonesia sedikit terganggu. Namun hal tersebut sirna dengan adanya respons positif dari pihak APBIPA Bali yang mengurus keberangkatan saya dan juga dari pihak sekolah tempat saya mengajar di Australia nanti. Seluruh pengurusan visa dilakukan oleh APBIPA Bali dan saya hanya mengisi formulir VISA dari Kedutaan Australia di Jakarta. Hari Kamis tanggal 7 Mei saya terbang ke Bali dijemput oleh Pak Nyoman Riasa dari APBIPA untuk selanjutnya mengikuti kegiatan persiapan sebelum berangkat ke Australia. Tanggal 8 Mei saya mengikuti pelatihan tentang “Child Protection Program” oleh Bapak Bundhowi dari APBIPA. Tanggal 9 Mei tepat pukul 23.55 waktu Bali saya terbang langsung menuju Adelaide, Australia, menggunakan pesawat Jetstar. Penerbangan ditempuh selama kurang lebih 4.5 jam. Pukul 6.00 pagi waktu Adelaide saya sudah berada di bandara, dengan sedikit cemas akan barang bawaan saya sata melewati peemriksaan petugas beacukai. Alhamdulillah semuanya berjalan lancar saya hanya ditanya untuk apa saya berkunjung ke Australia dan saya katakana bahwa saya akan mengajar di beberapa sekolah di Adelaide sebagai guru tamu dalam sebuah program. Berjalan menuju ke ruang tunggu kedatangan membuat saya sedikit kedinginan dikarenakan saat itu Australia sudah memasuki musim dingin, namun berbekal jaket yang saya bawa dari Batam sedikit memberikan kehangatan sambil menunggu kedatangan Ibu Catherine Sibly (Ibu Cathy) untuk menjemput saya. Dengan bermodalkan tas tangan yang saya bawa bertuliskan SMKN 1 Batam, saya berharap Ibu Cathy dapat mengenali saya dikarenakan selama ini kami tidak pernah saling bertatap wajah. Setelah menunggu sekitar 30 menit, Ibu Cathy datang dan benar saja tanpa basa-basi beliau langsung memeluk saya dan menyapa dengan “Ibu Mia ya,” saya sedikit kaget dengan bahasa Indonesia beliau yang menurut saya sangat bagus untuk ukuran orang asing saya langsung menimpali dengan “Ibu Cathy, ya?”. Kami saling berkenalan dan kebetulan beliau pada saat itu membawa serta putrinya (Rebecca). Kami bertiga pun mulai meluncur menuju ke kediaman Ibu Cathy yang berada di Middleton, South Australia, karena menurut jadwal saya akan bersama beliau selama seminggu dan mengajar di Port Elliot Primary School. sertifikat-apbipaPada malam hari pukul 19.00 kami diundang makan malam di rumah Ibu Sharon Mann yang juga merupakan guru Bahasa Indonesia yang juga akan menjadi keluarga angkat saya selama seminggu. Pukul 17.00 saya dan Ibu Cathy mempersiapkan segala sesuatunya untuk menuju ke rumah Ibu Sharon. Saya memasak “Cah Kangkung a la Ibu Mia” dan “Steamed Ikan” sebagai buah tangan kami menuju rumah Ibu Sharon. Pukul 18.30 kami bersiap berangkat dan disambut ramah oleh keluarga Ibu Sharon dan dua guru Bahasa Indonesia lainnya yaitu Ibu Annie dan Ibu Trees. Kami berkenalan, santap malam, dan bersenda gurau menggunakan dua bahasa yaitu Indonesia dan Inggris dengan suasana santai dan akrab hingga pukul 21.30. Seminggu pertama di PEPS bersama Ibu Cathy dalam mengajar bahasa Indonesia membuat saya sangat terkesan dan banyak pengalaman yang saya dapatkan di sana. Suasana kekeluargaan yang sangat hangat membuat saya merasa nyaman walau dalam kultur dan bahasa yang berbeda. Saya sangat bangga memperkenalkan diri dan Indonesia serta kota Batam tempat asal saya yang tidak mereka ketahui sama sekali. Mia 4Hari Senin saya mengajar 5 kelas bersama Ibu Cathy mulai dari kelas 1-5. Alhamdulillah diawali dengan perkenalan dan pertanyaan dan diakhiri dengan permainan mereka sangat antusias dan senang. Hari Selasa saya kembali mengajar 5 kelas (Kelas 1-7). Rabu dan Kamis saya memberikan kelas memasak untuk 5 kelas yang berbeda. Sembari memasak mereka juga boleh bertanya tentang saya, keluarga, sekolah saya (SMKN 1 Batam) dan kota Batam. Saya memasak “Mie Goreng Telur atau Mie Telur Dadar (Noodle Omelete) a la Ibu Mia dari Batam”. Minggu ke dua saya menuju rumah Ibu Annie yang mengajar di Goolwa Primary School. Pengalaman berbeda saya dapatkan bersama Ibu Annie di sekolahnya. Senin hingga Rabu saya mengajar bersama beliau dengan 5 kelas dalam sehari untuk Kelas 1-7. Di sekolah beliau saya tidak memberikan kelas memasak namun kami tetap senang dengan perkenalan, menonton video tentang kota Batam dan SMKN 1 Batam serta diakhiri dengan permainan. Hari Kamis saya diminta mengajar di Victor Harbor karena Ibu Annie tidak ada kelas di hari tersebut. Juma’t kami menghadiri Festival Budaya untuk anak-anak sekolah di daerah Goolwa. Minggu terakhir saya berpindah ke rumah Ibu Sharon yang mengajar di Victor Harbor Primary School. Senin-Kamis saya bersama Ibu Sharon mengajar untuk 5 kelas dengan level yang berbeda dari kelas Reception hingga kelas 7. Di sekolah ini juga terasa perbedaan pengalaman yang saya dapatkan karena setiap guru mempunyai metode masing-masing. Ibu Sharon lebih sering menerapkan model bercerita yang memang disenangi oleh anak-anak dan saya membantu Ibu Sharon dengan ikut bercerita yang tentunya dalam Bahasa Indonesia. Sama halnya dengan di PEPS, di sekolah ini saya ada kelas memasak sebanyak 2 kali: Selasa dan Rabu. Siswa sangat antusias untuk bertanya masalah keluarga saya, kota Batam dan SMKN1 Batam dan saya sangat antusias sekali menjelaskan kepada mereka melalui video dan gambar yang khusus saya persiapkan. Mia 3Tanggal 30 Mei pukul 19.00 dengan menggunakan pesawat yang sama yaitu Jetstar saya terbang kembali ke tanah air seiring berakhirnya kegiatan saya selama berada di Australia. Demikianlah pengalaman saya selama di Australia Selatan di tiga sekolah dalam rangka mengikuti Program Kemitraan Sekolah Indonesia-Australia dikelola oleh APBIPA Bali yang sangat gigih mengembangkan program BIPA dengan melatih para guru di Indonesia. Melalui program ini, setidaknya saya dapat memberikan pencerahan kepada dunia luar khususnya Australia bahwa Indonesia sangat kaya dan salah satu kekayaan tersebut ada di kota Batam. Saya senang karena saya ikut terlibat dalam membina hubungan baik antara Indonesia dan Australia melalui Bahasa dan Budaya Indonesia. Terimakasih tidak terhingga saya ucapkan kepada Kepala Sekolah SMKN 1 Batam, Ibu Lea Lindrawijaya, Suroso, M.Pd., yang telah memberi kepercayaan dan dukungan kepada saya hingga program ini terlaksana dengan baik dan saya berharap program ini tidak hanya berhenti sampai di sini.
View Desktop Site