Syndicate

Chat With Us

apbipabali.org


Secretariat:
Jln. Tukad Sanghyang 27

Panjer- Denpasar - Bali, Indonesia
80225
E-mail:
nriasa@apbipabali.org
Telephone:
+62 361 261814
Fax
:+62 361 241774
Mobile:
081 138 04814

Rangkuman Hasil Rakernas APBIPA

Rangkuman Hasil Rapat Kerja Nasional APBIPA
(Asosiasi Pengajar Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing)
Kampus Universitas Negeri Malang
Sabtu, 2 Maret 2013


Sambutan 1
09.00 – 10.30

Wakil Dekan 1, Fakultas sastra, Universitas Negeri Malang, Bapak Suharmanto Ruslan, membuka Rakernas APBIPA dengan tema Revitalisasi Bahasa Indonesia Menuju Bahasa Internasional

Sambutan 2
Wakil Badan Bahasa sekaligus Dewan Pengawas APBIPA, Bapak Dendy Sugono menguraikan:
•    Sekilas sejarah BIPA dan pasang surut program BIPA di masa yang lalu bahkan sampai beberapa program BIPA di Australia pernah dialihkan ke Malaysia.
•    APBIPA diharapkan menjadi organisasi internasional seperti halnya ATL (Asosiasi Tradisi Lisan) yang keanggotannya menyebar ke berbagai negara.
•    Revitalisasi merupakan tema yang tepat untuk mendorong peningkatan program BIPA di dalam dan luar negeri dalam bentuk standardisasi mutu (bahan ajar, metodologi pengajaran, pengajar) serta memberikan warna program BIPA yang khas sesuai tempat penyelenggaraan program.
•    Program pengembangan dan revitalisasi BIPA bisa dilaksanakan melalui penerbitan Jurnal BIPA atau majalah BIPA serta memperluas keanggotaan APBIPA untuk kelak berkompetisi menjadi tuan rumah berbagai forum BIPA di Indonesia.
•    Sebanyak 44 universitas dan lembaga di Indonesia yang menyelenggarakan BIPA di tanah air harus  bersinergi untuk memajukan BIPA baik di lembaga masing-masing maupun di Indonesia.

Pembekalan
11.15 – 12.00

Ketua Umum APBIPA, Bapak Nyoman Riasa
•    Segenap komponen BIPA harus mulai memikirkan BIPA secara nasional demi martabat bahasa dan bangsa Indonesia dengan tetap berorientasi pada kebutuhan pembelajar BIPA.
•    Memperhatikan guru-guru bahasa Indonesia di sekolah internasional yang berjuang (sendiri) untuk mempertahankan bahasa Indonesia di antara sekian banyak mata pelajaran yang berbahasa asing. APBIPA, lembaga pendidikan BIPA di Indonesia, dan pemerintah (Badan Bahasa) harus mengambil langkah-langkah nyata untuk memberikan dukungan kepada guru-guru ini.
SEKRETARIAT:
BADAN  PENGEMBANGAN DAN  PEMBINAAN BAHASA  KEMENTERIAN  PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN
Jalan Daksinapati Barat IV, Rawamangun, Jakarta 13220, T. (021) 470628, 4706288 Psw 139; F. 4750407

 
Pleno 1 – Sertifikasi (Felicia Utorodewo)
13.15 – 14.15

-    Peserta Rakernas secara aklamasi menyetujui diselenggarakannya program sertifikasi pengajar BIPA untuk meningkatkan kompetensi pengajaran dan penyelenggaraan program BIPA di Indonesia.
-    Setelah APBIPA berumur 14 tahun sudah saatnya bagi asosiasi untuk mengembangkan selanjutnya melaksanakan program sertifikasi pengajar BIPA seperti yang dilakukan oleh asosiasi profesi lain. Kebutuhan sertifikasi sudah sangat mendesak mengingat banyaknya tawaran mengajar BIPA di luar negeri yang mensyaratkan hal ini.
-    Sertifikasi pengajar BIPA dilakukan oleh APBIPA Indonesia dan Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa (Badan Bahasa) yang mewakili pemerintah.
-    Sertifikasi pengajar BIPA dapat berupa pelatihan peningkatan kompetensi kebipaan yang diselenggarakan oleh lembaga pelatihan dan/atau pendidikan setara universitas bekerja sama dengan APBIPA dapat melibatkan Badan Bahasa.
-    Pengajar BIPA yang sudah pernah mengikuti pelatihan pengajaran BIPA sejenis, untuk memperoleh sertifikasi mereka dapat mengikuti uji kompetisi pengajar BIPA yang diselenggarakan oleh APBIPA dan Badan Bahasa atau mengikuti program penyetaraan dalam bentuk lain.
-    Pembuatan soal-soal untuk uji kompetensi pengajar BIPA untuk tujuan sertifikasi dilakukan oleh universitas yang sudah memiliki program BIPA atau oleh konsorsium yang dikoordinasikan oleh sebuah lembaga pendidikan sebagai penyelenggara bekerja sama dengan APBIPA.  
-    Legalitas sertifikasi secara fisik ditunjukkan berupa tanda tangan pada sertifikat dan atau mencantumkan logo APBIPA dan Badan Bahasa.
-    Jadwal Pelaksanaan pelatihan guru BIPA yang diselenggarakan oleh berbagai lembaga pendidikan akan dikomunikasikan dengan APBIPA untuk disebarluaskan melalui jaringan yang sudah ada.


Pleno 2 – UKBIPA (Nuny Sulistyani)
14.20 – 15.15

-    Peserta Rakernas secara aklamasi bersepakat tentang urgensi penyelenggaraan UKBIPA (Uji Kemahiran BIPA) untuk menentukan standar nasional hasil pembelajaran BIPA di berbagai lembaga penyelenggarakan program BIPA.
-    UKBIPA kelak dapat digunakan untuk melindungi kepentingan bangsa Indonesia dalam menyeleksi dan mengontrol tenaga kerja asing yang akan bekerja di Indonesia baik oleh perusahaan asing maupun perusahaan nasional.
-    UKBIPA yang bersifat nasional dapat dilaksanakan dengan menggandeng penyelenggara program BIPA di universitas maupun lembaga penyelenggara program BIPA.
-    Setiap lembaga pendidikan dan lembaga penyelenggara program BIPA dapat mengembangkan instrumen UKBIPA masing-masing untuk mencapai standar kompetensi bertaraf nasional.
-    UKBIPA harus benar-benar mengukur tingkat kemahiran berbahasa (menyimak, membaca, berbicara, dan menulis) semantara komponen-komponen bahasa lainnya termasuk tata bahasa, kosakata, dan pelafalan diintegrasikan ke dalam pengukuran empat keterampilan tersebut.
-    APBIPA dan Badan Bahasa menyelenggarakan UKBIPA nasional untuk tujuan akademis dan umum. Butir-butir soal UKBIPA disusun secara bersama-sama oleh anggota APBIPA atau konsorsium lembaga penyelanggara program BIPA.

Pleno 3 – Jurnal Ilmiah (Suharsono)
15.00 – 15.50  

1.    Jurnal ilmiah BIPA dibutuhkan untuk pengembangan program BIPA di Indonesia yang akan dijadikan rujukan oleh para pengajar dan peneliti BIPA.
2.    Nama jurnal dibuat spesifik sesuai dengan disiplin ilmu (Jurnal BIPA) sesuai dengan misi dan visi jurnal itu sendiri sehingga nama-nama yang bernuansa populer harus dihindari.  Jurnal memuat hasil penelitian, kajian teori, pengalaman praktis serta hasil-hasil kreativitas guru yang layak untuk disebarluaskan.
3.    Untuk mempercepat proses akreditasi, setidaknya jurnal ilmiah BIPA terbit dua kali setahun. Diharapkan akreditasi dapat dilakukan setelah tiga kali terbit secara kontinu.
4.    Jurnal diterbitkan dalam bentuk hardcopy dengan ISSN yang selanjutnya dapat diunggah secara daring. Pembuatan jurnal BIPA online akan memerlukan waktu tambahan dengan ISSN yang berbeda. Pada masa depan diusahakan jurnal BIPA dapat memiliki akreditasi internasional.
5.    Pendanaan dapat diperoleh melalui iuran anggota, pemberian ruang iklan, atau sponsor dari berbagai pihak (Badan Bahasa).
6.    Universitas Negeri Malang telah menyatakan bersedia membantu sepenuhnya tentang realisasi penerbitan jurnal ilmiah BIPA ini dan mengawalnya sampai jurnal ini memiliki akreditasi yang diharapkan. Bapak Dendy Sugono (Badan Bahasa), Bapak Suharsono (Ketua Bidang Publikasi Ilmiah), dan Ibu Nuny Sulistyani Idris (Universitas Pendidikan Indonesia) bersedia duduk sebagai dewan redaksi.  
7.    Alamat sekretariat Jurnal Ilmiah BIPA bisa sama dengan alamat sekretariat APBIPA atau alamat yang berbeda sesuai dengan kesepakatan Dewan Redaksi (misalnya Universitas Negeri Malang). Penentuan alamat tersebut dilakukan demi kemudahan dan kelancaran kerja administratif Dewan Redaksi.
8.    Ketentuan mengenai artikel jumlah halaman (kata), format, dan lain-lain akan dirumuskan secara tersendiri oleh Dewan Redaksi.

Pleno 4 – Keanggotaan & Kepengurusan  (Riasa)
15.50 – 16.30

-    APBIPA akan menerbitkan kartu anggota sebagai bukti fisik keanggotaan yang bertujuan untuk mendata jumlah pengajar BIPA di dalam negeri serta untuk merencanakan berbagai program pengembangan profesi kebipaan sesuai dengan jenjang pengalaman anggota.
-    Ketua Umum (periode 2010 – 2014) diminta untuk menerbitkan SK kepengurusan bagi anngota yang menjadi pengurus APBIPA.
-    Keanggotaan APBIPA perlu diperluas mencakup keanggotaan lembaga agar lembaga mengetahui jika staf mereka adalah juga anggota APBIPA yang akan memudahkan mobilitas anggota yang sebagian besar bernaung di bawah lembaga (universitas, lembaga kursus, sekolah, dll).
-    Di samping memiliki kartu anggota, asosiasi perlu memikirkan kemudahan-kemudahan yang dapat diberikan oleh  APBIPA kepada anggota, misalnya potongan biaya mengikuti berbagai program yang diselenggarakan oleh APBIPA.
-    APBIPA perlu mendorong dan memfasilitasi pembentukan asosasi lembaga kursus BIPA yang tersebar di berbagai daerah dan kota di Indonesia untuk memperkuat posisi APBIPA dan memudahkan lembaga kursus yang bersangkutan memperoleh akreditasi.
-    APBIPA perlu mendorong terbentuknya Komisariat di tingkat provinsi yang akan benar-benar bekerja untuk menyebarluaskan program BIPA dan sekaligus merekrut anggota di daerah. Akan tetapi, perlu diperhatikan bahwa jangan sampai Komisariat tersebut dibentuk lalu tidak berhasil melaksanakan program-program kebipaan secara nyata.

Pleno 5 – Sekretariat (Pak Dendy)
15.00 – 16.20

-    Pada Munas APBIPA 2010 bersamaan dengan penyelenggaraan KIPBIPA VII di Universitas Indonesia, Depok, disepakati bahwa Sekretariat APBIPA adalah alamat Badan Bahasa, mengingat sekretariat sebelumnya senantiasa berpindah-pindah mengikuti alamat lembaga Ketua Umum (IKIP Bandung dan Untirta, Serang, Banten).
-    Ada kekhawatiran sejumlah anggota tentang alamat Badan Bahasa yang dijadikan alamat sekretariat APBIPA mengingat Badan Bahasa adalah lembaga pemerintah semantara APBIPA adalah asosiasi profesi (lembaga swasta).
-    Bapak Dendy Sugono yang mewakili Badan Bahasa menyatakan bahwa Badan Bahasa masih bersedia kalau sekretariat APBIPA beralamat di Badan Bahasa.
-    Jika memungkinkan APBIPA memiliki meja kerja di salah satu ruangan di Badan Bahasa yang dikelola oleh petugas administrasi yang khusus bekerja untuk kepentingan APBIPA yang memperoleh gaji dari APBIPA.

Rakernas ditutup tepat pukul 16.30 oleh Ketua Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia, Universitas Negeri Malang, Prof. Dr. Suyono, M.Pd.

 

 

Rumusan Hasil Konferensi dan Rekomendasi KIPBIPA VIII

Rumusan Hasil KIPBIPA VIII, 3-4 Oktober 2012

Agar segera diketahui khlayak, berikut adalah Rumusan Hasil dan Rekomendasi KIPBIPA VIII 3-4 Oktober 2012 di UKSW Salatiga. Catatan APBIPA tentang Konferensi ini akan menyusul beberapa hari lagi. Mohon sebarkan dokumen ini kepada pihak-pihak yang berkepentingan untuk ditindaklanjuti sebagaimana mestinya.

Kepada seluruh jajaran Pengurus APBIPA, mohon segera lakukan koordinasi sesuai dengan bidang dan  fungsi Anda masing-masing.

Jika ada pertanyaan mengenai rumusan ini, hubungi Ketua Umum atau Sekjen APBIPA.

Last Updated (DATE_FORMAT_LC2)

 

ELT Training Program for an ESL Volunteer

STIBA Hita Widya and APBIPA Bali recently held ESL training program for Miss Grace Dong, an ESL volunteer from Melbourne, Victoria. Grace joins the volunteer program for one month starting from 9 January to 9 February working with Widya Guna English Course (WGEC) in Mengwi, Badung. A special orientation program was organised to equip her with basic ESL pedagogical skills as well as with information on ELT teaching and learning situation in Indonesia especially in Bali. The orientation was run by STIBA Hita Widya and APBIPA language teaching specialists (Nyoman Riasa, Edy Juniarta, Dian Sawitri and  Yanto Suteja) on 9 January 2012.

Grace is very much interested in Indonesian language and culture and very keen to improve her hands-on experience while she lives in Bali. She is hosted by Bapak Wayan Suarka, Director of WGEC, who isalso  a senior English language teacher in a high school in Denpasar. Grace just completed her secondary education in Fintona Girls’ School, a girl high school in Melbourne, and learnt Indonesian for more than 5 years during her schooling.

The program was divided into several sessions: welcome reception, introduction of the program, a brief discussion of ESL in Indonesian school system, ESL methodology training and dinner with the host family. Upon her arrival in the office, Miss Grace Dong was introduced to all staff members of STIBA Hita Widya and APBIPA Bali.  The session started with an overview of our ESL Volunteer Program continued to an overview of some do’s and don’ts in Indonesian schools.

After lunch the session was taken over by the other language teaching specialists in STIBA through which they introduced fun and interactive teaching techniques, one of the many ways to engage students in English. These techniques included the use of comic strips as a media of teaching English and culture as well as information gap activities of and group works for teaching reading and writing. This was then followed with another technique, i.e. the use of scrap paper to get students fully involved in interactive classroom activities.


We believe that learning English should be fun and, of course, meaningful to students if teachers really would like their students to be totally involved in classroom activities. We also believe, and have proven it in many of our classes, that unless learning activities were interesting and meaningful it would be difficult to engage students in the classroom - a trigger for students to produce (or practice) the newly learnt language forms both in speaking and writing. It is more interesting for us to learn that even a volunteer who is a native speaker of English found all the activities interesting. We hope that they will also be easily applicable in class.

Good luck, Grace, and thank you for helping our students.

 

Last Updated (DATE_FORMAT_LC2)

 

Bahasa Indonesia Immersion Weekend for WA Teachers

On 26-27 May 2012 Balai Bahasa Indonesia Perth (BBIP) conducted an Bahasa Indonesia Immersion Weekend to as part of its professional development activities for the teachers of Indonesian in Western Australia. The Immersion Program was attended by around fifty teachers from Perth and several country towns in the State ranging from Primary to Secondary School teachers of Indonesian. The main presenters in the workshop were Nyoman Riasa and M. Bundhowi of APBIPA Indonesia.

Prior to the workshop Nyoman Riasa spent sometime with some SIDE (The Schools of Isolated and Distance Education) teachers and a trainer from Western Australia Department of Education to have a special training program on online BIPA teaching. APBIPA Bali and Balai Bahasa Indonesia Perth are preparing to deliver online Indonesian language courses for teachers of Western Australia.

The official opening of the program was conducted by Bapak E.D. Syarief Syamsuri, Consul General of the Republic of Indonesia in Perth expressing his greatfulness to Ibu Karen Bailey, the Projects Manager of BBIP. He also indicated that BBIP in conjunction with Western Australia Indonesian Language Teachers Association (WILTA) have been actively involved in a number of programs to strengthen the position of Bahasa Indonesia in WA LOTE programs.

There were two plenary sessions presented during the Immersion program. The first one was on Friday night May 26th by M. Bundhowi who is also the art curator of Museum Rudana in Mas Ubud, presenting a topic on Indonesia beyond the Millenea. Pak Bun (his short name) talked in great length about the history of Indonesia, citing differences sources on the origin of “Indonesia”. Following his presentation was a welcome dinner for the presenters and participants at the SIDE Campus.

 The second plenary was on the Saturday by Nyoman Riasa, representing APBIPA Indonesia who discussed different ways and initiatives to strengthen Indonesia-Australia relation through BIPA programs. He outlined some historical  links between BIPA programs in Western Australia and Bali back in 1998 when for the first time he and Karen Bailey discussed the possibility of establishing a teacher exchange. His presentation was concluded with a recent initiative developed by APBIPA Bali in support of the Directorate of Vocational High School, Ministry of Education in Jakarta through Indonesia-Australia School Attachment Program.

After the two plenary sessions all the participants were then split intro two groups of higher and lower levels proficiency in Indonesia. Participants in the first category joined classes with Bunhdowi or Nyoman Riasa while the rest joined a special class with Pak Adi. It was during these sessions that participants were actively engaged and immersed in Bahasa Indonesia. The facilitators did not only designed classroom activities to immerse participants in the language but they also trained them to improve their awareness on various aspects of Indonesian including grammar and culture.

Following the workshop the facilitators (Nyoman Riasa and M. Bundhowi) headed to different directions for different purposes. Pak Bun was further invited by one of the participants to give a workshop on cartooning to a group of primary school students.

Ibu Janice Dunlop, an Indonesian language teacher from Margaret River Primary School invited APBIPA to visit her school to meet with the students and principal. It is during this visit that Ibu Janice showed us the school organic farms, Indonesian language classroom, kitchen and most importantly was a very special class on collaborative learning. APBIPA is currently helping the school to develop its school partnership with Sekolah Anugerah in Denpasar.

The school is going to host several teachers from Indonesia participating the second phase of the Indonesia-Australia School Attachment  Program in September/October this year.

Apart  from being a facilitator for the workshop and visiting the school, APBIPA was also invited to BBIP Board of Meeting to discuss two forthcoming important activities: 2nd Indonesian Film Festival in Perth and Indonesian Study Tours for School Principals. This group of principals is going to meet with school principals in Denpasar in July this year, coordinated by APBIPA and SMKN 3 Denpasar.


 

Last Updated (DATE_FORMAT_LC2)

 

APBIPA Bali di Lokakarya Metodologi BIPA UNY

Untuk kali pertama APBIPA hadir di kota Yogyakarta dalam rangka lokakarya metodologi pengajaran BIPA bagi guru BIPA. Lokakarya ini diselenggarakan oleh Kantor Internasional Universitas Negeri Yogyakarta, dengan tema khusus meningkatkan keterampilan metodologis para peserta.

Lokakarya ini diikuti oleh sekitar 50 peserta dari Bandung, Bogor, Solo, Yogyakarta, Purwokerto, Semarang serta sejumlah siswa BIPA tingkat mahir dari Korea, Peru, dan China yang semuanya sedang mengikuti program BIPA di Universitas Negeri Yogyakarta.

Lokakarya ini diawali dengan pemaparan secara teoritis berbagai aspek BIPA mulai dari ihwal kebahasaan (linguistic), pembelajaran, keterampilan bahasa sampai dengan ihwal metodologi dan silang budaya dalam BIPA. Setiap paparan teoritis dilanjutkan dengan kegiatan praktik yang bertujuan untuk melakukan sinergi harmonis antara teori dan penerapannya di lapangan (kelas BIPA).

Ada lima fasilitaor dalam lokakarya ini: Prof. Dr. Swarsih Madya (Universitas Pendidikan Indonesia) yang berbicara tentang unsure budaya dalam pembelajaran BIPA. Dr. Felicia Utotorodewo (QITEP     IN Language, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan) yang meneropong rambu-rambu pembelajaran bahasa sing a la CEFR. Yacinta Kurniasih (Monash University) mengulas tentang kondisi pembelajaran BIPA di luar negeri. Pembicara tuan rumah adalah Dr. Pangesti Widarti (Universitas Negeri Yogyakarta) yang menguraikan pengajaran keterampilan menulis.

Pembicara dari APBIPA Bali adalah Nyoman Riasa dan M. Bundhowi. Nyoman Riasa menyajikan materi dengan tema pembelajaran bahasa lisan (menyimak) semengtara M. Bundhowi membawakan materi media pembelajaran BIPA yang dirangkaikan dengan silang budaya dalam BIPA dan penggubaan kartun di kelas BIPA.

Bagian yang paling menarik dari lokakarya ini adalah praktik mengajar dalam format pengajaran mikro yang melibatkan siswa BIPA dari Afrika, Papua Nugini, dan Laos. Para peserta dibagi ke dalam beberapa kelompok kecil. Selanjutnya, setiap peserta melakukan kegiatan pengajaraan mikro di kelompok amsing-masing.

Anggota dari setiap kelompok kecil lalu melakukan pemilihan terhadap kegiatan praktik yang paling baik menurut pendapat mereka. Akhirnya masing-masing dari peserta ‘terbaik’ ini akhirnya melakukan demonstrasi mengajar di dahadap seluruh peserta.

Dalam sesinya Nyoman Riasa, selalu Ketua Umum BIPA Indonesia menghimbau kepada seluruh para peserat untuk memikirkan pembentukan APBIPA Yogyakarta yang akan menjadi wadah atau alat pemersatu para pengajar BIPA di Yogyakarta dan sekitarnya. Dengan demikian, para pengajar BIPA mandiri senantiasa mendapatkan pembinaan dari APBIPA dan lembaga mitranya.

Turut berpartisipasi dalam lokakarya ini adalah Balai Bahasa Yogyakarta yang menyelenggarakan tes Uji Kemahiran Bahasa Indonesia bagi para peserta.
 

Last Updated (DATE_FORMAT_LC2)