Print this pageEmail this to someoneShare on LinkedInShare on Google+Share on Facebook

Category Archives: Berita

GEDUNG Achmad Sanusi, Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung, 4 Desember 2014. Sejak pukul 10:00 WIB, gedung ini telah dipenuhi oleh lebih dari enamratus orang. Umumnya mereka mahasiswa dengan pakaian yang rapi. Sejumlah orang yang duduk di kursi barisan depan terlihat mengenakan setelan jas atau blazer. Mereka adalah peserta Lomba Presenter Berita Akademi Indosiar. Sebuah acara yang diselenggarakan oleh Stasiun TV Indosiar, bekerjasama dengan Departemen Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Pengetahuan Sosial, Universitas Pendidikan Indonesia.

Di salah satu kursi, tampaklah seorang peserta perempuan sedang membaca beberapa kalimat di layar telepon pintarnya. Ia menghapal kalimat yang mesti diucapkan ketika mendapat giliran nanti. Namanya Lu Ying Xuan, mahasiswa asing yang berasal dari Tiongkok. Kepada Kim, temannya dari Korea, Lu Ying Xuan mengatakan bahwa ia merasa gugup.

BIPA-UPI-2Selain Lu Ying Xuan, mahasiswa asing dari Tiongkok lainnya adalah Huang Meng Jiao dan Wang Qun. Ada juga Jeffrey Alexius Brandes (Belanda), Le Thi Ha (Vietnam), Minami Ninagawa (Jepang), dan Patricia Dorn (Jerman). Mereka juga mengikuti lomba tersebut. Mereka adalah para mahasiswa asing yang sejak September lalu belajar bahasa Indonesia di Balai Bahasa, Universitas Pendidikan Indonesia. Saat ini mereka belajar di tingkat menengah satu.

Menurut Bapak Vidi Sukmayadi, dosen kelas menengah satu, lomba ini merupakan ajang untuk melatih keterampilan berbicara sekaligus mengasah keberanian para mahasiswanya untuk berbicara dalam bahasa Indonesia. Beliau menjelaskan, persiapan dan latihan dilakukan selama empat hari.

Mulanya, mahasiswa diajak menyaksikan beberapa berita di televisi. Dengan demikian, mereka dapat mengetahui dan mempelajari cara presenter ketika membuka dan membacakan berita. Hal-hal yang mereka pelajari meliputi pemilihan kata, artikulasi, dan tempo pada saat berbicara. Setelah itu, mahasiswa mulai berlatih sambil mendapat bimbingan dari dosen. Mahasiswa juga dibebaskan untuk memilih dan mengadaptasi salah satu gaya presenter di televisi.
Aksen khas bahasa pertama para mahasiswa ini menjadi kendala ketika mereka melatih pelafalan disertai intonasi yang tepat, sebagaimana pembaca berita di Indonesia pada umumnya. Namun, hal tersebut tidak menjadi halangan bagi mereka untuk tetap mengikuti lomba. “Kegiatan pembelajaran berbicara yang selama ini diterima di kelas juga menjadi bekal mereka dalam mengikuti lomba ini,”tutur Pak Vidi.

Sementara itu, berbeda dengan Lu Ying Xuan, Minami Ninagawa mengaku tidak terlalu gugup. “Semua penonton memberi semangat kepada saya. Jadi saya bisa tampil sambil tersenyum”, ujar mojang Jepang ini.
Demikian pula yang dirasakan oleh Le Thi Ha. Ia bahkan tidak merasa gugup sama sekali karena merasa pasti kalah jika harus bersaing dengan peserta dari Indonesia. Hal ini membuatnya merasa tak punya beban apapun. “Saya pikir saya pasti kalah. Jadi tidak apa-apa. Santai saja”, ujarnya dengan bahasa Indonesia yang lancar. Namun, ternyata sikap tenang Le Thi Ha itulah justru yang mengantarnya ke babak final. Selain Le Thi Ha, Huang Meng Jiao (Tiongkok) juga berhasil masuk ke babak final dalam lomba tersebut.

Hal ini merupakan kebanggaan tersendiri, baik bagi para mahasiswa maupun bagi Balai Bahasa, UPI. Pak Vidi mengatakan, baru kali ini ada mahasiswa BIPA (Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing) yang mengikuti Audisi Presenter Indosiar. “Ini hasil kerja keras mereka”, ujar beliau dengan wajah bahagia.

Kesempatan yang jarang ini juga menjadi pengalaman yang berharga bagi para mahasiswa asing tersebut. “Kami merasa sangat beruntung”, ujar Lu Ying Xuang. Ketika ditanya, hal apalagi yang berkesan dari pengalaman mengikuti lomba ini, Lu menjawab bahwa ia menyukai suasana lomba di Indonesia. “Selalu ramah dan ramai!” ujarnya.

Suasana ini berbeda dengan suasana lomba yang ia rasakan sebelumnya. Biasanya lomba sangat serius, sehingga ketika melakukan kesalahan peserta akan menjadi lebih gugup. “Tetapi di sini, meskipun salah, tidak apa-apa”, ujar Lu yang juga senang karena dapat bertemu langsung dengan Walikota Bandung, Ridwan Kamil, dalam acara lomba tersebut. **

— Ellis Artyana – Pengajar BIPA Balai Bahasa UPI

Web-KIPBIPA-Call-for-Papers-Eng-1PERMINTAAN ABSTRAK (Call for Papers) untuk KIPBIPA ke 9 di Denpasar-Bali: 30 September – 2 Oktober 2015 … Kepada pengajar, dosen, pengelola program BIPA serta pemerhati dan pencinta BIPA. … Panitia Pelaksana Konferensi Internasional Pengajaran BIPA (KIPBIPA) ke 9 dengan ini mengundang Bapak/Ibu/Saudara dan teman-teman semua untuk mengirimkan abstrak untuk dibentangkan pada Konferensi BIPA paling akbar di Indonesia. Pengiriman abstrak dan pendaftaran sebaga peserta dapat dilakukan melalui pos-el (e-mail) ke nriasa@apbipaindonesia.org tembusan ke nriasa@apbipabali.org. ATAU melalui daring (online) pada laman KIPBIPA – http://kipbipa9.apbipaindonesia.org.Panitia juga akan mengirimkan undangan secara khusus melalui email. Kepada para sahabat BIPA, mohon bantuan untuk menyebarluaskan informasi ini. … Salam BIPA Indonesia.

lokakarya-penyusunan-kurikulum-bipaPertanyaan tentang kurikulum nasional BIPA sudah menjadi terdengar sejak berlangsungnya KIPBIPA ke 2 di Padang pada tahun 1996. Selanjutnya, pada setiap forum BIPA di Indonesia hal ini senantiasa dipertanyakan dan jawabannya selalu sama – masih dalam proses alias tidak ada.

Lokakarya kali ini tentu belum juga mampu menjawab secara tuntas pertanyaan di atas, tetapi forum ini telah merupakan langkah nyata yang sangat maju bagi Indonesia. Seluruh pegiat BIPA sangat berharap bahwa tidak lama lagi Indonesia akan memiliki dokumen yang akan dijadikan rujukan secara nasional bagi pengembangan BIPA. Untuk itu, diperlukan kesadaran untuk saling bekerja sama antarpemangku kepentingan BIPA di Indonesia.

Sebagai pegiat BIPA, sejak awal perkenalan saya percaya bahwa BIPA akan menjadi sesuatu yang sangat strategis bagi Indonesia. Saya kini melihat konsistensi pada hampir semua pegiat BIPA. Saya masih bertemu dengan sahabat yang telah lama melibatkan diri mereka dalam BIPA dan kini saya melihat lebih banyak lagi wajah-wajah baru dan penuh dedikasi untuk menekuni profesi BIPA.

Saya juga merasakan dengan sangat jelas tujuan mereka – semuanya untuk Indonesia dan Bahasa Indonesia. Saya senantiasa terharu melihat perjuangan mereka. Oleh karena itu, Indonesia harus bangga memiliki pejuang BIPA yang dengan cara mereka sendiri mengejawantahkan makna Sumpah Pemuda 1928 – janji suci pemuda Indonesia kala itu demi kesatuan dan persatuan Indonesia. Saya juga merasakan peran pemerintah yang semakin besar untuk mengambil langkah-langkah strategis dalam pengembangan BIPA di tanah air.

Terima kasih kepada semua sahabat BIPA di manapun Anda berada

View Desktop Site