Print this pageEmail this to someoneShare on LinkedInShare on Google+Share on Facebook

Category Archives: Berita

GEC 9Pada 23-29 November 2015 APBIPA Bali melalui mitra kerjanya, Green School Bahasa, diberikan 5 beasiswa penuh oleh Green School untuk mengkuti Green Educator Course – sebuah program intensif untuk melatih guru-guru dari berbagai negara tentang pendidikan berbasis konsep ‘Hijau dan Keberlanjutan’ – Green and Sustainability. Pelamar yang telah lulus untuk menerima beasiswa ini adalah: Lina Kartasismita (Jakarta), Niknik M. Kuntarto (Jakarta), Tiara Tirtasari (Yogyakarta), Gede Primantara dan Pande Agus Adiwijaya (Bali). Inilah oleh-oleh yang dihimpun oleh Ibu Niknik untuk kita semua – untuk Indonesia.


7 Simpul Kenangan – 70 Jam di Green School, Bali-Indonesia

Oleh: Niknik M. Kuntarto

Simpul ke-1: Green School Dunia Baru
GEC 2Kesan pertama tiba di Green School, Bali, Indonesia. Sesuatu yang tidak biasa kunikmati dari balik mobil yang mengantarkanku ke Green School. Hilir mudik mobil datang dan pergi usai menurunkan anak-anak yang superlucu seperti boneka barbie meskipun rambutnya yang berwarna cerah dan kusut tampak baru bangun tidur. Sedikit kubuka kaca jendela mobil. Kucuri dan kunikmati suara-suara lucu dan riang. “Take care, honey!” ucap seorang ibu muda berpakaian minimalis yang langung dijawab dengan manja oleh pemilik bibir merah nan mungil sang buah hati, “Thank you, Mom!” Kulihat anak kecil itu melangkah sambil sesekali berlari. Ada sesuatu yang lebih aneh. Hanya memakai sandal jepit! O ooow!!

Kuikuti langkahnya yang pendek-pendek hingga ia disambut oleh petugas berseragam baju tradisional Bali, lengkap dengan udeng di kepalanya. Hmm… sayang sekali, sejak awal kami sudah diberi tahu bahwa setiap peserta diperbolehkan memotret, tetapi tidak saat ada anak-anak sekolah. Kutelepon Ibu Lina, salah satu peserta dari Indonesia. Kubisiki agar ia bersedia membantuku dalam kelancaran berkomunikasi selama mengikuti kegiatan di Green School. “Iya, kita saling bantu,” responsnya dengan lembut dan penuh keibuan. Hmm… setelah bertemu dengan orangnya sungguh di luar dugaan, sangat bergaya dan berjiwa muda!

Seseorang yang tinggi, langsing, berambut pirang, dan cantik menyambutku dengan ramah. “Hallo, welcome to Green School, my name is Sanne. What’s your name?” Kujawab, “Hallo, thank you, my name is Niknik. Nice to meet you!” Bla bla bla… akhirnya, kami diberi goody bag dan diantarkan ke rumah pohon yang terbuat dari bambu. Sungguh indah dan berkarakter. Semua bahan dan ornamen terbuat dari bambu. Aku diminta memilih kubik tempat tidur yang tersusun indah dan rapi. Kulemparkan pandangan mata ke sekeliling. Perpaduan yang indah antara ornamen bambu dan warna putih bersih sprei dan kelambu. Ingin rasanya segera kubaringkan tubuh ini, tapi aku harus segera bergabung dengan peserta lainnya.

Hmm… rasa berdebar kembali menguak. Namun, tiba-tiba terngiang suara Ibu Selvie, Uni Dhona, Kakak Audi, Kakak Ros, Pak Agus Kang, dll! Bu Niknik, you can do it! You can do best! Ok ok ok I will do it! Akhirnya, dengan rasa percaya diri, kumasuki dunia yang sangat baru bagiku, masuk dan bergaul dengan peserta dari 14 negara. Hmmm… tiba-tiba ingat Pak Nyoman, sang pemberi beasiswa yang penuh tantangan. Huuuufffss…. siapkan mental dan fisik, saya yakin Bu Niknik bisa melewatinya! Ok ok Pak Nyoman…! Terima kasih atas kepercayaan ini!

Akhirnya bergabunglah aku di antara mereka yang ternyata sangat baik dan ramah. Kami pun saling berkenalan. Ada Flavia dari Brazil, Christine dari Australia, Bhritney dari Amerika, Emma dari Canada, Kristina dari Amerika, Mary dari Amerika, May dari Filipina, Live dari Norwegia, Lana dari Canada, Pratik dari Nepal, Amina dari India, Jeane dari Hongkong, Liz dari Australia, Kelly dar Itali, Gemma dari Spanyol, Steve dari Australia, Nicky dari Filipina, Nicky dari Thailand, dan lain-lain. Satu keindahan lain adalah bertemu dengan 7 peserta dari negeri sendiri. Selain Ibu Lina dari Jakarta, ada juga ada Tiara dari Yogya, Mara dari Jember, Emma dari Jakarta, Ferry dari Kalimantan, dan Prima serta Pande dari Bali. Kini, kami mengadakan “tour around campus” dibimbing oleh Cris dari Canada.

Green School adalah keindahan alam Indonesia. Tangan-tangannya yang lincah dan cerdas Effan Adhiwira, arsitektur muda lulusan Universitas Gajah Mada, Yogyakarta, telah behasil menerjemahkan imajinasi, cita-cita, dan harapan John Hardy, sang pemilik Green School. Lahirlah sekolah alam yang merupakan cerminan dari Trihita Karana, keseimbangan hidup manusia dengan Tuhan, manusia dengan manusia, dan manusia dengan alam.

“Green school is school without walls and this is metaphor for teaching philosophy”. Setiap ruang kelas tanpa dinding pemisah antara kelas yang satu dengan yang lain, antara ruang kelas dan alam. Semua menyatu padu dengan alam. Setiap karya peserta didik dipamerkan bukan di dinding, melainkan digantung dengan manis di setiap sudut manapun yang dapat dinikmati dari berbagai sudut. Dinding-dinding hasil pendidikan itu bukanlah ada pada dinding ruang kelas, melainkan ada pada dinding hati setiap peserta didik.

Green School adalah jembatan bagi anak-anak untuk memasuki kehidupan nyata. “Sustainable”Hidup itu akan selalu berkelanjutan dan berkesinambungan. Butuh kerja sama untuk memikirkan dan menyelamatkan bumi dan alam semesta. Green School adalah jembatan sustainable. Sejak dini anak diperkenalkan pada keseimbangan hidup dengan konsep “Compass Model”, yakni Nature, Social, Economic and Well being.

Green School adalah…. Green School adalah… begitu banyak penglaman dan pengetahuan yang kudapatkan. Green School adalah sumber pengetahuan. Pengetahuan tentang kurikulum. Green School adalah pengetahuan tentang daur ulang. Pengetahuan tentang cinta alam. Green School itu inspirasi. Green school itu tempat makanan sehat. Green School itu tempat untuk berkreasi. Zaman dulu orang mencari emas di pertambangan. Kini, orang mencari emas di dalam diriya sendiri, itulah kreativitas. Kreativitas adalah emas. Seorang guru BIPA atau guru apa pun haruslah memiliki kreativitas dalam mengajar. Green School itu “dari kita untuk kita” Kembali ke alam apa yang sudah kita buang selalu akan berguna dan kembali kepada kita menjadi sesuatu yang bermanfaat. Kul Kul Farm, importance of knowing and growng clean food. Growing food for nutrition, edible gardens. Green School itu adalah keindahan alam Indonesia.

Simpul ke 2: Belajar Teori Belajar

GEC 3Mata salah satu peserta ditutup. Peserta lain menuntun dan mengirimkannya kepada peserta lain dengan isyarat tertentu. Peserta yang menerima isyarat menyambut peserta yang tertutup matanya. Peserta yang tertutup matanya tidak tahu arah tujuannya. Saat tersesat itu, seseorang menyambutnya, menyentuhnya, memegangnya, dan mengarahkannya ke tujuan yang sesungguhnya. Itulah pendidikan, memberi asah, asuh, dan asih kepada anak didik agar ia dapat menemukan dirinya dan dapat mencapai tujuannya. Belajar itu akan berhasil bila dilalui dengan jalur pendidikan yang kokoh dan baik. Pendidikan itu akan kokoh dan baik bila memiliki pondasi yang kuat. Ia bagaikan rumah yang memiliki tiang-tiang yang kokoh dengan pondasi yang kuat. Bila salah satu tiang retak, ambruk, dan hilang, rumah itu pun akan hancur. Kurikulum sebagai pondasi haruslah dirancang berdasarkan kebutuhan dan analisis situasi.
Itulah gambaran bagaimana setiap peserta belajar tentang teori belajar dengan sangat menarik. Selain itu, setiap peserta juga belajar bahwa belajar itu seni. Melalui metode drama, bahasa dapat diajarkan sebagai pembelajaran yang menarik. Belajar itu harus menyenangkan.

Belajar itu harus mengalami sendiri dan belajar itu kembali ke alam. “Jalan-Jalan” adalah program belajar yang dikembangkan oleh Green School. Setiap siswa mengikuti kegiatan sesuai dengan minat. Ada kegiatan memasak makanan Indonesia seperti sate ayam, urab, dan sambal matah. Ada juga yang mengikuti kerajinan tangan dengan bahan bambu. Ada juga yang mengikuti kegiatan daur ulang. Sangat menyenangkan! Belajar itu harus mengalami. Siswa Green School mengikuti Program “Jalan-Jalan”, belajar dengan mengalami sendiri.

Belajar itu berbagi. Di awal pertemuan, menurut Christyn dari Australia sangat baik bila membiasakan murid berbagi 3C, Care, Concent and Celebration. Begitu banyak yang kami pelajari di Green School, terutama tentang teori belajar yang berkesinambungan dan berkelanjutan dengan metode yag menarik dan menyenangkan.

Bagaimana dengan pembelajaran BIPA di Green School? Senang sekali dapat berdiskusi dengan Ibu Dian, salah satu pengajar Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (BIPA). Bahasa Indonesia diajarkan di Green School selama 4 – 6 jam seminggu dan diikuti oleh seluruh siswa Green School. Bahkan, guru-guru di Green School juga belajar bahasa Indonesia. Oh ya? Senang sekali! Siapa gurunya? Hmm… siapa lagi kalau bukan Bapak BIPA Indonesia! Tak heran, beberapa instruktur Green Educators Course mahir berbahasa Indonesia! Syukurlah… memang bahasa Indonesia harus menjadi tuan rumah di negeri sendiri!

Simpul ke 3: Bersahabat dengan Alam

GEC 4“Green School explores the meaning of education for sustainability as a means to develop one’s own vision and set of goals within their own sustainability lens. And then, Green School also gains experience with various methodologies and tools for: how to integrate and collaborate with the local community in a meaningful way and how to effectively build a project-based project and sustain it! Amazing.!”

Seperti yang disampaikan oleh John Hardy, pemilik Green School, bahwa kita hidup di alam sehingga harus berbaur dengan alam. Memang benar! Selama mengikuti kegiatan di Green School, harum alam itu setiap saat memanjakanku. Harum alam itu setiap detik memberi inspirasi kepadaku untuk melakukan banyak hal demi Indonesia. Harum alam itu memberi kesempatan kepadaku dan teman-teman untuk berdiskusi tentang masa depan Indonesia! Sungguh indah berdiskusi menarik bersama Ferry, Sasti, dan Victor di halaman Bambu Indah, kediaman nan asri Bapak John Hardy, pemilik Green School. Harum alam itu keindahan Indonesia, Negeri kita tercinta!

Ayo berubah Ayo berubah Bye bye plastic! Bye bye plastic! Kampanye itu didengungkan oleh warga Green School dengan lantang di sepanjang Pantai Canggu nan indah! Tahukah Anda berapa lama waktu yang diperlukan agar plastik yang kita buang dan tertanam di dalam tanah? 50- 100 tahun! Renungkan! Apakah Anda masih mau membuang sampah plastik sembarangan? Ayo berubah! Itulah pembelajaran berharga dari kegiatan yang kuikuti. Kembali ke alam dengan tidak menggunakan plastik!

Setelah kami berusaha mengakrabkan diri dengan alam, menjadi petani yang baik, memakan nasi dan sayur-mayur yang asli dari kebun, meminum buah kelapa dengan sedotan dari tangkai pohon pepaya, mencoba menanam pohon, memanjat pohon kelapa, dan berdiskusi tentang refleksi diri bersama dengan Maria dan Orin, pria Canada yang fasih berbahasa Bali, saat kembali ke Green Camp Lodge, kami biasa melewati jembatan beratapkan seperti rumah Minang dengan air yang mengalir jernih bersorak-sorai melewati batu-batu besar. Saat itulah keindahan mencolok di depan mata kami. Jembatan tadi telah disulap menjadi ruang makan yang indah dan romantis. Oh…. My God! I am grateful to My God. It’s really very beautifull…!

Simpul 4: Dari Alam Kita Belajar Budaya dan Tradisi Bali

GEC 6Wow wow wow! Unbelieveable! Wonderful! Amazing! I will always remember this memory. Honestly, that was a sweet togetherness! Love you all! Thank you Green School! Thank you APBIPA Bali! Woooow!!! Dahsyaaaaatttt banget!!! Ungkapan-ungkapan kegembiraan selalu mewarnai perjalanan kegiatan setiap peserta. Apalagi setelah bermain bersama dalam lumpur dan seni: mepantigan!
Berawal dari Green Camp dengan menaiki bus berbahan bakar minyak jelantah, lalu kami diperkenalkan dengan Subak, sistem irigasi dalam masyarakat Bali. Sambil memunguti sampah plastik, kami harus menuruni lembah, jurang, melewati sungai, menyeberang derasnya aliran sungai dengan saling bergandeng tangan. Menelusuri sungai tidak hanya sambil berdiri, bungkuk,, jongkok, tetapi juga dengan merangkak, menelungkup di bawah gua dengan langit-langit yang rendah, bahkan berserah diri pada alam agar hanyut terbawa arus hingga tiba di satu titik yang terang: alam terbuka dengan keindahan mahadahsyat! Subhanallah!!! Thank God!! Thank all…! Ferry, Mara, Jeane, Sanne, Lana, Tiara, Emma, Gemma, Syeve, Britney, Mira, Kandis, Christine, Cristina, Liz, Nicky, Nicky, Pratik, Pande, Prima, Lina, May, and Kelly. I am grateful for the kindness and togetherness…! Wow!

Keesokan harinya, kami mengikuti kegiatan perayaan umat Hindu, yakni Saraswati. Saraswati adalah perayaan untuk memperingati turunnya Ilmu Pengetahuan dengan memberi penghormatan kepada Dewi Saraswati. Perayaan ini dilakukan setahun dua kali atau setiap enam bulan sekali (210 hari) menurut kalender Bali. Semua peserta memakai baju tradisional Bali yang cantik dan indah. Mereka turut merayakan Hari Saraswati. Sungguh mengagumkan!! Inilah salah satu kekayaan khasanah budaya Bali dan Indonesia yang patut dilestarikan. Ayo daerah-daerah lain di Indonesia bangkitlah! Tunjukkan kekhasanmu dan perlihatkan pada dunia dengan bangga agar Ibu Pertiwi tersenyum manis!

Simpul ke 5: Trihita Karana, Hakikat Hidup

GEC 7Kini langkahku hampir tiba di ujung jalan. Begitu banyak pembelajaran hidup yang kuterima. Aku seorang muslim dan aku belajar menerapkan bahwa dalam hidup ini haruslah ada keseimbangan, yakni selalu menjaga hubungan manusia dengan Tuhan dan menjaga hubungan baik manusia dengan manusia serta makhluk hidup lainnya. “hablumminallah dan hablumminannas.

Di Bali, di Green School, keyakinanku bertambah kuat bahwa semua agama sama, mengajarkan hal yang baik. Dalam ajaran Hindu, diyakini bahwa terdapat tiga hubungan yang baik dalam hidup ini agar terwujud keharmonisan hidup.: hubungan manusia dengan Tuhan; hubungan manusia dengan manusia; dan hubungan manusia dengan alam. Inilah yang dinamakan Trihita Karana.

Di Green School, semua peserta dengan indah dapat bergaul dan berhubungan mesra dengan Tuhan, sesama peserta, dan alam. Setiap pagi sebelum memulai aktivitas, kami berkumpul bersama mengelilingi kristal indah bertaburan bunga dengan semerbak harum dupa. Di setiap kegiatan, konsep “kembali ke alam” diperkenalkan terus-menerus kepada peserta.

Dari hulu, menelusuri alam, menyeberang sungai, melintas aliran, melawan arus, menuju hilir. Itulah hidup. Untuk mencapai cita-cita dibutuhkan perjuangan yang hebat. Hai, Indonesia! Terima kasih untuk semua keindahanmu! Desaku yang kucinta, pujaan hatiku…! Alam nan indah memberi kami kesempatan untuk berdiskusi tentang cara membuat Ibu Pertiwi tersenyum.

Simpul ke 6: The World is Just One

GEC 8Hubungan di antara peserta bukan lagi hubungan pertemanan, melainkan lebih dari itu, kini kami menjadi saudara dalam keluarga besar dunia. Dunia kita hanya satu. Satu untuk semua. Semua untuk satu. Green School tempat narsis bersama. Dengan berbagai pose, kami mengabadikan setiap peristiwa. Setiap keceriaan. Setiap kebersamaan. Setiap keseruan. Kini, ingin kuberucap kepada teman baru, sahabat baru, dan saudara baru:

Thank you so much. I am so and very happy. I am speaking English now. heheheh…. I dont know if my sentence is correct or not? But, I hope you can understand. Before I came to Green School I never had courage to speak English. I thought English was not important for me. Hmm… bahasa Indonesia is very important for me. I always had a feeling I could not speak English well. Until now my English is not very good. I always think very hard to speak English. I think that I have had my ‘bahasa ego’. But, now, I am sure that no students are stupid, but they have not found their good teachers. I want to say that I have found my good teachers. The good teachers are you, you, you, and everybody in here atGreen School.
Thank you so much and love you all: Pak Nyoman Riasa , Nina, Ibu Sanne, Pak Chris, Noan, Jackie, Glenn, Camilo, Pak Ewe Jin, Tina, Nicola, Jen, Sarita, Noan, Ibu Dian, Aaron, Sara, Agung Alit and Tim, Baptise, Linsey, Josh, Yeshi, Dian Rachel, Maria, Orin, Driver, Ibu Kadek, Cindy, Brett, Putu Witsen, Sastri, Vicktor, Ibu Lina, Mara, Tiara, Prima, Pande, Ferry, Ema, Liz, Cristyn, Cristina, Emma, Gemma, Kelly, Kandis, Marchel, Pratik, Britney, Amina, Jeane, Live, Steve, Nicky, Nicky, May, Flavia, Mari, and all. The world is just one. One for all. All for one! Ciaaaaattttt!!! Thank you and love you all more and more!

Simpul ke 7: Semua Keindahan ini Berawal dari BIPA

aquaphonic“Saya pikir orang Indonesia yang mau memikirkan nasib bangsa Indonesia melalui bahasa Indonesia adalah Riasa Nyoman,” itulah komentar David T. Hill,President ACICIS, di suatu diskusi kecil bersama Ibu Bertha dan Bapak Amby Priyonggo sore itu di langit cerah Semanggi. Hmm… memang benar! Sangat benar! Semua keindahan ini bermula dari seorang pria berwibawa, Pak Nyoman Riasa yang telah memperkenalkan BIPA kepadaku dengan indah. Bukan hanya metode-metode mengajar, materi aja, media ajar, atau manajemen BIPA saja yang diajarkan kepadaku, melainkan lebih dari itu: BIPA sebagai wahana pencurahan cinta dan bangga pada Indonesia. Memartabatkan bahasa Indonesia, berarti memartabatkan bangsa Indonesia!

Terima kasih, Pak Nyoman Riasa. Kesempatan beasiswa dari APBIPA Bali telah menambah keyakinanku untuk selalu berbuat yang terbaik bagi Indonesia melalui BIPA! Melalui BIPA Dahsyat, melalui Kampung Bahasa “Bloom Bank” Terima kasih telah memperkenalkan Green School kepada saya dan empat orang lainnya yang istimewa Ibu Lina, Tiara, Pande, dan Prima. Semoga semua kisahku selama di Green School menginspirasi teman-teman para pegiat BIPA lainnya untuk mendapatkan kesempatan yang sama. Green School itu Indonesia! Sungguh indah! (NMK)

LAPORAN PENYELENGGARAAN:
KONFERENSI INTERNASIONAL PENGAJARAN BAHASA INDONESIA BAGI PENUTUR ASING (KIPBIPA) IX
Denpasar-Bali, 30 September – 2 Oktober 2015

A. Pengantar

SAB 2Laporan ini merupakan bagian akhir dari rangkaian pelaksanaan Konferensi Internasional Pengajaran BIPA bagi Penutur Asing (KIPBIPA) yen ke 9. Sampai hari ini, KIPBIPA merupakan forum paling beesar yang berhubungan dengan ihwal pengajaran Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (BIPA) baik yang ada di Indonesia maupun di luar negri.

Persiapan pelaksaan KIPBIPA IX didahului dengan pengiriman proposal kegiatan oleh Tim APBIPA Bali kepada Ketua Umum APBIPA Indonesia. Proposal itu disampaikan 3 bulan setelah pelaksanaan KIPBIPA VIII di Salatiga pada 1 -4 Oktober 2012. Setelah itu APBIPA Indonesia melaksanakan seleksi dan penilaian terhadap semua proposal yang masuk dan akhirnya proposal APBIPA Bali diterima dan APBIPA Bali ditetapkan sebagai tuan rumah KIPBIPA IX.
B. Nama Kegiatan

“Konferensi Internasional Pengajaran Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (KIPBIPA) IX”
C. Tema Konferensi

SMKN 3 1“Indonesia: Bumi Dalam Transisi: Globalisasi, Multikulturalisme dan Strategi Pengembangan Pengajaran BIPA”
Tema sentral ini dibagi menjadi beberapa sub-tema:
– BIPA dalam penyusunan strategi dan kebijakan internasional dalam percaturan politik global
– Pengajaran BIPA dalam tantangan global dan multikulturalisme nasional dan internasional
– Transisi di Indonesia – memanfaatkan momentum bagi pengembangan BIPA
– BIPA dan sinergi lintas disiplin
– BIPA dan sinergi lintas studi keindonesiaan
– Pengembangan dan pengajaran BIPA di sekolah internasional
– Perkembangan pembelajaran BIPA terkini: metodologi, linguistik, dan, lintas budaya
– Konsorsium BIPA Indonesia dalam rangka standarisasi program dan profesi ke-BIPA-an
– UKBIPA: laporan terkini
– Laporan BIPA terkini berbasis penelitian
D. Penyelenggara, Tempat dan Tanggal Kegiatan

Seluruh kegiatan mulai dari perencanaan sampai dengan pelaksaaan KIPBIPA IX dilaksanakan APBIPA Bali: Education for Empowerment dan seluruh rangkaian kegiatan konferensi diselenggarakan di Hotel Harris Sunset Road, Jalan Pura Merta Sari, Sunset Road – Kuta – Bali.

Kegiatan dimulai dengan acara Makan Malam Bersama untuk seluruh pemakalah sidang pleno dan paralel, peserta, dan panitia Konferensi pada hari Selasa, 29 September 2015 dan kegiatan persidangan dilaksanakan pada 30 September – 2 Oktober 2015.

Persidangan KIPBIPA IX diawali dengan Upacara Pembukaan Konferensi secara resmi yang dilakukan oleh Wakil Gubernur Bali, Bapak I Ketut Sudikerta yang ditandai dengan pemukulan gong sebanyak 3 kali. Pembukaan oleh Wakil Gubernur ini ditandai dengan sebuah pernyataan politis bahwa seluruh tenaga kerja asing yang bekerja di Bali wajib memiliki tingkat kemahiran Bahasa Indonesia yang disambut gembira oleh seluruh peserta Konferensi.

Upacara pembukaan KIPBIPA IX diawali dengan doa yang dipimpin oleh petugas dan dilanjutkan dengan lagu Indonesia Raya yang dpimpin oleh Michael Jakarimilena (Miki J) salah seorang finalis Indonesian Idol Season 1 yang dilanjutkan dengan sejumlah pidato dan sambutan: Laporan Ketua Panitia (M. Bundhowi); Sambutan Kepala Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kemendikbud yang diwakili oleh Kepala PPSDK, Prof. Dr. Emi Emilia – sekaligus sebagai Pembicara Utama; dan Ketua Umum APBIPA Indonesia (Nyoman Riasa).

KIPBIPA IX menampilkan 9 Sidang Pleno dengan 17 pembicara sebagai berikut:

BIPA Indonesia
1. Prof. Dr. Dendy Sugono APBIPA Indonesia
2. Nyoman Riasa APBIPA Indonesia
3. Dr. Widodo Hs. Universitas Negeri Malang
4. Dr. Ni Putu Tirka Widanti Green School, Bali

BIPA Asia
5. Robertus Pujo Leksono Universitas Naresuan, Thailand
6. Prof. Cai Jincheng Guangdong University of Foreign Studies, China
7. Dr. Felicia N. Utorodewo SEAMEO QITEP in Language, Jakarta

BIPA Australia
8. Prof. George Quinn Australian National University, Canberra
9. Prof. David T. Hill ACICIS (Australian Consortium for In-Country Indonesian Studies, Perth
10. Prof. Ismet Fanany Deakin University, Melbourne
11. Karen Bailey Balai Bahasa Indonesia Perth
12. Tata Survi Balai Bahasa dan Budaya Indonesia Victoria & Tasmania, Melbourne
13. Jennifer Hayes Point Cook College, Melbourne

BIPA Amerika
14. Dr. Juliana Wijaya Universitas California LA, USA
15. Dr. Gyanam Mahajan Universitas California LA, USA

BIPA Amerika
16. Prof. Habib Zarbaliyev Azerbaijan University of Languages
17. Dr. Lany Probojo Karl-Ruprechts Universitaet Heidelberg, Jerman

Judul abstrak Sidang Pleno dapat dilihat pada Lampiran 2.

Selain Sidang Pleno, sebagai akhir kegiatan persidangan adalah Diskusi Panel yang menampilkan pembicara yang terdiri dari: Prof. Dr. Suyono (perwakilan BIPA Indonesia), Prof. George Quinn (perwakilan BIPA di Australia), Dr. Ganjar Hwia (mewakili Badan Bahasa), Prof. Habib Zarbaliyev (perwakilan BIPA di Eropa), dan Dr. Liliana Muliastuti (APBIPA Indonesia) dengan moderator Saudari Frances Sinanu, BIPA Universitas Kristen Satya Wacanan, Salatiga.

Sejumlah 107 abstrak telah lulus seleksi yang selanjutnya dibagi menjadi 36 slot sidang parallel. Setiap slot sidang parallel terdiri dari 7 sidang dan berangsung selama 1,5 jam. Distribusi sidang parallel setiap hari adalah sbb:
Hari 1 : 30 September – 2 slot waktu dengan 14 sidang paralel menampilkan 42 makalah
Hari 2 : 1 Oktober 2015 – 3 slot waktu dengan 21 sidang paralel menampilkan 51 makalah
Hari 3 : 2 Oktober 2015 – 1 slot waktu dengan 7 sidang paralel menampilkan 14 makalah

Para pemakalah Sidang Paralel berasal dari 56 lembaga penyelenggara BIPA: universitas negeri dan swasta, sekolah, non-formal, perusahaan, dan pengajar BIPA mandiri. Sementara itu Peserta biasa (yang tidak menyajikan makalah) berjumlah — berasal dari 46 lembaga penyelenggara BIPA di perguruan tinggi, instansi pemerintah, dan pengajar BIPA mandiri. Jumlah seluruh peserta KIPBIPA IX adalah: 185 pemakalah siding paralel, 17 pemakalah siding pleno, 35 peserta biasa, dan 25 orang panitia.

(Daftar pemakalah dan peserta dilihat di tautan ini:http://i0.wp.com/kipbipa9.apbipaindonesia.org/assets/uploads/2015/09/150923-Daftar-Lengkap.jpg

Dua agenda penting Konferensi selain seluruh rangkaian adalah Malam Budaya yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari setiap program BIPA dan Musyawarah Nasonal (Munas) APBIPA Indonesia. Malam Budaya KIPBIPA IX kali ini merupakan hasil kerja sama APBIPA Bali dengan berbagai sekolah di Bali. Mereka telah membantu Panitia untuk menyemarakkan malam Budaya. Para pengisi Malam Budaya adalah:
– Sekolah Petra Berkat (Tari Kolaborasi)
– SMK Widya Mandala (Tari Joged)
– SMAN 1 Kuta Badung (Tari Topeng atau Bondres)
– Balai Bahasa Indonesia Perth (Miki J)

Berdasarkan tradisi APBIPA Indonesia sejak 2004, Ketua Umum dipilih oleh perwakilan lembaga peserta KIPBIPA: satu lembaga hanya boleh diwakili oleh seorang peserta yang ditunjuk di antara mereka. Pada Munas APBIPA Indonesia VI yang dilaksanakan pada 1 Oktober 2015 telah berhasil dipilih oleh perwakilan lembaga peserta KIPBIPA IX Ketua Umum dan Wakil Ketua APBIPA Indonesia periode 2015-2015 sbb:
Ketua Umum : Dr. Liliana Muliastuti, BIPA UNJ
Wakil Ketua : Nyoman Riasa, APBIPA Bali

Ketua Umum dan Wakil Ketua akan segera menyusun Kepengurusan APBIPA Indonesia yang lengkap dan definitif. Dalam sambutan penutupan KIPBIPA IX Ketua Umum mengundang penyelenggara KIPBIPA X untuk mengirimkan Proposal mereka selambat-lambatnya 3 bulan setelah 2 Oktober 2015.

Dengan demikian, terhitung sejak 2 Oktober 2015 APBIPA Indonesia telah memilih Ketua Umumnya sebanyak 4 (empat) kali seperti di bawah ini:

Seluruh rangkain Konferensi ditutup pada tanggal 2 Oktober pukul 17.00 WITA yang didalului dengan sejumlah sambutan: Ketua Tim Perumus Rekomendasi KIPBIPA (Anton Wahyana) sekaligus menyerahkan Rekomendasi KIPBIPA IX kepada Kepala Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kemendikbud yang diwakili oleh Saudara Hidayat Widyanto), Ketua APBIPA Indonesia Demisioner (Nyoman Riasa) dan Ketua Umum APBIPA Indonesai yang baru (Dr. Liliana Muliastuti). Sambutan terakhir dan sekaligus menutup secara resmi KIPBIPA IX adalah dari Ketua Panitia Pelaksana (M. Bundhowi).

Lampiran 5 merupakan beberapa foto kegiatan Konferensi dan Lampiran 6 adalah brosur dan spanduk KIPBIPA IX.

E. Panitia KIPBIPA IX

Panitia KIPBIPA IX terdiri dari tiga kelompok: Direktur Konferensi (Conference Director), Ketua Panitia Pelaksana Konferensi (Conference Manager), dan Anggota Pelaksana Konferensi yang dibagi menjadi sejumlah seksi. Anggota Panitia Pelaksana ini terdiri dari sejumlah relawan dari berbagai lembaga penyelenggara BIPA dan perseorangan seperti pada tabel di bawah ini.

Susunan Panitia KIPBIPA IX

Pelindung
Prof. Dr. Dendy Sugono – Ketua Dewan Penasihat APBIPA Indonesia

Panitia Pengarah
Nyoman Riasa – APBIPA Indonesia
Dr. Sugiyono – Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa
Dr. Wahyu Sundayana – Uni. Pendidikan Indonesia
Dr. Widodo HS – Universitas Negeri Malang
Dr. Tirka Widarti – Green School, Bali
Dr. Ganjar Hwia – APBIPA Indonesia

Panitia Pelaksana

M. Bundhowi (Ketua) APBIPA Bali
Kity Karenisa, Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa
Luh Putu Diah Prasisthayani, APBIPA Bali
Dra. Yuli Astini, B.A., M.Pd., APBIPA Bali
Suharsono, M.Hum., Universitas Gajah Mada, Yogyakarta
Choirul As’Arie, Universitas Negeri Malang
Olo Tahe Sinaga, SMAN 36 Jakarta
Dewi Nastiti
Vidi Sukmayadi, Universitas Pendidikan Indonesia, Bandung
Niknik M. Kuntarto, Rumah Bahasa Dahsyat
Ida Bagus Artha Adnyana, M.Hum., Politeknik Negeri Bali
Sinta Rosalina, Universitas Pendidikan Indonesia, Bandung
Pertiany, Universitas Pendidikan Indonesia, Bandung
Veronica Christamia Juniarmi, Universitas Negeri Yogyakarta
Linda Wahyu, Universitas Negeri Yogyakarta
I Made Suastika, SMAN 2 Banjar, Singaraja
I Gede Primantara, STKIP Agama Hindu, Singaraja
Pande Agus Adiwijaya, STKIP Agama Hindu, Singaraja
I Made Sukma Adisetiawan S., STKIP Agama Hindu, Singaraja
Nurul Jumiati, STKIP Agama Hindu, Singaraja
I Wayan Agus Anggayana, STKIP Agama Hindu, Singaraja
I Ketut Trika Adi Ana, STKIP Agama Hindu, Singaraja
Musbah, Pusat Bahasa Universitas Ngurah Rai
Martina Y Goris, Pusat Bahasa Universitas Ngurah Rai

F. Mitra dan Sponsor KIPBIPA IX

Ada begitu banyak pihak yang telah membantu kelancaran jalannya seluruh rangkaian KIPBIPA mulai dari persiapan sampai dengan pelaksanaan:

– Pemakalah sidang paralel dan pleno, peserta, dan relawan (Lampiran 1 dan 2)
– Sekolah Petra Berkat, Denpasar
– SMK Widya Mandala, Sibang, Badung
– SMAN 1 Kuta Badung
– Balai Bahasa Indonesia Perth
– Rumah Bahasaku & BIPA Dahsyat, Jakarta
– Green School, Bali
– Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kemendikbud
– Manajemen Hotel Harris Sunset Road, Kuta-Denpasar

Di samping lembaga mitra dan sponsor di atas, KIPBIPA IX juga didukung oleh sejumlah lembaga sbb:

– Museum Rudana, Mas-Ubud
– Bahasa Sekolah Tinggi Pariwisata Bali Internasional, Denpasar
– Pusat Bahasa Universitas Ngurah Rai
– Green School Bahasa, Bali
– Sky Production
– Studio Goak Batik, Singapadu, Gianyar

G. Sertifikat dan Prosiding

Panitia menerapkan prosedur pemberian sertifikat keikutsertaan sebagai Peserta dan Pemakalah dengan yang berlaku untuk setiap orang tanpa kecuali. Ketentuan tersebut sudah disampaikan sbb:

– Sertifikat keikutsertaan hanya diberikan kepada peserta yang secara fisik hadir di Konferensi.
– Sertifikat pemakalah diberikan kepada pemakalah yang makalahnya sudah disajikan di Konferensi baik oleh pemakalah sendiri maupun perwakilan yang ditunjuk setelah melaporkannya kepada Panitia.
– Hanya makalah yang sudah disajikan yang akan dipertimbangkan untuk dimuat dalam Prosiding KIPBIPA IX yang akan terbit setelah seluruh rangkaian Konferensi selesai (Maret 2016).
– Penerbitan Prosiding KIPBIPA IX yang telah ber-ISBN adalah tanggung jawab APBIPA Bali sebagai lembaga penyelenggara.
H. Rekomendasi KIPBIPA IX

Disamping menyelenggarakan seluruh sidangan pleno, sidang paralel, diskusi panel serta memilih Ketua Umum APBIPA Indonesia yang baru (periode 2015-2019), sebagai layaknya sebuah Konferensi Internasional KIPBIPA juga diminta untuk merumuskan sejumlah Rekomendasi yang akan disampaikan kepada Pemerintah Republik Indonesia melalui Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa.

Panitia telah membentuk Tim Perumus dan memilih angota-anggotanya berdasarkan atas kecakapan, pengetahuan, keterlibatan masing-masing dalam berbagai program dan kebijakan BIPA di Indonesia. Anggota Tim Perumus Rekomendasi KIPBIPA IX terdiri dari:

• Dr. Widodo Hs., M.Pd.
• Dr. Ganjar Hwia
• Dr. Liliana Muliastuti
• Drs. Anton Wahyanan, M.A.
• Drs. Suharsono, M.Hum.

Rumusan Rekomendari KIPBIPA IX dapat dilihat pada (http://kipbipa9.apbipaindonesia.org/rekomendasi-kipbipa-ix/)
I. Liputan pers untuk KIPBIPA IX

Sejumlah Media lokal telah melaporkan kegiatan KIPBIPA IX dengan dengan sangat positif (silakan lacak lewat internet).
J. Beasiswa KIPBIPA

Panitia KIPBIPA IX memberikan beasiswa kepada 10 orang yang dengan sukarela membantu Panitia baik secara penuh maupun paruh waktu dalam penyelenggaraan Konferensi. Mereka adalah sejumah anggota Panitia yang berasal dari Bali atau luar Bali.

Beasiswa ini terdiri dari tiga (3) kategori sbb:
• Kategori 1 : Potongan sebesar 60% dari biaya keikutsertaan
• Kategori 2 : Bebas biaya keikutsertaan secara keseluruhan
• Kategori 3 : Bebas biaya keikutsertaan secara keseluruhan dengan mendapat fasilitas penuh (penjemputan, kamar, konsumsi).

K. Penutup

Demikian Laporan Akhir ini dibuat untuk meningkatkan mutu penyelanggaraan KIPBIPA di masa-masa yang akan datang dan untuk diketahui oleh seluruh pemangku kepentingan BIPA di Indonesia.

The Indonesia-Australia School Attachment Program developed by APBIPA Bali IN 2011 continue to capture interests of Australian and Indonesian teachers and students. The following brief account was reported by Ibu Catherine Elliot on the visit by Petra Berkat School in mid 2015.

Petra 2015 CE 2“After months and months of planning, the group of 5 students and 4 teachers from Petra Berkat School in Denpasar finally arrived!! The final weeks leading up to their arrival was quite frantic at times with last minute tweaking of host families and their timetable. We were so delighted when APBIPA suggested we consider inviting this group of primary students and while their visit is not over yet, it has been very successful so far.

Our school hosted Grace, a 14 year old in year 9. She stayed with one of our families as they have a daughter the same age as well as a son in year 5. We also briefly hosted Ibu Yustine, the school director. Her family run the school and thus she was the person with whom we communicated with to organise the various details leading up to the visit. The other 4 students were shared across Victor Primary & Goolwa Primary with the remaining staff. Ibu Oka was based at Goolwa and taught the kecak dance to students there while Ibu Leni was based at Victor and did mask making with the classes she met there. Ibu Yustine and Ariel (the designated photographer) were the only 2 staff members to visit all sites.

For details, click here: https://bucathydotcom.wordpress.com/2015/10/29/kunjungan-sekolah-petra-berkat-petra-berkat-schools-visit

Oleh-oleh Khusus dari Australia Selatan: Indonesia-Australia School Attachment Program
(Port Elliot P.S, Goolwa P.S., and Victor Harbor P.S, Adelaide, South Australia)

9-30 Mei 2015

Hj. Asmiati, S.S., M.Pd. (SMKN 1 Batam)

Mia 5Alhamdulillah bersyukur kepada Allah swt. setelah tiga minggu proses pengajuan Visa program Kemitraan Sekolah Indonesia-Australia (Indonesia-Australia School Attachment Program) atas nama saya, Asmiati, diterima. Hal ini cukup membuat saya khawatir dikarenakan pemberitaan yang sedang mencuat pada saat itu mengenai hukuman mati yang melibatkan warga Negara Australia yang sempat membuat hubungan diplomatik antara Australian dan Indonesia sedikit terganggu. Namun hal tersebut sirna dengan adanya respons positif dari pihak APBIPA Bali yang mengurus keberangkatan saya dan juga dari pihak sekolah tempat saya mengajar di Australia nanti. Seluruh pengurusan visa dilakukan oleh APBIPA Bali dan saya hanya mengisi formulir VISA dari Kedutaan Australia di Jakarta. Hari Kamis tanggal 7 Mei saya terbang ke Bali dijemput oleh Pak Nyoman Riasa dari APBIPA untuk selanjutnya mengikuti kegiatan persiapan sebelum berangkat ke Australia. Tanggal 8 Mei saya mengikuti pelatihan tentang “Child Protection Program” oleh Bapak Bundhowi dari APBIPA.

Tanggal 9 Mei tepat pukul 23.55 waktu Bali saya terbang langsung menuju Adelaide, Australia, menggunakan pesawat Jetstar. Penerbangan ditempuh selama kurang lebih 4.5 jam. Pukul 6.00 pagi waktu Adelaide saya sudah berada di bandara, dengan sedikit cemas akan barang bawaan saya sata melewati peemriksaan petugas beacukai. Alhamdulillah semuanya berjalan lancar saya hanya ditanya untuk apa saya berkunjung ke Australia dan saya katakana bahwa saya akan mengajar di beberapa sekolah di Adelaide sebagai guru tamu dalam sebuah program. Berjalan menuju ke ruang tunggu kedatangan membuat saya sedikit kedinginan dikarenakan saat itu Australia sudah memasuki musim dingin, namun berbekal jaket yang saya bawa dari Batam sedikit memberikan kehangatan sambil menunggu kedatangan Ibu Catherine Sibly (Ibu Cathy) untuk menjemput saya. Dengan bermodalkan tas tangan yang saya bawa bertuliskan SMKN 1 Batam, saya berharap Ibu Cathy dapat mengenali saya dikarenakan selama ini kami tidak pernah saling bertatap wajah. Setelah menunggu sekitar 30 menit, Ibu Cathy datang dan benar saja tanpa basa-basi beliau langsung memeluk saya dan menyapa dengan “Ibu Mia ya,” saya sedikit kaget dengan bahasa Indonesia beliau yang menurut saya sangat bagus untuk ukuran orang asing saya langsung menimpali dengan “Ibu Cathy, ya?”. Kami saling berkenalan dan kebetulan beliau pada saat itu membawa serta putrinya (Rebecca). Kami bertiga pun mulai meluncur menuju ke kediaman Ibu Cathy yang berada di Middleton, South Australia, karena menurut jadwal saya akan bersama beliau selama seminggu dan mengajar di Port Elliot Primary School.

sertifikat-apbipaPada malam hari pukul 19.00 kami diundang makan malam di rumah Ibu Sharon Mann yang juga merupakan guru Bahasa Indonesia yang juga akan menjadi keluarga angkat saya selama seminggu. Pukul 17.00 saya dan Ibu Cathy mempersiapkan segala sesuatunya untuk menuju ke rumah Ibu Sharon. Saya memasak “Cah Kangkung a la Ibu Mia” dan “Steamed Ikan” sebagai buah tangan kami menuju rumah Ibu Sharon. Pukul 18.30 kami bersiap berangkat dan disambut ramah oleh keluarga Ibu Sharon dan dua guru Bahasa Indonesia lainnya yaitu Ibu Annie dan Ibu Trees. Kami berkenalan, santap malam, dan bersenda gurau menggunakan dua bahasa yaitu Indonesia dan Inggris dengan suasana santai dan akrab hingga pukul 21.30.

Seminggu pertama di PEPS bersama Ibu Cathy dalam mengajar bahasa Indonesia membuat saya sangat terkesan dan banyak pengalaman yang saya dapatkan di sana. Suasana kekeluargaan yang sangat hangat membuat saya merasa nyaman walau dalam kultur dan bahasa yang berbeda. Saya sangat bangga memperkenalkan diri dan Indonesia serta kota Batam tempat asal saya yang tidak mereka ketahui sama sekali.

Mia 4Hari Senin saya mengajar 5 kelas bersama Ibu Cathy mulai dari kelas 1-5. Alhamdulillah diawali dengan perkenalan dan pertanyaan dan diakhiri dengan permainan mereka sangat antusias dan senang. Hari Selasa saya kembali mengajar 5 kelas (Kelas 1-7). Rabu dan Kamis saya memberikan kelas memasak untuk 5 kelas yang berbeda. Sembari memasak mereka juga boleh bertanya tentang saya, keluarga, sekolah saya (SMKN 1 Batam) dan kota Batam. Saya memasak “Mie Goreng Telur atau Mie Telur Dadar (Noodle Omelete) a la Ibu Mia dari Batam”.

Minggu ke dua saya menuju rumah Ibu Annie yang mengajar di Goolwa Primary School. Pengalaman berbeda saya dapatkan bersama Ibu Annie di sekolahnya. Senin hingga Rabu saya mengajar bersama beliau dengan 5 kelas dalam sehari untuk Kelas 1-7. Di sekolah beliau saya tidak memberikan kelas memasak namun kami tetap senang dengan perkenalan, menonton video tentang kota Batam dan SMKN 1 Batam serta diakhiri dengan permainan. Hari Kamis saya diminta mengajar di Victor Harbor karena Ibu Annie tidak ada kelas di hari tersebut. Juma’t kami menghadiri Festival Budaya untuk anak-anak sekolah di daerah Goolwa.

Minggu terakhir saya berpindah ke rumah Ibu Sharon yang mengajar di Victor Harbor Primary School. Senin-Kamis saya bersama Ibu Sharon mengajar untuk 5 kelas dengan level yang berbeda dari kelas Reception hingga kelas 7. Di sekolah ini juga terasa perbedaan pengalaman yang saya dapatkan karena setiap guru mempunyai metode masing-masing. Ibu Sharon lebih sering menerapkan model bercerita yang memang disenangi oleh anak-anak dan saya membantu Ibu Sharon dengan ikut bercerita yang tentunya dalam Bahasa Indonesia. Sama halnya dengan di PEPS, di sekolah ini saya ada kelas memasak sebanyak 2 kali: Selasa dan Rabu. Siswa sangat antusias untuk bertanya masalah keluarga saya, kota Batam dan SMKN1 Batam dan saya sangat antusias sekali menjelaskan kepada mereka melalui video dan gambar yang khusus saya persiapkan.

Mia 3Tanggal 30 Mei pukul 19.00 dengan menggunakan pesawat yang sama yaitu Jetstar saya terbang kembali ke tanah air seiring berakhirnya kegiatan saya selama berada di Australia. Demikianlah pengalaman saya selama di Australia Selatan di tiga sekolah dalam rangka mengikuti Program Kemitraan Sekolah Indonesia-Australia dikelola oleh APBIPA Bali yang sangat gigih mengembangkan program BIPA dengan melatih para guru di Indonesia. Melalui program ini, setidaknya saya dapat memberikan pencerahan kepada dunia luar khususnya Australia bahwa Indonesia sangat kaya dan salah satu kekayaan tersebut ada di kota Batam. Saya senang karena saya ikut terlibat dalam membina hubungan baik antara Indonesia dan Australia melalui Bahasa dan Budaya Indonesia.

Terimakasih tidak terhingga saya ucapkan kepada Kepala Sekolah SMKN 1 Batam, Ibu Lea Lindrawijaya, Suroso, M.Pd., yang telah memberi kepercayaan dan dukungan kepada saya hingga program ini terlaksana dengan baik dan saya berharap program ini tidak hanya berhenti sampai di sini.

Education for Sustainability to Present a Beautiful Life for Our Next Generation
(a Report of Green Educator Course at Green School, Bali)

C360_2015-04-16-14-50-42-325On April 14th – 19th of 2015, through APBIPA Bali partnership program three of us: Ms. Sistha and I) and an admin (Ms. Nina) of Pusat Bahasa STPBI received a scholarships from Yayasan Kul-Kul (which runs Green School) to join Green Educator Course. The course was conducted at Green School with the main theme “A Focus on Education for Sustainability” and was attended by educators from over 20 countries. This inspiring course has opened my mind on the importance of education for sustainability.

On the first day, all participants were introduced to the key term of the course: “sustainability”. We had different points of view on this term but we eventually came to one definition: efforts to continue living. At this stage It was still a theory and to see it more clearly all participants were invited to join a tour around Green School. The Green School is the greenest school in the world located in a small forest surrounded by gardens and trees and the buildings are made from bamboo. The architecture of the buildings is stunning.

mepantiganNot far from the school is the Ayung River running through the school. Connecting its two banks is a bamboo bridge built by the students of Green School. The school also had a shed where there were two cows to produce manure for the plants. It is around green principles that the school develops has been carefully designed.

On the second day, we walked through rice fields near the school. We saw Subak (traditional Balinese irrigation system) and went through a tunnel while cleaning the environment around it from plastic rubbish. We enjoyed it so much since we did something useful for the environment.

We saw many interesting objects in GS school on the second day of the course: traditional clay Balinese kitchen, honey bee hives, aquaphonic (a special garden where the plants grow on pebbles and get their water and nutrition from the fish pond underneath). We also had a chance to learn how the school managed their own water resources. These are the projects of GS students in order to implement sustainable living.

aquaphonicAnother interesting activity was introduced by Kul-Kul farm. For 20 minutes participants were invited to plant around 400 “bloody butcher” and “sweet ambrosia” corn seeds. We were divided into six teams each with their own job. Those teams were: 1) Purpose-planting our main crops, 2) Beauty–planting flowers, 3) Support-planting edges, 4) Protection and Establishing Boundaries – putting up the fence, 5) Human Ingenuity- setting up the solar powered electric fence, 6) Planting for the future – coconut tree planting. I was in the Protection and Establishing Boundaries team whose job was to set fences around the garden. My team should make sure that all the plants were safe from animals such as chickens or birds. It was a fun idea in teaching students to live sustainably by involving them into a practical permaculture gardening activity as well as to give them valued experience for living.

On the third day, the participants were invited to join classes in GS. I joined a social studies for middle school class. It was an interactive classroom. The teacher successfully involved the students to the lesson because they were very active and communicative. He gave brief explanation about the lesson, invited students to a fun yet analiyical game, and opened discussions among students.

After joining that class, we went to the “heart of the school” (the main building of GS) to meet excellent students of GS who presented their projects. One of the projects implemented in Primary Classes was called “I-Respect” an acronym of Integrity, Responsibility, Empathy, Sustainability, Peace, Equality, Community, and Trust. This is the kind of attitude and behaviour standard that students should demonstrate and earn tokens from their teachers. Those tokens can be used to do many interesting activities organised by the school. Another project by the students was “Bye-Bye Plastic Bags” by a middle school student wishing to eradicate plastic rubbish in Bali.

The fourth day of the course was full of presentations and discussions. We discussed the importance of involving the community in Education for Sustainability (EfS), “Root and Shoot” presentation, the entrepreneural learner, arts in EfS, and how to use technology in presenting EfS. Those were meaningful presentations and fruitful discussion.

On the fifth day, which was the last day of the course, was a UN conference where all participants could present their ideas to other participants. It was then followed by the time for reflection and building our own vision of EfS. The participants had their own visions for themselves and their environment even for their country. Whatever our vision was, wherever we were from, we actually came to that place for one vision: to keep our Earth green and present a beautiful life for our next generation. The course was finally concluded with Mepantigan, a fun Balinese traditional wrestling in a mud pit. We laughed aloud although our bodies were dirty and fully covered with mud. It was not an ordinary dirt, it was a blessing from our mother Earth to help us achieve our visions.

View Desktop Site