Print this pageEmail this to someoneShare on LinkedInShare on Google+Share on Facebook

Category Archives: artikel

Joint ProgramsAfter working on the Indonesian language and culture immersion programs  since 1997 with a number of educational institutes in the country, APBIPA Bali is now strengthening its Indonesian language program with its partner organisations in Bali (Denpasar, Singaraja), Jakarta and Makassar:
– Ngurah Rai University Language Centre in Denpasar
– BIPA Dahsyat in Jakarta
– Eurolasia Training Centre in Makassar
– Alekawa Language Centre in Makassar
– SLC International College in Singaraja

The purpose of this joint program is to provide a language learning experience in such a way so that students could enjoy cultural diversity of Indonesia either taking a course in two different locations or undertake a program at one designated city they would like explore.

This program allows students completing their program in Bali, for example, could then continue the course to the higher level in Makassar or Jakarta and vice versa. This is made possible because the syllabus and material are standarzised.

The major program components in the four different cities are the same, i.e. language studies (40-60 hours), cultural studies (20 – 30 hours), homestay accommodation (13-20 nights) and tutoring with local students. Through the program students will be fully exposed to Indonesian language culture the local culture.

This program was first tried out in 2011, i.e. one week in Denpasar and another week in Singaraja with a group of three Australian students. In 2016 another tried out was organized with two students from America.

As a professional organization for the teaching of Indonesian as a second language since 1998 and current easier access to different parts of the country, it is time for us to share expertise with new organizations with the same or similar missions – strengthening, empowering and promoting in-country IFL programs.

The program is available for 1-3 intensive intensive weeks with the following daily timetable:
Morning: Language Studies
Afternoon: Cultural Studies & Tutorial

For more information of the programs please contact Mr Nyoman Riasa (nriasa@apbipabali.org) or click this link – http://apbipabali.org/kursus-bipa/

Artikel 4Ini bukan tulisan atau cerita tentang keindahan Amerika seperti yang dibayangkan oleh kebanyakan orang. Juga bukan tentang kemegahan kota-kota, lebarnya jalan-jalan raya di negara Paman Obama ini. Ini adalah sebuah kesan seorang guru yang melihat banyak keindahan Amerika melalui sejumlah ungkapan dalam sejumlah esei yang ditulis oleh mahasiswa dari berbagai universitas di Amerika.

Di musim panas 2017 ini saya tiba di kota Tempe melalui bandara Phoenix, ibukota Negara Bagian Arizona, pada 19 Mei untuk memulai program BIPA pada 22 Mei. Kalau tahun 2016 program Bahasa Indonesia CLI-ASU hanya memiliki empat orang mahasiswa, tahun ini ada 11 orang mahasiswa yang berhasil lulus seleksi.

Setelah selesai minggu ke 4, ketika mereka telah menyelesaikan 80 jam belajar sangat intensif, saya mulai memberikan PR dengan jumlah kata minimal 350. Salah satu esei yang harus mereka tulis adalah jawaban atas pertanyaan saya, “Apa yang membuat Amerika ini indah?”. Harapan saya waktu itu adalah bahwa saya akan bisa belajar dari mereka tentang nama-nama tempat yang menarik di benua ini.

Artikel 2Ternyata saya mendapat lebih dari itu. Monica Orillo mahasiswa Jurusan Sospol Arizona State University menuliskan bahwa, “Keindahan Amerika adalah perbedaan Amerika itu sendiri.” Kalimat ini cukup menyentak saya karena di Indonesia kita dari dulu sangat fasih mengucapkan semboyan kebinekaan dan kesatuan kita, bhineka tunggal ika, namun sekarang kain kebhinekaan itu mulai mau dikoyak dan karenanya kain ini dan perlu dirajut ulang. Dari situ lalu saya mulai memikirkan makna lebih dalam dari kata ‘penyatuan’ dan ‘persatuan’.

Mahasiswa dari North Carolina State University, Jared Abell, melihat keindahan Amerika disebabkan oleh adanya kebebasan: kebebasan untuk memilih dan menjalankan bisnis, kebebasan untuk bersuara, dan kebasan untuk memilih makanan dan minuman sesuai kesukaan dan kemampuan. Saya jadi ingat perckapan singkat saya dengan sahabat saya yang berasal dari Timor Timur (sekarang Timor Leste) di tahun 1996. Kebetulan sahabat saya inilah yang antar-jemput saya dari Hotel Turismo – Kanwil Pertanian untuk memberi pelatihan bahasa Inggris. Dalam perjalanan pulang ke hotel dia sempat bercerita bahwa mereka punya semuanya: makanan, uang, pakaian tetapi mereka merasa tidak punya kebebasan.

Artikel 1Saat ini orang-orang Indonesia memiliki kebebasan yang luar biasa, saking bebasnya sampai melewati batas. Merusak sumbu-sumbu kesopanan, melanggar kode etik budaya. Orang Indonesia kini mulai fasih mencaci maki di depan umum – mencaci maki siapa saja. Kita juga sudah biasa melihat atau mendengar elit yang bicara bohong di depan publik karena motif tertentu.

Ada juga mahasiswa yang menguraikan bahwa yang membuat Amerika menarik dan indah adalah karena adanya banyak kesempatan. Mereka yang percaya dengan kesempatan itu dan jika mereka bekerja keras pasti akan berhasil. Yang paling indah adalah ungkapan yang ditulis oleh Vlada Dementyeva (University of Maryland) mengutip nasihat ayahnya bahwa “Kita tidak boleh memiliki apapun, hanya kata-kata yang baiklah yang bisa dimiliki dan diwariskan kepada anak-anak.” Sebagai orang tua dari tiga anak yang sudah dewasa dan memiliki dua cucu, ungkapan ayah Vlada ini sangat menyentuh dan cukup menampar muka saya.

Artikel 3Tidak saja ungkapan-ungkapan seperti ini yang membuat saya tersentuh tetapi saya juga kagum pada makna yang ada di balik ungkapan itu. Para mahasiswa ini adalah anak muda Amerika yang berumur antara 19 dan 24 tahun yang mengungkapkan dengan penuh rasa percaya diri tentang kesempatan masa depan yang ia miliki, tentang kekayaan negaranya, dan hal-hal positip lainnya. Singkatnya adalah tentang rasa nasionalisme mereka untuk ‘to serve my country’ ungkapan yang berkali-kali saya dengar dari mereka. Ketika saya mencoba memadankan ungkapan ini dengan ‘melayani negara saya’ atau mengabdi pada negara tiba-tiba lidah saya terasa kelu dan pahit ketika otak saya menjalar mengingat dan melihat perilaku sejumlah elit di negeri kita.

Jadi, ke 11 mahasiswa itu sebenarnya hanya belajar bahasa dan keterampilan bahasa dari saya, tetapi saya telah belajar tentang kehidupan dari mereka. Saya pun lalu bergumam bagaimana dengan anak-anak muda Indonesia dewasa ini? Apakah mereka masih merasa bangga dengan negaranya, tahu bahwa negaranya memiliki begitu banyak kesempatan? … Entahlah, mudah-mudahan saja begitu.

Malam Indonesia 1
Tahun 2017 adalah tahun kedua Bahasa Indonesia secara resmi dimasukkan ke dalam Program Critical Language Institute yang berada di bawah Melikian Centre pada Arizona State University (Universitas Negara Bagian Arizona). Pada tahun pertama (2016) ada enam orang mahasiswa yang mendaftar untuk program Bahasa Indonesia: 2 orang belajar di Bali selama 8 minggu dan 4 orang di Arizona State University selama 8 minggu dan dilanjutkan dengan 4 minggu di Universiats Ngurah Rai, Denpasar. Mereka berasal dari Universitas Cornell, Universitas Notredam, Universitas Clarkson, dan Arizona State University.

Tahun 2017 ini sejumlah 13 (tigabelas) mahasiswa yang berhasil melewati seleksi program Bahasa Indonesia dan mereka berasal dari berbagai universitas besar di Amerika. Pada gelombang pertama, dua orang mahasiswa Arizona University belajar selama 8 minggu di Pusat Bahasa Universitas Ngurah Rai. Gelombang ke 2 harus belajar di Arizona State University selama 8 minggu (22 Mei – 14 Juli 2017) sebelum diberangkatkan ke Denpasar Bali untuk mengikuti program lanjutan selama 4 minggu.

Ketika memulia program, ke 11 mahasiswa yang mulai belajar di Arizona State University belum tahu Bahasa Indonesia sama sekali tetapi beberapa di antara mereka sudah menguasai dua atau tiga bahasa asing. Mereka memiliki latar belakang jurusan akademik yang sangat beragam, mulai dari Keuangan dan Bisnis, Teknik Komputer,Teknik Kimia, MIPA, Sosial Politik sampai dengan Teknik Penerbangan dan Ruang Angkasa serta Kebijakan Hukum dan Kepolisian.
CLI Rap
Dari 11 mahasiswa itu hanya delapan orang yang akan melanjutkan program mereka di Bali selama 4 minggu (17 Juli – 12 Agustus), sementara dua orang mahasiswa yang lebih senior sudah tiba di Bali pada 16 Juni 2017 untuk program selama delapan minggu.
Selama di kampus Arizona State University ke 11 mahasiswa tersebut dilatih untuk menguasai keterampilan Bahasa Indonesia mulai dari percakapan sehari-hari (survival language) sampai dengan presentasi yang menggunakan Bahasa Indonesia ranah formal.

Rata-rata kecepatan belajar mereka sangat tinggi yang menyebabkan saya sebagai instruktur harus mengimbangi mereka dengan materi dan kegiatan di dalam kelas sesuai kecepatan mereka. Setiap hari kecuali hari Kamis, mereka harus menulis esei pendek (350 kata) menggunakan bahasa yang telah mereka pelajari dengan menerapkan kaidah-kaidah kebahasaan yang dipelajari sebelumnya.
Setelah minggu ke enam, mereka menulis esei yang memberikan kenikmatan kepada saya untuk membacanya karena mereka menuliskannya dengan gaya khas mereka, seperti contoh di bawah ini.
CLI 2017 Act 1
“… Sospol adalah bidang kebijakan domestik dan luar negeri. Kebijakan adalah apa yang dilakukan pemerinta. Untuk sospol saya juga belajar hukum di Amerika dan hukum di negara lain. Di Amerika, ilmu politik adalah studi tentang Presiden dan Kongres. Sospol adalah juga tentang budaya, ekonomi dan masyarakat negara Amerika dan negara lain. Bidang sospol memakai banyak statistik dan studi kasus. Studi kasus adalah contoh spefifik tentang teori politik di negara spesifik dan saya pikir studi kasus adalah yang paling menarik dari sospol. …” (Monica Orillo, Arizona State University)

… Franklin Delana Roosevelt (atau FDR) adalah seorang negawaran Amerika dan pemimpin politik yang merupakan Presiden Amerika Serikat ke 32 dari tahun 1933 sampai kematiannya pada tahun 1945. Seorang Demokrat, dia memenangkan empat pemilihan presiden dan merupakan tokoh penting dalam peristiwa dunia selama pertengahan abad ke 20. Dia memimpin pemerintah Amerika Serikat selama sebagian besar Depresi Besar dan Perang Dunia II. …” (Dylan DeWitt, Ohio State University).

CLI 2017 Papua
“Saya mahasiswa matematika di Universitas Maryland dan saya baru selesai tahun pertama di universiats, jadi saya tidak tahu banyak tentang jurusan saya. Ketika mulai kuliah saya mau menjadi insinyur tetapi setelah satu semester saya mengganti jurusan saya ke matematika. Saya sudah pernah mengambil dua semester untuk kalkulus. Kalkulus adalah bidang kesukaan saya sekarang. …” (Vlada Dementyeva, University of Maryland).

“Ini adalah tulsian tentang J.K. Rowling. JK Rowling adalah orang yang tulis buku Harry Potter. Walaupun dia adalah seorang penulis yang sangat sukses, dia memiliki kehidupan yang sangat sulit. Saat dia masih muda, kehidupan keluarag terasa berat karena ibunya menderita skoliosis. Itu adalah ‘pertempuran’ yang berlangsung selama 10 tahun. Ibunya meninggal ketika JK Rowling berumur dua pulu lima tahun. …” (Tia Scoggan, Purdue University).

CLI 2017 Act
Sebagai bagian penting dalam program ini adalah pengenalan budaya Indonesia (Bali) yang ingin mereka ketahui lebih dalam. Mereka memilih topik dan cara penyajian kepada hadirin. Kegiatan ini dirangkum dalam Indonesian Club (Klub Indonesia). Puncak dari kegiatan budaya ini adalah penyelenggaraan Malam Indonesia sebuah presentasi tentang Indonesia secaraa yang lebih komprehensif. Para instruktur CLI-ASU dan sejumlah mahasiswa dari programa bahasa yang lain hadir untuk menikmati Malam Budaya ini. Penampilan atraksi budaya dan makanan Indonesia (Bali) senantiasa mendapat apresiasi yang sangat tinggi. Penampilan para mahasiswa begitu apik, makanannya enak.

CLI 2017 Act PS
Tahun 2017 ini program Bahasa Indonesia sangat beruntung karena para mahasiswa Amerika ini bertemu dengan delapan orang mahasiswa dari Papua yang sedang belajar bahasa Inggris di Arizona State University untuk melanjutkan ke program pendidikan pilot.
Masuknya Bahasa Indonesia ke dalam Program CLI-ASU tidak lepas dari peran aktif Dr. Peter Suwarno, satu-satunya dosen Bahasa Indonesia di Arizona State University dan Dr. Kathleen Evans-Romaine, Direktur Critical Language Institute. Mereka telah mempercayakan program ini untuk dilaksanakan oleh APBIPA Bali yang bekerja sama dengan Pusat Bahasa Universitas Ngurah Rai di Denpasar Bali.

Strategi Pembelajaran Berbicara Tingkat Dasar melalui Gambar, Film, dan Lagu pada Mahasiswa Program Studi Bahasa Indonesia Guandong University of Foreign Studies (GDUFS), Guangzhou, China

Suroso
surosoLSIP@yahoo.com


Pendahuluan

Persoalan krusial yang dihadapi pembelajar bahasa Indonesia sebagai bahasa asing, khususnya di Cina selain faktor linguistik juga faktor nonlinguistik. Faktor linguistik berkait dengan pelafalan bunyi , kosakata dan struktur kalimat. Faktor nonlinguistic berkait dengan fator psikologis dan budaya. Beberapa kesulitan tersebut perlu diantisipasi dengan menciptkan strategi pembelajaran yang kreatif dengan memanfaatkan berbagai media agar materi pembelajaran bisa diserap dengan baik. Dari amatan, beberapa konsonan yang tidak diucapkan seperti dalam bahasa Indonesia diantaranya /b/, /d/, /g/, /q/, /j/, /y/ dan menjadi konsonan /p/, /t/, /k/ , /ch/, /c/, dan /i/. Selain perbedaan pengucapan konsonan, dalam bahasa China mengenal 4 jenis tekanan vocal yang dapat mempengaruhi perbedaan makna. Pembelajaran awal bahasa Indonesia di Chiona juga mengalami kesulitan mengucapkan konsonan /r/ karena pada umumnya /r/ bahasa China diucapkan tidak dengan bergertar (trill).

Dari berbagai perbedaan yang dijumpai dalam bahasa China tersebut (L1) akan sangat berpengaruh dalam pembelajaran bahasa Indonesia (L2). Pada mulanya pengajar juga mengalami kesulitan dalam mentransfer pemahaman kosakata, dan kalimat dalam bahasa Indonesia. Mahasiswa akan tertawa ketika pengajar bahasa Indonesia untuk pertama kali mengucapkan nama-nama siswa dalam bahasa Cina karena terdapat perbedaan dalam pengucapannya. Namun, dengan komunikasi berulang dan memanfaatkan berbagai media kesulitan pengucapan dan pemahaman kosakata dan kalimat kedua bahasa sedikit demi sedikit bisa diatasi.

Tulisan ilmiah ini, akan mengungkapkan strategi pembelajaran bahasa Indonesia untuk pembelajaran berbicara mahasiswa tingkat dasar pada matakuliah berbicara tingkat dasar dan pengetahuan Indonesia dengan memanfaatkan gambar, film, dan lagu. Data diambil dari amatan pembelajaran, hasil pembelajaran, dan upaya perbaikannya.


Faktor Linguistik

Seperti diuraikan dalam pendahuluan adanya beberapa perbedaan bunyi dalam bahasa China dan bahasa Indonesia menjadi kendala dalam mengucapkan kata bahasa Indonesia. Oleh karena itu pengucapan secara berulang perlu dilakukan seperti penggunaan afiks, pengucapan diftong, gan kebiasaan penggunaan konsonan /h/ pada akhir kata, perlu diperhatikan. Selain itu faktor penguasaan kata menjadi hal yang penting dikuasai karena keterbatasan memori anak untuk menghafal kata dalam bahasa Indonesia baik kata benda, kerja, dan sifat. Kata depan, dan kata bilangan. Penguasaan pemilihan kosakata dan satuan angka perlu di ulang-ulang sampai siswa paham. Beberapa contoh kesalahan afiksasi berikut ini sering dilakukan oleh pemabelajar bahasa Indonesia.

(1) Akhirnya jalan pulang ke rumah dari taman laut lewat sebuah danau.
(2) Kemudian saya mengantarkan catatan medis ke juru rawat dan tunggu di depan kamar darurat.
(3) Jadi Cuma ketinggalan beberapa orang yang bertugas di rumah sakit itu. Jadi seluruh rumah sakit menjadi tenang.
(4) Untuk impian itu, saya akan belajar pengetahuan tentang satwa liar dan mengumpul uang yang cukup untuk pelajaran dan masa sukarela saya .
(5) Kemudian saya pergi ke kamar manti.
(6) Karenan orang-orang di seluruh dunia ditarik ke sana untuk bertamsya.
(7) Indonesia ada banyak makanan yang khas dan enak seperti ayam koreng dan nasi koreng.
(8) Kemudian saya pergi ke kamar manti.
(9) Namun keluarga saya semuanya berharap agar saya bisa menjadi guru setelah lurus.
(10) Sebenarnya bukan bahasa Indonesia saya memilih melainkan saya dimilih oleh bahasa Indonesia.
(11) Tetapi karena hasil saya tidak cukup tinggi untuk dipilih jurusan yang saya sukai, akhirnya saya dibagi di jurusan bahasa Indonesia.
Selain persoalan afiksasi hal yang perlu diperhatikan adalah penguasaan dan pemilihan kosakata. Seperti tampak dalam data berikut.
(12) Pada waktu itu saya merasa bekerja sebagai guru agak keras.
(13) Mahasiswa-mahasiswa agak lucu, energi, berani dan pintar sehingga saya merasa masih seperti mereka.
(14) Di sana tampak hamparan air yang menghijau.
(15) Selain belajar dengan sungguh-sungguh, saya juga ingin menikmati hidup dengan enak hati.
(16) Saya akan menenangkan diriku untuk membaca Koran, televisi, dan novel.
(17) Oleh karena itu, tentu perlu saya menjelajahi tempat yang sihir itu sendiri.
(18) Menurut eman saya, Indonesia adalah suatu Negara indah dan budayanya sangat mendalam.
(19) Ternyata orang Tiongkok sebanyaknya tidak begitu mengenal Indonesia jelas dan temanku merasa heran mengapa saya memilih bahasa Indonesia sebagai jurusanku.
(20) Dengan hubungan bilateral terus lebih baik, kerja bersama kedua negeri ini dalam bidang ekonomi juga banyak sekali.
(21) Meskipun kesulitan dan halangan masih ada, ekonomi antara Tiongkok dan Indonesia tetap saling beruntung dalam perhatian dan upaya dua pemerintah.

Faktor Nonlinguistik

Beberapa hal menyangkut persoalan nonlinguistik adalah kekhawatiran (stress) mahasiswa dalam pengusaaan materi pembelajaran. Hal ini karena mahasiswa China adalah mahasiswa pilihan dengan Nilai Ebtanas Murni (NEM) terbaik di sekolah dan mendapat bantuan dan subsidi beasiswa dari pemerintah Cina. Selain itu, mereka akan selalu berusaha keras untuk memperoleh nilai dan prestasi terbaik agar mendapatkan pekerjaan dan gaji terbaik. Pembelajar bahasa Indonesia di Cina sebagian sudah memperoleh pekerjaan setelah kuliah semester 4 pada berbagai instansi seperti kementerian luar negeri, lembaga keuangan, dan perusahaan swasta yang beroperasi di Indonesia di bidang pertambangan dan pembangunan infrasturtur sambil menyelesaikan program sarjana selama 8 semester.

Untuk mengurangi kecemasan dalam belajar, selain pembelajaran di kelas dilakukan pembelajaran di luar kelas seperti kegiatan memasak masakan Indonesia di apartemen dosen dan perjalanan wisata baik dilakukan secara individu maupun kelompok. Untuk dosen asing laki-laki disarankan untuk tidak mengajak mahasiswi berjalan berduaan karena faktor etika. Kegiatan makan bersama, menonton film, dan mendengarkan music dapat membuka saringan afeksi merfeka lebih rileks.

Strategi dan Media Pembelajaran

Stetegi pembelajaan yang digunakan diantaranya adalah model interaktif. Dalam pembelajaran berbicara, biasanya mahasiswa sudah membaca unit yang akan dipelajari satu minggu sebelumnya. Materi bisa diperooeh dari Unit buku pelajaran berbicara atau didesain sendiri oleh dosen dengan memberikan handout dalam bentuk powerpoint. Mahasiswa bisa bercerita secara individu apa yang sudah ditulis. Mereka juga bisa berpasangan membincangkan dalam bentuk dialog dengan pasangan tetap belajarnya. Ketika mahasiswa berbicara, sebaiknya dosen tidak perlu memotong atau membenahi kesalahan mahasiswa karena akan membuyarkan konsentrasinya. Setelah selesai baru dilakukan analisis kesalahannya. Waktu yagn diperlukan dalam dialog tidak lebih dari 3 menit. Hal ini karena jam pelajaran hanya 80 menit setiap perteuan dengan 20 siswa.

Media cetak yang digunakan selain powerpoint dengan materi yang diunduh dari situs baitu dan youku dimanfaatkan juga majalah Indonesia, iklan, peta, dan buku petunjuk pariwisata Indonesia. Mahasiswa memiliki minat yang tinggi untuk mengetahui geografi Indonesia, penduduk, makanan, dan budaya Indonesia. Selain itu, mahasiswa bisa mebuka website yang berhubungan dengan Indonesia. Beberapa topik kuliah berbicara berkait dengan pengetahuan Indonesia diantaranya. Mengenal karakter atau ciri-ciri bangsa Indonesia,Geografi dan Kota di Indonesia, Persebaran penduduk, Transportasi di Indonesia, Budaya makan di Indonesia dan makanan-makanan khas Indonesia, Mengenal suku dan kebudayaan Indonesia (suku-suku yang besar atau unik: suku jawa, bali, sunda, suku Minang, suku batak, suku toraja., makasar, dan papua), Perayaan Hari Agama dan hari Penting di Indonesia, dan Tradisi Mudik Lebaran dan Hari Natal di Indonesia, Budaya Tradisional dan Populer, Media massa di Indonesia (Surat Kabar, Majalah, Radio dan Televisi) kesenian Indonesia: musik, tarian, wayang, dll.). Lembaga-lembaga negara, partai politik di Indonesia Etnis Keturunan Tionghoa di Indonesia. Dulu dan sekarang.

Beberapa penunjang pembelajaran diantaranya menghafal lagu cinta Afgan “Jodoh Pasti Bertemu” dan Andra and The Backbone “Sempurna”. Kedua lagu tersebut mewakili gejolak cinta para mahasiswa yang berusia 19-21 tahun selain penyanyinya tampan. Film “Ada Apa dengan Cinta” juga sebagai film yang baik dalam mengembangkan kosakata. Untuk cara mudah juga mengajarkan lagu anak-anak untuk menghafal kosakata bagian bagian tubuh.

Kesimpulan
Pembelajaran bahasa Indonesia sebagai bahasa asing di Cina perlu memperhatikan aspek linguistik dan nonlinguistik. Beberapa metode perlu dilakukan utuk menguatkan semangat pembelajar diantaranya pembelajaran di luar kelas seperti memasak, makan bersama, dan berwisata. Gamabar, musik, dan film menjadi media prioritas yang dihadirkan dalam pembeajaran BIPA.

[Catatan: Makalah ini disajikan pada KIPBIPA IX yang diselenggarakan oleh APBIPA Bali pada 30 September – 2 Oktober 2015 di Hotel Harris Sunset Road, Kuta, Denpasar,Bali]
View Desktop Site