Category Archives: APBIPA Bali

Catatan Perjalanan Tim BIPA Dahsyat di  Konferensi ASILE (30 September – 2 Oktober 2016), Adelaide, Australia

Niknik M. Kuntarto

asile-2016-0Insan yang baik adalah insan yang tidak hanya mengenal kelebihan, tetapi juga mengenal kelemahannya. Bagaimana cara kita bisa melihat diri kita sendiri? Bercerminlah…! Cermin adalah benda yang acapkali kita gunakan dalam kehidupan sehari-hari. Hidup tidak lengkap rasanya bila sehari tidak becermin. Cermin selalu dibutuhkan karena merupakan benda yang mampu memantulkan bayangan seseorang dengan sempurna. Namun, cermin juga berguna tidak hanya melihat kesempurnaan, tetapi juga untuk melihat penampilan yang masih harus diperbaiki. Cermin bermanfaat untuk membantu kita dalam mengoreksi diri sendiri. Ada sebuah cermin yang dapat memperlihatkan kepada kita tentang ke-Indonesia-an. Sungguh unik! Cermin ini dapat memantulkan seberapa jauh kita mengenal Indonesia, terutama tentang kecintaan kita pada bahasa dan budaya Indonesia. Cermin itu adalah BIPA. BIPA atau Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing adalah sebuah program pembelajaran bahasa Indonesia khusus untuk orang asing. Melalui BIPA, kita dapat melihat Indonesia dari luar. Melalui BIPA kita bisa melihat bagaimana orang asing memandang Indonesia. Melalui BIPA, kita bisa becermin sejauh mana kita bisa menjawab atau menjelaskan pertanyaan oarang asing tentang Indonesia. Ketika kesulitan saat menjawab itulah, kita bisa menyadari sejauh mana kita mengenal negeri sendiri, sejauh mana kita mengenal bahasa dan budaya negeri kita sendiri. Melalui BIPA-lah akhirnya kita bisa melihat kelebihan dan kelemahan kita. Melalu BIPA-lah kita bisa mengoreksi diri dan melalui BIPA-lah, kita bisa berdandan dan menentukan bagian mana yang harus dihias agar berpenampilan cantik dan menarik. asile-2016-3Tim BIPA Dahsyat berusaha untuk melihat Indonesia dari luar Indonesia melalui Cermin BIPA di Konferensi Australian Society of Indonesian Language Education yang berlangsung sejak 29 Sepember hingga 2 Oktober 2016 di Flinders University, Adelaide, Australia Selatan dengan tema “INDOVASI: Menuju Paradigma Baru”. Sebagai muslim, sungguh merupakan kehormatan tersendiri ketika konferensi internasional ini dibuka oleh Brent Bloffwitch dengan ucapan salam assalamualaikum. Terharu dan bangga. Cermin nuansa toleransi beragama tercium indah di ruang ini. Juga ketika Tim BIPA Dahsyat berkunjung ke beberapa kelas di Flinders University, tempat konferensi ini berlangsung, kami menjadi narasumber ketika diskusi bersama mahasiswa tentang keragaman beragama di Indonesia. Kami meneruskan pesan yang disampaikan oleh George Queen di ruang konferensi bahwa belajar bahasa Indonesia saat ini seperti tergencat di antara dua gajah. Pertama saat ini orang Indonesia sendiri yang sekarang sedang gencar belajar bahasa asing. Kehadiran orang asing di Indonesia yang mau belajar bahasa Indonesia justru diajak untuk praktik berbahasa Inggris. Kedua adalah pandangan negatif orang asing terhadap Islam di Indonesia. Saat berdiskusi di ruang kuliah asuhan Ibu Michelle, kami ceritakan tentang keindahan toleransi beragama di Indonesia. Kami juga bercerita tentang Riyanto, seorang penjaga gereja yang meninggal karena melindungi jemaat gereja di Mojokerto dari ledakan bom itu adalah seorang muslim. Kami pun dengan yakin dan penuh haru menyatakan bahwa Islam itu bukan teroris. asile-2016-2Di beberapa ruang konferensi yang dihadiri oleh 160 pemerhati dan guru bahasa Indonesia dari berbagai belahan Negeri Kangguru dan Indonesia ini, begitu banyak tersedia cermin-cermin pembelajaran bagi guru-guru BIPA, terutama tentang inovasi metode mengajar, yang dapat kita jadikan koreksi diri, dengan mengusung tanya, masihkah kita mengajar dengan cara konvensional? Adalah seorang Irianto Ryan Tedja, alumni Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), Bandung, yang kini mengajar di Murdoch University, telah menjadi cermin yang baik dan sanggup menyadarkan kita arti pentingnya mengenal budaya negeri sendiri. Baginya, mengajar bahasa Indonesia, berarti mengajarkan budaya kepada peserta asing. Berada di ruang konferensi 2.23 Flinders University, merasa seperti memasuki masa kanak-kanak. Masih ingatkah kita pada permainan suten? Kelingking adalah lambang semut, telunjuk lambang orang, dan jempol adalah lambang gajah. Siapa yang menang ketika gajah bertemu semut? Siapa yang kalah ketika orang bertemu dengan semut? Apa filosofi di balik permainan yang juga bernama dam dam sut? Pria yang fasih berbahasa Sunda ini sanggup membuat pembelajaran bahasa Indonesia dengan menarik dan menyenangkan melalui pengenalan permainan tradisional suten atau dam dam sut. Hmm… metode bermain memang cukup efektif dalam belajar bahasa. Bermain yang bukan main-main, melainkan bermain dengan penuh makna tentunya. asile-2016-5Cermin indah lainnya adalah David Reeve yang dikenal sebagai tokoh bahasa Indonesia di Australia. Pria ramah ini memaparkan metode mengajar kosakata dengan memanfaatkan bahasa iklan, baik iklan yang terkait dengan komersil, imbauan, maupun politik. Yang menarik adalah iklan yang ditampilkan adalah iklan yang menggunakan campur kode di dalamnya. Dengan demikian, kosakata yang diajarkan tidak hanya kosakata bahasa Indonesia, tetapi juga kosakata bahasa-bahasa daerah di Indonesia. Tim BIPA Dahsyat sendiri membawa cermin ke-Indonesia-an melalui makalah yang berjudul Mastery of Indonesian Language for Foreigners (BIPA) Using Creativity-Based Teaching Media BIPA Dahsyat: Word Order Game (SUKA). Pemilihan materi ajar BIPA selalu menarik perhatian, dinamis, dan menantang para pengajar. Seorang pengajar BIPA selalu harus tampil di hadapan peserta BIPA dengan persiapan yang maksimal. Jika tidak dilakukan, pengajar BIPA akan berhadapan dengan berbagai masalah. Pertama, materi tidak dapat tersampaikan dengan baik kepada peserta BIPA karena materi kurang sesuai. Kedua, peserta BIPA kecewa dan frustasi karena sulit memahami bahasa Indonesia karena materi terlalu sulit. Ketiga, bisa saja, peserta asing tidak semangat belajar bahasa Indonesia karena media ajar kurang menarik. Keempat, tidak menutup kemungkinan, pengajar memasuki kelas dan ternyata semua peserta meninggalkan kelas karena kurang tergugah dan tergairahkan. Semua terjadi karena pengajar BIPA akan berhadapan dengan berbagai peserta yang berasal dari berbagai Negara dengan warna-warni budaya, dengan latar belakang sosial beragam, dan dengan kecerdasan yang jamak. Pengalaman tersebut, sering kali dirasakan tidak hanya oleh pengelola BIPA yang baru memulai kegiatan dalam pengajaran BIPA, tetapi juga pengelola BIPA yang telah berpengalaman selama puluhan tahun dalam menyelenggarakan program BIPA. Inilah yang menyebabkan selalu ramainya forum pertemuan seperti KIPBIPA dan PITABIPA atau pelatihan seperti Program Sertifikat Pelatihan Guru BIPA I, II, dan III yang digagas oleh APBIPA Bali, Pelatihan Guru BIPA UI, Pelatihan Guru BIPA UNJ, juga Pelatihan Guru BIPA ala BIPA Dahsyat dihadiri oleh para pegiat BIPA. Mereka butuh berdiskusi, saling tukar pikiran, dan berbagi pengalaman di antara pengajar, pegiat, dan pengelola BIPA. Akhirnya, kebutuhan tersebut menjadi tuntutan yang tidak dapat ditawar-tawar lagi. Pengajar BIPA harus terampil mempersiapkan materi dan media ajar BIPA yang menarik, menggugah, dan menggairahkan. asile-2016-1Menggeliatnya para pengajar dan penggiat BIPA atas kesadaran pentingnya menyediakan buku dan media ajar yang menarik, ternyata kurang didukung dengan tersedianya contoh buku atau media ajar yang tersebar secara umum di Indonesia. Pengajar BIPA merasa kesulitan mencari contoh buku dan media ajar BIPA yang diharapkan. Sebenarnya telah tersedia buku ajar BIPA, baik bagi pemula anak-anak maupun pemula dewasa, tetapi penyebarannya hanya pada lingkungan lembaga itu sendiri. Artinya, buku hanya diperuntukkan bagi siswa yang belajar bahasa Indonesia saja yang akan mendapatkan buku tersebut. Sementara itu, masyarakat umum agak sulit mendapatkannya. Beberapa Sekolah Internasional seperti mengakui kesulitan mendapatkan buku ajar BIPA. Kalau pun ada, buku tersebut harus diimpor dari Australia dan ditulis oleh penulis asing yang dirasa ironis. Akan mengajarkan bahasanya sendiri, bahasa Indonesia, tetapi menggunakan buku karya penulis asing. Beberapa buku memang ada yang ditulis oleh penulis Indonesia, tetapi ia menjadi penulis kedua. Penulis pertama tetap diduduki oleh penulis asing. Itulah yang terjadi. Inilah cermin diri bagaimana penyediaan buku dan media ajar BIPA di Indonesia. Berdasarkan kegelisahan-kegelisahan itulah, atas bimbingan APBIPA Bali, Tim BIPA Dahsyat lahir. Dalam waktu dua tahun embrio karya-karya BIPA Dahsyat yang tematik dan naratif dengan tokoh-tokoh multikulur dibuat dan pada 2 Oktober 2015, lahirlah BIPA Dahsyat dengan 20 buku ajar tingkat prapemula, pemula, madya, dan lanjut juga 16 media ajar BIPA saat acara besar KIPBIPA di Bali dan kini di Konferensi ASILE 2016, pada 2 Oktober 2016, bertepatan dengan Hari Batik Nasional, BIPA Dahsyat berulang tahun yang pertama dengan meluncurkan media ajar baru: Roda Prefiks untuk belajar imbuhan bahasa Indonesia. Hadiah terindah bagi Tim BIPA Dahsyat karena diberi kesempatan untuk memperkenalkan karya BIPA Dahsyat di ruang konferensi yang pesertanya berpakaian batik, khas Indonesia dan juga ruang kuliah Jurusan Hubungan Internasional asuhan Ibu Michelle Kohler dan Ibu Firdaus. BIPA Dahsyat lahir bukan saja untuk kalangan terbatas atau guru-guru BIPA di Yayasan Kampung Bahasa BloomBank, melainkan untuk Indonesia. Ini berarti, karya-karya BIPA Dahsyat bisa digunakan oleh siapa saja, lembaga mana pun, baik di dalam maupun di luar negeri. Inilah alasan Tim BIPA Dahsyat lahir dan merayakan hari ulang tahun pertamanya bukan di Jakarta, tempat para penulis juga guru-guru BIPA bertempat tinggal dan bekerja, melainkan di tempat lain: lahir di Bali dan berulang tahun di Adelaide, Australia agar BIPA Dahsyat meng-Indonesia, juga mendunia. Itulah harapan besar kami demi senyum kembang Ibu Pertiwi. Semoga BIPA Dahsyat dan juga para pegiat dan pengajar BIPA di mana pun tetap selalu becermin agar dapat menatap wajah diri Indonesia.
Pengalaman Mengajarkan BIPA di Laos Tiara Tirtasari laos-1 Saya memulai perjalanan sebagai pengajar BIPA tepatnya pada November 2011 bersama Lembaga Bahasa Universitas Sanata Dharma Yogyakarta. Saat itu saya masih berstatus sebagai mahasiswa semester lima dan belum bekerja penuh waktu sebagai pengajar BIPA. Namun demikian pengalaman yang sedikit demi sedikit tumbuh melalui aktivitas mengajar di kelas maupun di luar kelas melalui kegiatan non-akademik membuat saya tertarik dan semakin menyukai dunia BIPA sampai saat ini. Sejak memasuki tahun ketiga menjadi pengajar BIPA tepatnya pada tahun 2014 tahun di mana saya juga lulus dari universitas saat itu, saya mulai berpikir bahwa kalau saya ingin menekuni profesi ini saya perlu mengembangkan wawasan saya dan juga relasi di lingkungan BIPA. Salah satunya yaitu dengan mengikuti kegiatan lokakarya pengajaran BIPA di mana saya bisa mendapatkan ilmu baru dan bertemu rekan-rekan yang juga menekuni profesi yang sama dengan saya. Oleh karena itu saya mulai mencari informasi seputar program lokakarya pengajaran BIPA dan saya menemukan Program Sertifikat Guru BIPA Level 1: Metodologi Pengajaran BIPA. Kursus ini diselenggarakan oleh APBIPA Bali yang dikoordinir oleh Bapak Nyoman Riasa. Saya akhirnya mendapatkan kesempatan untuk mengikuti program lokakarya tersebut pada Juni 2015 di Jakarta. Saya sangat bersyukur bisa mengikuti program tersebut karena saya dipertemukan dengan tokoh-tokoh pejuang BIPA salah satunya Pak Nyoman dan juga bisa mengenal para pengajar BIPA dari daerah lain yang sama-sama ingin memperbarui wawasan tentang BIPA. Saya percaya bahwa kesempatan yang saya dapatkan untuk mengajar BIPA di Laos beberapa bulan berikutnya tidaklah lepas dari lokakarya yang saya ikuti lebih dulu pada bulan Juni 2015 dan pengalaman yang saya peroleh ketika masih di Lembaga Bahasa Universitas Sanata Dharma Yogyakarta. laos-2Kesempatan mengajar BIPA di Laos yang saya peroleh bermula dari rekrutmen program pengiriman pengajar BIPA keluar negeri oleh PPSDK (Pusat Pengembangan Strategi dan Diplomasi Kebahasaan) Kemdikbud pada November 2015. Setelah melalui dua tahapan yaitu seleksi administrasi dan wawancara, saya dinyatakan lolos seleksi dan ditugaskan mengajar BIPA di KBRI Vientiane, Laos dari bulan Maret hingga Juni 2016. Tidak pernah terbayangkan oleh saya sebelumnya bahwa saya akan menginjakkan kaki ke negeri yang dijuluki negeri seribu gajah tersebut. Informasi yang saya peroleh seputar Laos dan pemelajar BIPA pun sangat sedikit sebelum keberangkatan saya di Laos. Ketika saya berada di KBRI Vientiane barulah saya mendapatkan data dan pengalaman nyata dari para pengajar BIPA yang sudah lebih dulu mengajar di KBRI Vientiane. Kursus bahasa Indonesia di KBRI Vientiane diselenggarakan secara gratis setiap tahun selama delapan bulan dari Maret hingga Oktober. Mayoritas pemelajar adalah mahasiswa, pegawai pemerintahan, dan tentara. Tantangan yang saya dapatkan saat itu adalah membuat kegiatan pembelajaran semenarik mungkin dan menembus kendala berbahasa di mana mayoritas pemelajar Lao tidak memahami bahasa Inggris sementara saya juga belum menguasai bahasa Lao. Pada dua minggu pertama sebelum kursus dimulai, saya menyiapkan materi baru yang akan dipakai selama empat bulan berikut dengan media pembelajaran baik kartu kata maupun lagu dan video. Saya sempat merasa gugup ketika menghadapi pertemuan pertama karena jumlah pemelajar dalam satu kelas mencapai 25 orang ditambah keterbatasan bahasa Lao yang saya miliki dan mereka tidak bisa memahami bahasa Inggris jika saya berbicara sepenuhnya dalam bahasa Inggris. Akhirnya saya tetap menggunakan sedikit bahasa Inggris lalu ditambah dengan bahasa Lao yang saya pelajari dan bahasa Indonesia sebagai bahasa utama yang saya gunakan dan perkenalkan secara pelan-pelan ketika saya memperkenalkan diri kepada mereka. img-20160530-wa0014Antusiasme pemelajar Lao terhadap Bahasa Indonesia ternyata cukup besar. Seiring berjalannya kursus saya memberikan kesempatan mereka untuk mendengarkan lagu Indonesia dan menonton film Indonesia berjudul Habibie & Ainun. Beberapa dari mereka sangat mengagumi mantan presiden RI Bapak Habibie setelah menonton film tersebut. Beberapa yang lain jatuh cinta dengan kecantikan Bunga Citra Lestari dan ketampanan Reza Rahardian. Para pemelajar juga meminta film tersebut kepada saya untuk belajar bahasa Indonesia. Ada pula yang mengunduh lagu “Cinta Sejati” yang terdapat dalam film Habibie & Ainun untuk belajar membiasakan diri mendengarkan kosakata bahasa Indonesia. Pada kesempatan lainnya para pemelajar saya bagi dalam beberapa kelompok untuk berlatih menggunakan kata tanya dan responnya melalui permainan ular tangga. Aktivitas ini juga sangat menarik minat pemelajar dalam proses mengenal dan menyukai bahasa Indonesia. Para pemelajar terutama bapak-bapak tentara yang usianya ada yang mencapai 40-50 tahun mengaku senang dengan kegiatan seperti itu karena beliau belajar bahasa melalui kegiatan yang menyenangkan sehingga beliau tidak merasa tertekan atau dituntut untuk menguasai bahasa yang sedang dipelajari. Selain kegiatan menonton dan bermain dalam kelompok, beberapa pemelajar juga mendapat kesempatan untuk mengenakan pakaian adat Indonesia ketika KBRI Vientiane menyelenggarakan malam kesenian bertajuk Wonderful Indonesia in Laos. Mereka sangat senang bisa berpartisipasi dan mengenakan pakaian adat Indonesia secara langsung. Tidak hanya itu, para pemelajar juga berkesempatan memainkan alat musik angklung  dalam acara tersebut. Dari empat bulan penugasan saya mengajar BIPA di Laos saya belajar bahwa memang benar pengajaran bahasa asing itu harus dilakukan melalui aktivitas yang menyenangkan sehingga para pemelajar tidak merasa tertekan apalagi terbebani dalam mempelajari bahasa tersebut. Lagu, film, permainan tradisional, dan pengenalan budaya adalah beberapa cara yang saya rasakan sangat bermanfaat dalam kegiatan pembelajaran bahasa Indonesia di kelas. Waktu empat bulan dengan jadwal belajar dua kali seminggu bagi pemelajar Lao tentu belumlah cukup untuk menguasai bahasa yang baru mereka pelajari. Namun satu hal yang saya yakini adalah pasti ada hal yang melekat dalam ingatan mereka tentang Indonesia ketika mempelajari bahasa Indonesia di kelas yang kelak mungkin akan membawa mereka ke Indonesia baik untuk belajar, bekerja, ataupun sekadar berwisata.
cli-2016-students-and-instructorsApa itu CLI ASU – Indonesian (Critical Language Institute at Arizona State University). CLI sudah berdiri sejak 1991 di bawah the Melikian Center, ASU. Tahun 2016 adalah untuk kali pertama Bahasa Indonesia masuk Program CLI dengan 6 orang mahasiswa. Program CLI pertama di Indonesia akan dilaksanakan di Bali atas kerja sama dengan Universitas Ngurah Rai dan APBIPA Bali. Program ini terdiri dari dua bagian. Bagian pertama adalah pelatihan BIPA di Critical Language Institute at Arizona State University, Tempe, USA. Salah seorang instruktur APBIPA Bali bertugas selama 2 bulan untuk mengajarkan BIPA kepada empat mahasiswa Amerika. Mereka tidak memiliki pengalaman tentang Indonesia atau Bahasa Indonesia. Jadi, mereka datang ke kelas BIPA tanpat bekal sepatah kata pun dalam Bahasa Indonesia. Setelah 2 bulan (23 Mei – 15 Juli 2016) mereka harus mampu meperoleh tingkat kemahiran pada Tingkat Novice High.   bali-2Setelah mengikuti pelatihan di Amerika mereka harus mengikuti pelatihan lanjutan di Denpasar Bali selama 4 minggu (18 Juli – 12 Agustus). Seluruh program di Bali dikoordinasikan oleh Universitas Ngurah Rai dan APBIPA Bali. Bagian kedua dari program ini adalah kursus BIPA selama dua bulan untuk grup yang lain. Program ini mulai pada 20 Juni 2016 dan selesai pada 12 Agustus 2016. Dengan demikian seluruh peserta BIPA selesai pada saat yang sama dan mereka kembali ke Amerika pada yang sama juga. Selama program mahasiswa dikondisikan agar senantiasa mendengar, mengungkapkan ide dll semuanya dalam Bahasa Indonesia melalui empat komponen wajib sbb: – Bahasa Indonesia – Budaya Indonesia (Bali) – Keluarga Angkat – Mahasiswa pendamping
10 Tahun Perjalanan Program Sertifkat Guru BIPA Level 1, 2, dan 3 Bipa 1Dimulai dari Lokakarya Metodologi Pengajaran BIPA Regional 1 pada 1997, APBIPA Bali bekerja sama denga IALF Bali untuk melatih guru-guru BIPA yang ada di Denpasar – melengkapi mereka dengan keterampilan metodologi pengajaran BIPA. Sampai pada 2005 Lokakarya ini dilaksanakan setiap tahun, apda hari Sabtu bulan Oktober atau November dalam rangka menyemarakkan bulan bahasa. Biasanya sekitar 50 peserta hadir dalam kegiatan tahunan ini. Pada 2006 APBIPA Bali mulai merancang program pelatihan guru secara lebih komprehensif. Dalam draftnya, program ini diberi nama Sertifikat Guru BIPA 1, 2, 3 yang diilhami oleh sejumlah program dengan nama yang mirip seperti RSA Certificate dan CertTESOL. Dengan total 40 jam belajar program ini pertama kali diluncurkan I Pusat Bahasa (sekarang Badan Bahasa) berupa pelatihan intensif semalam satu minggu (5 hari) kepada staf Pusat Bahasa yang membidangi unit BIPA serta staf Balai Bahasa dari berbagai provinsi di seluruh Indonesia. Untuk program di Pusat Bahasa, kursus ini diberi nama Prasertifikasi Guru BIPA dengan harapan Pusat Bahasa akan segera mengambil langkah-langkah strategis untuk melakukan program sertifikasi guru BIPA. Namun, perubahan status Pusat Bahasa menjadi Badan Bahasa telah mengakibatkan program sertifikasi itu terhenti. Bipa 5APBIPA Bali tidak berhenti sampai di sini. Tim APBIPA Bali lalu memperkenalkan program ini dengan membuat kemasan ulang dengan nama Program Sertifikat Guru BIPA Level 1, 2, dan 3. Karena berbagai faktor di lapangan maka Tim APBIPA Bali melakukan penyesuaian dan perubahan. Perubahan pertama adalah mengurangi lama kursus dari 5 hari menjadi 3 hari – biasanya Rabu – Jumat. Perubahan ke dua adalah mengurangi jumlah jam belajar dari 40 jam menjadi 30 jam. Akibatnya, sejak 2010 program ini menjadi lokakarya selama 3 hari dengan 30 jam belajar sangat intensif. Sejak 2008 telah dilaksanakan sebanyak 30 kursus dengan jumlah peserta antara 28 – 34 peserta untuk setiap kegiatan. Jumlah alumi ini telah menyebar hamper ke sluruh Indonesia terutama di Pulau Jawa, Bali, Kalimantan, Lombok, Sulawesi, dan Maluku. Banyak di antara pada alumni kini sudah menjadi instruktur kursus serupa dengan nama kursus yang berbeda, namun dengan mengadopsi strategi pembelajaran yang diberikan khususnya dalam Program Sertifikat Guru BIPA Level 1. Banyak pembaruan yang telah dilakukan oleh APBIPA Bali: mengusulkan nama APBIPA Indonesia (1999) yang telah diubah menjadi APPBIPA (2016). Singkatan UKBIPA juga diusulkan oleh APBIPA Bali pada 2007 pada Diskusi Panel dalam Semiloka Internasional Pengajaran BIPA yang pertama di Hotel Grand Melia, Jakarta. Bipa 4Dalam perjalanannya APBIPA Bali kini telah menandatangani Nota Kesepahaman dengan sejumlah lembaga termasuk: Sekolah Tinggi Pariwisata Bali (STPBI), Green School, Universitas Ngurah Rai, Universitas Dwijendra, dan Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW). Di masa-masa yang akan datang APBIPA Bali akan secara terus-menerus melakukan program-program pemberdayaan guru BIPA melalui program peningkatan kompetisi profesi guru BIPA (BIPA Professional Development Programs) untuk mendorong terciptanya pembelajaran BIPA yang lebih profesional. Namun ingat, Program Sertifikat Guru BIPA Level 1-4 bukanlah program sertifikasi melainkan semacam professional development activities bagi mereka yang senantiasa ingin meningkatkan keterampilan dalam pengajaran BIPA.
GEDUNG Achmad Sanusi, Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung, 4 Desember 2014. Sejak pukul 10:00 WIB, gedung ini telah dipenuhi oleh lebih dari enamratus orang. Umumnya mereka mahasiswa dengan pakaian yang rapi. Sejumlah orang yang duduk di kursi barisan depan terlihat mengenakan setelan jas atau blazer. Mereka adalah peserta Lomba Presenter Berita Akademi Indosiar. Sebuah acara yang diselenggarakan oleh Stasiun TV Indosiar, bekerjasama dengan Departemen Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Pengetahuan Sosial, Universitas Pendidikan Indonesia. Di salah satu kursi, tampaklah seorang peserta perempuan sedang membaca beberapa kalimat di layar telepon pintarnya. Ia menghapal kalimat yang mesti diucapkan ketika mendapat giliran nanti. Namanya Lu Ying Xuan, mahasiswa asing yang berasal dari Tiongkok. Kepada Kim, temannya dari Korea, Lu Ying Xuan mengatakan bahwa ia merasa gugup. BIPA-UPI-2Selain Lu Ying Xuan, mahasiswa asing dari Tiongkok lainnya adalah Huang Meng Jiao dan Wang Qun. Ada juga Jeffrey Alexius Brandes (Belanda), Le Thi Ha (Vietnam), Minami Ninagawa (Jepang), dan Patricia Dorn (Jerman). Mereka juga mengikuti lomba tersebut. Mereka adalah para mahasiswa asing yang sejak September lalu belajar bahasa Indonesia di Balai Bahasa, Universitas Pendidikan Indonesia. Saat ini mereka belajar di tingkat menengah satu. Menurut Bapak Vidi Sukmayadi, dosen kelas menengah satu, lomba ini merupakan ajang untuk melatih keterampilan berbicara sekaligus mengasah keberanian para mahasiswanya untuk berbicara dalam bahasa Indonesia. Beliau menjelaskan, persiapan dan latihan dilakukan selama empat hari. Mulanya, mahasiswa diajak menyaksikan beberapa berita di televisi. Dengan demikian, mereka dapat mengetahui dan mempelajari cara presenter ketika membuka dan membacakan berita. Hal-hal yang mereka pelajari meliputi pemilihan kata, artikulasi, dan tempo pada saat berbicara. Setelah itu, mahasiswa mulai berlatih sambil mendapat bimbingan dari dosen. Mahasiswa juga dibebaskan untuk memilih dan mengadaptasi salah satu gaya presenter di televisi. Aksen khas bahasa pertama para mahasiswa ini menjadi kendala ketika mereka melatih pelafalan disertai intonasi yang tepat, sebagaimana pembaca berita di Indonesia pada umumnya. Namun, hal tersebut tidak menjadi halangan bagi mereka untuk tetap mengikuti lomba. “Kegiatan pembelajaran berbicara yang selama ini diterima di kelas juga menjadi bekal mereka dalam mengikuti lomba ini,”tutur Pak Vidi. Sementara itu, berbeda dengan Lu Ying Xuan, Minami Ninagawa mengaku tidak terlalu gugup. “Semua penonton memberi semangat kepada saya. Jadi saya bisa tampil sambil tersenyum”, ujar mojang Jepang ini. Demikian pula yang dirasakan oleh Le Thi Ha. Ia bahkan tidak merasa gugup sama sekali karena merasa pasti kalah jika harus bersaing dengan peserta dari Indonesia. Hal ini membuatnya merasa tak punya beban apapun. “Saya pikir saya pasti kalah. Jadi tidak apa-apa. Santai saja”, ujarnya dengan bahasa Indonesia yang lancar. Namun, ternyata sikap tenang Le Thi Ha itulah justru yang mengantarnya ke babak final. Selain Le Thi Ha, Huang Meng Jiao (Tiongkok) juga berhasil masuk ke babak final dalam lomba tersebut. Hal ini merupakan kebanggaan tersendiri, baik bagi para mahasiswa maupun bagi Balai Bahasa, UPI. Pak Vidi mengatakan, baru kali ini ada mahasiswa BIPA (Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing) yang mengikuti Audisi Presenter Indosiar. “Ini hasil kerja keras mereka”, ujar beliau dengan wajah bahagia. Kesempatan yang jarang ini juga menjadi pengalaman yang berharga bagi para mahasiswa asing tersebut. “Kami merasa sangat beruntung”, ujar Lu Ying Xuang. Ketika ditanya, hal apalagi yang berkesan dari pengalaman mengikuti lomba ini, Lu menjawab bahwa ia menyukai suasana lomba di Indonesia. “Selalu ramah dan ramai!” ujarnya. Suasana ini berbeda dengan suasana lomba yang ia rasakan sebelumnya. Biasanya lomba sangat serius, sehingga ketika melakukan kesalahan peserta akan menjadi lebih gugup. “Tetapi di sini, meskipun salah, tidak apa-apa”, ujar Lu yang juga senang karena dapat bertemu langsung dengan Walikota Bandung, Ridwan Kamil, dalam acara lomba tersebut. ** — Ellis Artyana – Pengajar BIPA Balai Bahasa UPI
View Desktop Site