Category Archives: APBIPA Bali

Cradle Activities 2017

CRADLE is an organisation that works to produce social empowerment and change for young people who live in disadvantage in Indonesia (Bali). The organization has established partnerships with universitites and NGO’s to access resources to facilitate change for young people embedded in disadvantaged lives. CRADLE will allow the building of opportunities to apply resources in ways that create change. While the focus of CRADLE is on young people, we recognise that working with the young will necessitate acting within their contexts and that this will and should catalyse future social change and impact not just for the young but for their communities. Our initial stepping stone for the project is to work with disadvantaged children in Bali through the provision of educational and cultural activities. These programs and activities are aimed at empowering the children with skills and knowledge so that they can later formulate and reach their goal in life. Our team initially works with the children to boost their confidence to speak up in public while maintaining their Balinese cultural identities through continued mastery of practical skills of Balinese arts and culture. We help them to realise what they would like to achieve for their future education and career by providing special training programs. So, we cannot shape their future or make decision for them but we will show them alternatives and guidelines. CRADLE is supported by partner organisations in Bali and outside Bali: Ngurah Rai University, Dwijendra University, Slukat Learning Centre, APBIPA Bali, Ngurah Rai University Language Centre and Charles Darwin University, Australia. We also have individuals and professional people who are willing to work as volunteers for the project. We would welcome interested parties to participate as supporters or volunteers in the project or any other roles they could possibly take. (For more information please contact nriasa@apbipabali.org or nici.barnes@cdu.edu.au)
On December 11-14, 2017, APBIPA Bali provided a short Indonesian language course to two students of Wesley College, Perth. The course was conducted at Bali Club Med in the Nusa Dua Resort Area, a 35-minute drive from Denpasar.   During my very first hour of the session with the students (Michael and Sam) I already had two concluding points for them and their Bahasa Indonesia level. 1) Each of them already had a good foundation of the language training in relation to their current grade. This also implied that they had been very well taught by a professional teacher back in Perth. Through our conversation in Bahasa Indonesia, I tried to check (especially with Michael) on a number of Indonesian linguistic concepts and the result was FANTASTIC. I should pay my full respect to Ibu Laura Wimsett, their teacher (and or the teacher before her), who has also been an old friend of APBIPA Bali. 2) Both students had a very strong commitment to their learning as they always did every activity through the hour. They asked me with excellent questions about Bahasa Indonesia and Indonesia. From the first meeting I always assigned them an after class project making them communicate in Bahasa Indonesia with the Club Med staff members or Indonesian people they met during their outdoor activities. Following the short course, I am happy to share a note from Mrs Denise Buchanan, the students’ mother, who specially wrote to us about the students’ opinions on the course. This is what she wrote: “In December 2017 two of my sons and I visited Bali. On the recommendation of the Indonesian Teacher from their school, we arranged with Mr Nyoman Riasa from APBIPA Bali for the boys to have individual Indonesian lessons daily. Mr Riasa offered us the option of lessons at the APBIPA Bali premises or at our hotel. To keep things relaxed for us, we opted for Mr Riasa to work with the boys at our Hotel in Nusa Dua. Sam (13) and Michael (14) have been learning Indonesian at their school in Perth, Western Australia for several years and hope to continue to year twelve. Mr Riasa tailored the lessons to meet each boys’ current level of ability. Both boys felt Mr Riasa was an exceptional teacher, and this was evident in the way they were so keen to attend the lessons daily and practice what they had been taught. Once the staff at our hotel realised the boys were learning Indonesian they encouraged them, and were eager to help answer the questions in the worksheets the boys were given each day. The hotel had many varied activities for the boys, but when I asked my sons what the highlight of the trip had been for them, they both agreed that it was the Indonesian lessons. It gave them an appreciation of why learning a language is so valuable and it built a stronger connection to the Balinese people. If you are interested in learning or furthering your understanding of the Indonesian language, we cannot recommend Mr Riasa and his team at APBIPA Bali too highly. He is quite outstanding“.
BIPA? Apa itu BIPA? Oleh Dian Anggraini Febtiani Dian KorselKalimat itu yang terlintas dibenak saya saat mengambil mata kuliah pilihan ketika saya menempuh program pascasarjana di UPI tahun 2014. Setelah saya mengikuti perkuliahan saya merasa “Kok mengajar BIPA itu menyenangkan ya?” padahal saya adalah orang yang paling tidak mau menjadi tenaga pengajar. Maret 2015, dosen saya yang bernama Bu Nuny memperkenalkan saya dengan teman beliau yang bernama Pak Nyoman Riasa yang berada di Bali untuk kepentingan tugas mata kuliah. Saya takjub ketika bertemu dengan beliau di Bali, karena beliau mau meluangkan waktu untuk berdiskusi perihal BIPA dengan saya (seorang mahasiswa) yang masih sangat buta dalam dunia BIPA. Beliau sangat memotivasi saya. IMG_5204Agustus 2016, saya meraih gelar magister dan berselang satu pekan saya kembali mendapatkan kesempatan untuk bertemu dengan Pak Nyoman di Bandung. Saya sangat senang karena dapat mengikuti pelatihan Program Sertifikat Guru BIPA Level 1: Metodologi Pengajaran BIPA difasilitas oleh beliau dan diselenggarakan oleh Program BIPA Universitas Katolik Parahyangan (UNPAR), Bandung. Di pelatihan itu saya juga bertemu dengan teman baru dan mendapatkan banyak ilmu untuk mengajar siswa BIPA, yang membuat saya mulai lebih paham “Oh ini BIPA”. Setelah pelatihan itu selesai, saya masih belum mengetahui apa yang akan saya lakukan dengan ilmu yang telah saya miliki. Satu bulan dua bulan berlalu, saya mendapatkan kesempatan mengajar siswa BIPA dari Thailand. Itu adalah kesempatan saya untuk mengembangkan ilmu dari pelatihan tersebut, tetapi saya merasa tidak maksimal karena pikiran saya terbagi untuk menjaga ibu saya yang sedang berjuang melawan kanker selama dua tahun. Namun, saat itu juga saya berjanji untuk mengembangkan ilmu itu suatu hari nanti. Januari 2017, salah satu teman yang duduk di samping saya pada saat pelatihan BIPA di UNPAR itu, Ibu Theresia, menghubungi saya dan meminta saya untuk menjadi tenaga pengajar di UNPAR. Saya sangat takjub karena melalui BIPA ada banyak jalan yang dapat saya lalui juga. Hingga saya menuliskan cerita ini, beliau (Pak Nyoman) berpesan, “Tetaplah di jalan BIPA, ada banyak hal di sana. Kalau pulang lewat Denpasar, kita bisa ngopi bareng.” Pesan ini semakin membuat saya ingin terjun lebih jauh di dunia BIPA. IMG_5980Saya merasa sedih karena saya melewatkan beberapa pelatihan BIPA yang diadakan di Bandung. Yang pertama bertepatan dengan meninggalnya ibu saya dan yang kedua, saat ini, saya sedang berada di Korea Selatan untuk mengajarkan BIPA dan menepati janji saya untuk mengembangkan ilmu yang telah saya dapatkan. Saya tidak pandai merangkai kata yang baik dan indah, meskipun ada banyak kata di benak saya yang ingin saya utarakan. Terima kasih Pak Nyoman atas ilmu yang yang telah Bapak berikan kepada saya. Sehingga, saya dapat membuat siswa saya mampu belajar dengan cara yang menyenangkan. Pasang surut dunia BIPA yang saya lalui selalu membuat saya mengerti bahwa sesuatu yang indah sering kali datang tanpa permisi bahkan ketika kita tidak berharap.
Penghargaan Satya Abdi Budaya bagi Pejuang BIPA Penghargaan Satya Abdi Budaya (SAB) adalah sebuah perjuangan, sebuah cita-cita, sebuah ketegaran serta sebuah pengakuan. Tidak saja itu, SAB adalah juga cinta terhadap Indonesia, ketidaklekangan pengabdian terhadap Bahasa Indonesia serta pencapaian atas sebuah upaya dan perjuangan yang panjang. Penerima penghargaan 2017 SAB 2017 2Penerima Satya Abdi Budaya (SAB) yang kedua adalah Prof. Dr. Dendy Sugono, M.Hum (Pak Dendy) dan Dr. Erlin Susanti Barnard (Ibu Erlin) masing-masing mewakili pejuang BIPA nasional dan internasional. Penyerahan penghargaan SAB II dilaksanakan dalam rangka Konferensi Internasional Pengajaran BIPA X di kota Batu, Malang pada 12-14 Oktober 2017. Saya berkenalan cukup dekat dengan Pak Dendy sejak tahun 2000 terutama ketika saya harus sering bertamu ke Pusat Bahasa (kini Badan Bahasa) Departemen Pendidikan Nasional di Rawamangun, Jakarta. Kunjungan saya ke Pusat Bahasa saat itu adalah dalam rangka pelaksanaan KIPBIPA IV di Denpasar. IALF Bali adalah lembaga penyelenggara saat itu bekerja sama dengan APBIPA Bali dan pada saat itu saya adalah Program Manager, Indonesian Language Services IALF Bali dan Sekretaris APBIPA Bali sementara Pak Dendy adalah Kepala Pusat Bahasa. Pertemuan saya dengan Pak Dendy semakin sering sejak 2006 ketika beliau hendak melakukan standarisasi program BIPA di Indonesia. Pertanyaan saya saat itu kepada beliau adalah, “Bagaimana mungkin Pusat Bahasa melakukan standarisasi sementara Pusat Bahasa sendiri tidak memiliki unit BIPA? Apakah teman-teman di Pusat Bahasa benar-benar paham tentang BIPA?” Singkat cerita Pusat Bahasa berencana membuat unit BIPA dan memulainya dengan penyelenggaraan Lokakarya Prasertifikasi Guru BIPA (2006 – 2008) dengan harapan Pusat Bahasa akan segera melaksanakan program standardisasi program BIPA beberapa tahun kemudian. APBIPA Bali diminta untuk membuat struktur program: 40 jam pelajaran terstruktur di dalam kelas dan 20 jam kerja mandiri selama satu minggu. (Pada 2009 Program Prasertifikasi Guru BIPA ini didesain ulang oleh APBIPA Bali menjadi Program Sertifikat Guru BIPA Level 1-4 seperti saat ini). Hal ini dilakukan karena tanda-tanda program sertifikasi program BIPA oleh pihak yang berkompeten untuk itu tidak kunjung tiba padahal keterampilan guru BIPA sangat diperlukan. SAB 2017Saya ingat kali pertama bertemu dengan Ibu Erlin Barnard pada tahun 1996 saat penyelenggaraan KIPBIPA II di IKIP Padang (kini Universitas Negeri Padang). Saya sempat ngobrol sekitar 20 menit saja. Pertamuan kedua saya dengan ibu Erlin terjadi di kota Bandung pada 1999 di sela-sela KIPBIPA III di IKIP Bandung (sekarang Universitas Pendidikan Indonesia). Jika tidak salah saat itu beliau masih bertugas di Singapura. Ibu Erlin Barnard, Ph.D. adalah Koordinator Pedagogi untuk Bahasa pada Asian Languages and Culture, Universitas Wisconsin, dengan tugas utama mengawasi aspek-aspek pedagogis dan perkembangan pembelajaran bahasa yang sering diajarkan di UW-Madison. Ia adalah alumni Jurusan Pendidikan Bahasa Inggris IKIP Malang (1986) dan telah memperole gelar doktor dari Leeds Metropolitan University pada 2004. Selama karirnya ia telah menjadi fasilitator pengembangan pedagogi di A.S, Indonesia, Malaysia, Belanda, dan Singapura. Sejumlah buku ajar BIPA sudah ia terbitkan termasuk Nah, Baca!, Ayo Berbahasa Indonesia. Ada begitu banyak prestasi akademik yang telah dicapai oleh Ibu Erlin termasuk penghargaan bergengi berupa ‘The Chancellor’s Award for Excellence in Service’ (2012). Riwayat lahirnya SAB Di dunia BIPA, Satya Abdi Budaya adalah sebuah pengakuan dan pernghargaan kepada individu yang telah dengan terus-menerus mengabdi untuk mengajarkan, meneliti, menulis serta berpikir untuk mengembangkan dan mempertahankan pengajaran Bahasa dan Budaya Indonesia di dalam luar negeri. Sejak 2010, ketika saya dipilih sebagai Ketua Umum APBIPA Indonesia saya sudah berhasrat untuk memberikan penghargaan kepada para insan BIPA dengan pencapaian yang luar biasa dalam perkembangan dan pengembangan Bahasa Indonesia di dalam dan luar negeri, tidak saja dalam pengajaran melainkan juga dalam berbagai aksi dan program. GQuinn 2Perhelatan Konferensi Internasional Pengajaran BIPA (KIPBIPA) adalah saat yang paling tepat bagi APBIPA Indonesia untuk menyerahkan penghargaan ini kepada yang paling berhak. Namun, antara 2010-2012 kami belum berhasil menemukan nama yang tepat untuk penghargaan itu. Itulah sebabnya pada KIPBIPA VIII (2012) di Universitas Kristen Satya Wacanan keinginan ini belum bisa diwujudkan. Alasan lain adalah pada saat itu ada begitu banyak persiapan yang harus dilakukan oleh Panitia KIPBIPA VIII dan APBIPA Indonesia karena penyelenggarakan KIPBIPA VIII saat itu dirangkaikan dengan pelaksanaan Konferensi ASILE (Australian Society for Indonesian Language Educators). APBIPA Indonesia belum merasa siap untuk itu. Keinginan untuk memberikan penghargaan SAB itu menguat pada 2014. Pada saat itu saya sudah menetapkan bahwa hal ini harus dilaksanakan pada KIPBIPA IX di Denpasar 30 September -2 Oktober 2015. Saya lalu berdiskusi panjang hanya dengan M. Bundhowi (Pak Bun – Conference Manager KIPBIPA IX) karena kami ingin agar ini menjadi ‘kejutan’ dalam KIPBIPA IX terutama bagi penerimanya. Setelah menetapkan nama, saya lalu meminta bantuan Pak Bun untuk merancang bentuk fisik serifikat dan trofi SAB tersebut. Dalam diskusi di Pusat Bahasa Universitas Ngurah Rai pada akhir 2014 disepakati dua nama penerima SAB: Dr. Widodo Hs., M.Pd (Indonesia – nasional) dan Prof. George Quinn (Australia – ineternasional). Kedua tokoh ini hampir sepanjang karirnya tetap berada di jalur BIPA melalui lembaga atau universitas masing. Untuk dan karena alasan tersebut keduanya dinobatkan menjadi penerima penghargaan Satya Abdi Budaya I.

Perjalanan Tim BIPA Dahsyat Mengikuti Konferensi ASILE 2016 di Adelaide, Australia

Ariani Selviana Pardosi

ariani-1Semula, terbesit dalam pikirku mengapa turut menghadiri ajang konferensi ASILE 2016. Australian Society of Indonesia Language Educators, tentulah ajang ini untuk kalangan pengajar Bahasa Indonesia di Australia. Pantaslah, bila pertanyaan dari peserta lain, “Ibu mengajar di mana?Brisbane, Perth, Melbourne?” Ketika kujawab, “Saya dari Indonesia.Mengajar di Jakarta?”, ada sedikit kesan heran. Aku menduga mereka berpikir, “Jauh-jauh amat datang dari Indonesia!Biayanya besar, kan?” Terlebih beberapa pengajar di Australia pun menimbang–nimbang untuk hadir mengingat biaya keikutsertaan untuk acara ini yang relatif mahal. Bagi kami yang bermukim di tanah air tentu ada biaya ekstra administratif, akomodasi, dan transportasi untuk bisa sampai di Adelaide. Telah lama kudengar bahwa bahasa Indonesia menjadi bahasa kedua di Negeri Kangguru ini. David Reeve seorang pengajar Bahasa Indonesia di Univesitas Sydney yang juga hadir di ajang tersebut menuturkan bahwa bahasa Indonesia mulai diajarkan di Australian pada era 1960-an. Alasan inilah yang mendorong kami untuk hadir di ajang dua tahunan ini. Paling tidak kami menyaksikan dan mengamini akan geliat, motivasi, dan kesungguhan pengajaran Bahasa Indonesia di Australia dengan mata sendiri. Pengorbanan finansial dan waktu menjadi tak ada artinya dibandingkan dengan pembelajaran, pengetahuan, dan pengalaman yang kami dapat sebelum, selama, dan sesudah ajang ASILE 2016 tersebut. ariani-2Sebelum menghadiri ASILE 2016 di Adelaide, kami ‘terdampar’ di Melbourne. Sahabat kami yang juga pengajar Bahasa Indonesia di Damascus College, Ballarat, Silvy Watania menyambut dengan hangat. Dari perjumpaan ini, kami memeroleh gambaran pembelajaran Bahasa Indonesia di Melbourne, kesempatan berdiskusi aneka metode pembelajaran, dan yang tak kalah berharga kami merasakan kehangatan persahabatan, bercengkerama dalam canda dan tawa. Sungguh sebuah kesempatan yang tak ternilai. Dalam ajang ASILE 2016, kami dikejutkan dengan kesungguhan para pegiat dan pengajar BIPA menggagas dan meningkatkan kualitas pembelajaran. Pemakalah berkebangsaan Indonesia maupun Australia pada umumnya berbagi metode dan pendekatan pembelajaran Bahasa Indonesia. Terbesit rasa haru dan bangga akan motivasi mereka, tetapi terselip juga rasa malu menghadapi kenyataan beberapa pengajar berkebangsaan Australia yang lebih cinta Indonesia daripada pengajar asli Indonesia. Sedikit disayangkan, bahasa pengantar ajang konferensi menggunakan bahasa Inggris. Namun, dalam komunikasi antarpeserta terbangun suasana sangat Indonesia yang sesekali diselingi dengan celoteh aneka bahasa daerah. Lima tahun belakangan ini, peminat belajar bahasa Indonesia di Australia dikalahkan oleh peminat bahasa China dan Jepang. Selain alasan ekonomis dan politis, Prof.Dr.George Quinn, pengajar dan pemerhati bahasa Indonesia dari Australia National University menyatakan bahwa ada dua kendala besar-beliau mengistilahi dengan 2 elephants-dalam pengajaran bahasa Indonesia di Australia. Gajah pertama adalah issue berkaitan dengan Islam di Indonesia dan gajah kedua adalah dampak globalisasi bahasa Inggris. Untuk gajah kedua ini, beliau mengisahkan orang Australia yang datang ke Jogjakarta untuk memperdalam bahasa dan budaya Indonesia. Saat bertemu dengan penduduk lokal ‘malah’ mendapat ajakan, “Can I practise English with you, Sir?”. Hahaha… pupus sudah harapan orang Australia ini untuk bisa belajar bahasa Indonesia dari penutur asli. Rupanya, dampak globalisasi menumbuhkan minat orang Indonesia untuk bisa berbahasa Inggris sehingga pertemuan dengan ‘orang asing’ dianggap sebagai sebuah kesempatan praktik berbicara. Hem… ariani-3Kejutan-kejutan lain yang kudapatkan dari beberapa pemakalah adalah ketertarikan mereka akan perkembangan bahasa gaul di Indonesia. Mereka menanggapi gejala itu sebagai sesuatu yang berdampak buruk bagi keberadaan bahasa Indonesia formal. Ironisnya, penutur asli –bahkan kita pengajar–sadar tidak sadar menanggapi hal ini sebagai sesuatu yang enteng terbukti dengan seringkali kita memakai bahasa gaul sebagai pengantar mengajar dan berbicara di ajang formal lainnya. Kita kerap tanpa dosa memakai bahasa gaul dalam forum resmi. Seusai konferensi ASILE 2016, tim BIPA Dahsyat mendapat kesempatan berada di kelas-kelas Indonesian Studies Universitas Flinders. Universitas ini sangat tertarik belajar budaya dan bahasa Indonesia. Kecintaan terhadap budaya Indonesia ditandai dengan adanya komunitas gamelan yang dianggotai orang Australia. Mereka piawai menabuh aneka musik gamelan bahkan terampil menyinden. Luar biasa! Seusai ajang ASILE 2016, Bipa Dahsyat mendapat kesempatan mengajar di kelas Ibu Michelle Kohler dan Ibu Firdaus, Universitas Flinders. Di kelas Ibu Michelle, kami mendapat kesempatan membahas masalah umum keberagaman Indonesia dan secara khusus tentang “Toleransi Beragama”.Dalam kesempatan ini, kami meneguhkan persepsi bahwa Indonesia adalah negara yang penuh toleransi dan harmonisasi dalam keneragaman budaya dan agama. Kami mencoba menepis kesan bahwa Indonesia penuh konflik karena perbedaan agama. Dalam kesempatan ini, kami pun mengajar aneka salam keagamaan sebagai upaya mewujudkan toleransi beragama, assalamualaikum, syalom, namo budhaya, om swastiastu. Ah… indahnya perbedaan. ariani-4Saat mengisi kelas Ibu Firdaus, kami mendapat kesempatan memperkenalkan Bipa Dahsyat. Sungguh sebuah kesem-patan yang tidak terduga. Kami menjelaskan text books dan media ajar kami yang menggugah dan menggairahkan. Respons mereka, “Wah…buku integratif seperti ini yang kami cari!”,“Di mana dan bagaimana cara mendapatkan buku itu?”,“Kami ingin memiliki media ajar itu!” Komentar-komentar yang menyemangati kami untuk terus berkarya demi bahasa Indonesia yang bermartabat. Ajang ASILE 2016 telah memperkaya wawasan belajar dan mengajar Bahasa Indonesia, memperkaya pertemanan kami dengan orang-orang hebat, tetapi tetap bersahaja, orang-orang yang tetap Indonesia sekalipun bertahun-tahun telah bermukim di Australia. Dari mereka, kami belajar bahwa berpikir harus global, tetapi berbudaya harus tetap lokal. Terima kasih APBIPA Bali yang telah memfasilitasi kami, terima kasih ASILE 2016 yang telah menjadi ajang refleksi kami, dan terima kasih BIPA Dahsyat yang telah memberi kesempatan dahsyat ini.
View Mobile Site