Print this pageEmail this to someoneShare on LinkedInShare on Google+Share on Facebook

Category Archives: APBIPA Bali

BIPA? Apa itu BIPA?
Oleh Dian Anggraini Febtiani

Dian KorselKalimat itu yang terlintas dibenak saya saat mengambil mata kuliah pilihan ketika saya menempuh program pascasarjana di UPI tahun 2014. Setelah saya mengikuti perkuliahan saya merasa “Kok mengajar BIPA itu menyenangkan ya?” padahal saya adalah orang yang paling tidak mau menjadi tenaga pengajar.

Maret 2015, dosen saya yang bernama Bu Nuny memperkenalkan saya dengan teman beliau yang bernama Pak Nyoman Riasa yang berada di Bali untuk kepentingan tugas mata kuliah. Saya takjub ketika bertemu dengan beliau di Bali, karena beliau mau meluangkan waktu untuk berdiskusi perihal BIPA dengan saya (seorang mahasiswa) yang masih sangat buta dalam dunia BIPA. Beliau sangat memotivasi saya.

IMG_5204Agustus 2016, saya meraih gelar magister dan berselang satu pekan saya kembali mendapatkan kesempatan untuk bertemu dengan Pak Nyoman di Bandung. Saya sangat senang karena dapat mengikuti pelatihan Program Sertifikat Guru BIPA Level 1: Metodologi Pengajaran BIPA difasilitas oleh beliau dan diselenggarakan oleh Program BIPA Universitas Katolik Parahyangan (UNPAR), Bandung.

Di pelatihan itu saya juga bertemu dengan teman baru dan mendapatkan banyak ilmu untuk mengajar siswa BIPA, yang membuat saya mulai lebih paham “Oh ini BIPA”. Setelah pelatihan itu selesai, saya masih belum mengetahui apa yang akan saya lakukan dengan ilmu yang telah saya miliki. Satu bulan dua bulan berlalu, saya mendapatkan kesempatan mengajar siswa BIPA dari Thailand. Itu adalah kesempatan saya untuk mengembangkan ilmu dari pelatihan tersebut, tetapi saya merasa tidak maksimal karena pikiran saya terbagi untuk menjaga ibu saya yang sedang berjuang melawan kanker selama dua tahun. Namun, saat itu juga saya berjanji untuk mengembangkan ilmu itu suatu hari nanti.

Januari 2017, salah satu teman yang duduk di samping saya pada saat pelatihan BIPA di UNPAR itu, Ibu Theresia, menghubungi saya dan meminta saya untuk menjadi tenaga pengajar di UNPAR. Saya sangat takjub karena melalui BIPA ada banyak jalan yang dapat saya lalui juga. Hingga saya menuliskan cerita ini, beliau (Pak Nyoman) berpesan, “Tetaplah di jalan BIPA, ada banyak hal di sana. Kalau pulang lewat Denpasar, kita bisa ngopi bareng.” Pesan ini semakin membuat saya ingin terjun lebih jauh di dunia BIPA.

IMG_5980Saya merasa sedih karena saya melewatkan beberapa pelatihan BIPA yang diadakan di Bandung. Yang pertama bertepatan dengan meninggalnya ibu saya dan yang kedua, saat ini, saya sedang berada di Korea Selatan untuk mengajarkan BIPA dan menepati janji saya untuk mengembangkan ilmu yang telah saya dapatkan.

Saya tidak pandai merangkai kata yang baik dan indah, meskipun ada banyak kata di benak saya yang ingin saya utarakan. Terima kasih Pak Nyoman atas ilmu yang yang telah Bapak berikan kepada saya. Sehingga, saya dapat membuat siswa saya mampu belajar dengan cara yang menyenangkan.

Pasang surut dunia BIPA yang saya lalui selalu membuat saya mengerti bahwa sesuatu yang indah sering kali datang tanpa permisi bahkan ketika kita tidak berharap.

Penghargaan Satya Abdi Budaya bagi Pejuang BIPA

Penghargaan Satya Abdi Budaya (SAB) adalah sebuah perjuangan, sebuah cita-cita, sebuah ketegaran serta sebuah pengakuan. Tidak saja itu, SAB adalah juga cinta terhadap Indonesia, ketidaklekangan pengabdian terhadap Bahasa Indonesia serta pencapaian atas sebuah upaya dan perjuangan yang panjang.

Penerima penghargaan 2017

SAB 2017 2Penerima Satya Abdi Budaya (SAB) yang kedua adalah Prof. Dr. Dendy Sugono, M.Hum (Pak Dendy) dan Dr. Erlin Susanti Barnard (Ibu Erlin) masing-masing mewakili pejuang BIPA nasional dan internasional. Penyerahan penghargaan SAB II dilaksanakan dalam rangka Konferensi Internasional Pengajaran BIPA X di kota Batu, Malang pada 12-14 Oktober 2017.

Saya berkenalan cukup dekat dengan Pak Dendy sejak tahun 2000 terutama ketika saya harus sering bertamu ke Pusat Bahasa (kini Badan Bahasa) Departemen Pendidikan Nasional di Rawamangun, Jakarta. Kunjungan saya ke Pusat Bahasa saat itu adalah dalam rangka pelaksanaan KIPBIPA IV di Denpasar. IALF Bali adalah lembaga penyelenggara saat itu bekerja sama dengan APBIPA Bali dan pada saat itu saya adalah Program Manager, Indonesian Language Services IALF Bali dan Sekretaris APBIPA Bali sementara Pak Dendy adalah Kepala Pusat Bahasa.

Pertemuan saya dengan Pak Dendy semakin sering sejak 2006 ketika beliau hendak melakukan standarisasi program BIPA di Indonesia. Pertanyaan saya saat itu kepada beliau adalah, “Bagaimana mungkin Pusat Bahasa melakukan standarisasi sementara Pusat Bahasa sendiri tidak memiliki unit BIPA? Apakah teman-teman di Pusat Bahasa benar-benar paham tentang BIPA?”

Singkat cerita Pusat Bahasa berencana membuat unit BIPA dan memulainya dengan penyelenggaraan Lokakarya Prasertifikasi Guru BIPA (2006 – 2008) dengan harapan Pusat Bahasa akan segera melaksanakan program standardisasi program BIPA beberapa tahun kemudian. APBIPA Bali diminta untuk membuat struktur program: 40 jam pelajaran terstruktur di dalam kelas dan 20 jam kerja mandiri selama satu minggu. (Pada 2009 Program Prasertifikasi Guru BIPA ini didesain ulang oleh APBIPA Bali menjadi Program Sertifikat Guru BIPA Level 1-4 seperti saat ini). Hal ini dilakukan karena tanda-tanda program sertifikasi program BIPA oleh pihak yang berkompeten untuk itu tidak kunjung tiba padahal keterampilan guru BIPA sangat diperlukan.

SAB 2017Saya ingat kali pertama bertemu dengan Ibu Erlin Barnard pada tahun 1996 saat penyelenggaraan KIPBIPA II di IKIP Padang (kini Universitas Negeri Padang). Saya sempat ngobrol sekitar 20 menit saja. Pertamuan kedua saya dengan ibu Erlin terjadi di kota Bandung pada 1999 di sela-sela KIPBIPA III di IKIP Bandung (sekarang Universitas Pendidikan Indonesia). Jika tidak salah saat itu beliau masih bertugas di Singapura.

Ibu Erlin Barnard, Ph.D. adalah Koordinator Pedagogi untuk Bahasa pada Asian Languages and Culture, Universitas Wisconsin, dengan tugas utama mengawasi aspek-aspek pedagogis dan perkembangan pembelajaran bahasa yang sering diajarkan di UW-Madison. Ia adalah alumni Jurusan Pendidikan Bahasa Inggris IKIP Malang (1986) dan telah memperole gelar doktor dari Leeds Metropolitan University pada 2004. Selama karirnya ia telah menjadi fasilitator pengembangan pedagogi di A.S, Indonesia, Malaysia, Belanda, dan Singapura. Sejumlah buku ajar BIPA sudah ia terbitkan termasuk Nah, Baca!, Ayo Berbahasa Indonesia. Ada begitu banyak prestasi akademik yang telah dicapai oleh Ibu Erlin termasuk penghargaan bergengi berupa ‘The Chancellor’s Award for Excellence in Service’ (2012).


Riwayat lahirnya SAB

Di dunia BIPA, Satya Abdi Budaya adalah sebuah pengakuan dan pernghargaan kepada individu yang telah dengan terus-menerus mengabdi untuk mengajarkan, meneliti, menulis serta berpikir untuk mengembangkan dan mempertahankan pengajaran Bahasa dan Budaya Indonesia di dalam luar negeri.

Sejak 2010, ketika saya dipilih sebagai Ketua Umum APBIPA Indonesia saya sudah berhasrat untuk memberikan penghargaan kepada para insan BIPA dengan pencapaian yang luar biasa dalam perkembangan dan pengembangan Bahasa Indonesia di dalam dan luar negeri, tidak saja dalam pengajaran melainkan juga dalam berbagai aksi dan program.

GQuinn 2Perhelatan Konferensi Internasional Pengajaran BIPA (KIPBIPA) adalah saat yang paling tepat bagi APBIPA Indonesia untuk menyerahkan penghargaan ini kepada yang paling berhak. Namun, antara 2010-2012 kami belum berhasil menemukan nama yang tepat untuk penghargaan itu. Itulah sebabnya pada KIPBIPA VIII (2012) di Universitas Kristen Satya Wacanan keinginan ini belum bisa diwujudkan. Alasan lain adalah pada saat itu ada begitu banyak persiapan yang harus dilakukan oleh Panitia KIPBIPA VIII dan APBIPA Indonesia karena penyelenggarakan KIPBIPA VIII saat itu dirangkaikan dengan pelaksanaan Konferensi ASILE (Australian Society for Indonesian Language Educators). APBIPA Indonesia belum merasa siap untuk itu.

Keinginan untuk memberikan penghargaan SAB itu menguat pada 2014. Pada saat itu saya sudah menetapkan bahwa hal ini harus dilaksanakan pada KIPBIPA IX di Denpasar 30 September -2 Oktober 2015. Saya lalu berdiskusi panjang hanya dengan M. Bundhowi (Pak Bun – Conference Manager KIPBIPA IX) karena kami ingin agar ini menjadi ‘kejutan’ dalam KIPBIPA IX terutama bagi penerimanya. Setelah menetapkan nama, saya lalu meminta bantuan Pak Bun untuk merancang bentuk fisik serifikat dan trofi SAB tersebut.

Dalam diskusi di Pusat Bahasa Universitas Ngurah Rai pada akhir 2014 disepakati dua nama penerima SAB: Dr. Widodo Hs., M.Pd (Indonesia – nasional) dan Prof. George Quinn (Australia – ineternasional). Kedua tokoh ini hampir sepanjang karirnya tetap berada di jalur BIPA melalui lembaga atau universitas masing. Untuk dan karena alasan tersebut keduanya dinobatkan menjadi penerima penghargaan Satya Abdi Budaya I.

Perjalanan Tim BIPA Dahsyat Mengikuti Konferensi ASILE 2016 di Adelaide, Australia

Ariani Selviana Pardosi

ariani-1Semula, terbesit dalam pikirku mengapa turut menghadiri ajang konferensi ASILE 2016. Australian Society of Indonesia Language Educators, tentulah ajang ini untuk kalangan pengajar Bahasa Indonesia di Australia. Pantaslah, bila pertanyaan dari peserta lain, “Ibu mengajar di mana?Brisbane, Perth, Melbourne?” Ketika kujawab, “Saya dari Indonesia.Mengajar di Jakarta?”, ada sedikit kesan heran. Aku menduga mereka berpikir, “Jauh-jauh amat datang dari Indonesia!Biayanya besar, kan?” Terlebih beberapa pengajar di Australia pun menimbang–nimbang untuk hadir mengingat biaya keikutsertaan untuk acara ini yang relatif mahal. Bagi kami yang bermukim di tanah air tentu ada biaya ekstra administratif, akomodasi, dan transportasi untuk bisa sampai di Adelaide.

Telah lama kudengar bahwa bahasa Indonesia menjadi bahasa kedua di Negeri Kangguru ini. David Reeve seorang pengajar Bahasa Indonesia di Univesitas Sydney yang juga hadir di ajang tersebut menuturkan bahwa bahasa Indonesia mulai diajarkan di Australian pada era 1960-an. Alasan inilah yang mendorong kami untuk hadir di ajang dua tahunan ini. Paling tidak kami menyaksikan dan mengamini akan geliat, motivasi, dan kesungguhan pengajaran Bahasa Indonesia di Australia dengan mata sendiri. Pengorbanan finansial dan waktu menjadi tak ada artinya dibandingkan dengan pembelajaran, pengetahuan, dan pengalaman yang kami dapat sebelum, selama, dan sesudah ajang ASILE 2016 tersebut.

ariani-2Sebelum menghadiri ASILE 2016 di Adelaide, kami ‘terdampar’ di Melbourne. Sahabat kami yang juga pengajar Bahasa Indonesia di Damascus College, Ballarat, Silvy Watania menyambut dengan hangat. Dari perjumpaan ini, kami memeroleh gambaran pembelajaran Bahasa Indonesia di Melbourne, kesempatan berdiskusi aneka metode pembelajaran, dan yang tak kalah berharga kami merasakan kehangatan persahabatan, bercengkerama dalam canda dan tawa. Sungguh sebuah kesempatan yang tak ternilai.

Dalam ajang ASILE 2016, kami dikejutkan dengan kesungguhan para pegiat dan pengajar BIPA menggagas dan meningkatkan kualitas pembelajaran. Pemakalah berkebangsaan Indonesia maupun Australia pada umumnya berbagi metode dan pendekatan pembelajaran Bahasa Indonesia. Terbesit rasa haru dan bangga akan motivasi mereka, tetapi terselip juga rasa malu menghadapi kenyataan beberapa pengajar berkebangsaan Australia yang lebih cinta Indonesia daripada pengajar asli Indonesia. Sedikit disayangkan, bahasa pengantar ajang konferensi menggunakan bahasa Inggris. Namun, dalam komunikasi antarpeserta terbangun suasana sangat Indonesia yang sesekali diselingi dengan celoteh aneka bahasa daerah.

Lima tahun belakangan ini, peminat belajar bahasa Indonesia di Australia dikalahkan oleh peminat bahasa China dan Jepang. Selain alasan ekonomis dan politis, Prof.Dr.George Quinn, pengajar dan pemerhati bahasa Indonesia dari Australia National University menyatakan bahwa ada dua kendala besar-beliau mengistilahi dengan 2 elephants-dalam pengajaran bahasa Indonesia di Australia. Gajah pertama adalah issue berkaitan dengan Islam di Indonesia dan gajah kedua adalah dampak globalisasi bahasa Inggris. Untuk gajah kedua ini, beliau mengisahkan orang Australia yang datang ke Jogjakarta untuk memperdalam bahasa dan budaya Indonesia. Saat bertemu dengan penduduk lokal ‘malah’ mendapat ajakan, “Can I practise English with you, Sir?”. Hahaha… pupus sudah harapan orang Australia ini untuk bisa belajar bahasa Indonesia dari penutur asli. Rupanya, dampak globalisasi menumbuhkan minat orang Indonesia untuk bisa berbahasa Inggris sehingga pertemuan dengan ‘orang asing’ dianggap sebagai sebuah kesempatan praktik berbicara. Hem…

ariani-3Kejutan-kejutan lain yang kudapatkan dari beberapa pemakalah adalah ketertarikan mereka akan perkembangan bahasa gaul di Indonesia. Mereka menanggapi gejala itu sebagai sesuatu yang berdampak buruk bagi keberadaan bahasa Indonesia formal. Ironisnya, penutur asli –bahkan kita pengajar–sadar tidak sadar menanggapi hal ini sebagai sesuatu yang enteng terbukti dengan seringkali kita memakai bahasa gaul sebagai pengantar mengajar dan berbicara di ajang formal lainnya. Kita kerap tanpa dosa memakai bahasa gaul dalam forum resmi.

Seusai konferensi ASILE 2016, tim BIPA Dahsyat mendapat kesempatan berada di kelas-kelas Indonesian Studies Universitas Flinders. Universitas ini sangat tertarik belajar budaya dan bahasa Indonesia. Kecintaan terhadap budaya Indonesia ditandai dengan adanya komunitas gamelan yang dianggotai orang Australia. Mereka piawai menabuh aneka musik gamelan bahkan terampil menyinden. Luar biasa!

Seusai ajang ASILE 2016, Bipa Dahsyat mendapat kesempatan mengajar di kelas Ibu Michelle Kohler dan Ibu Firdaus, Universitas Flinders. Di kelas Ibu Michelle, kami mendapat kesempatan membahas masalah umum keberagaman Indonesia dan secara khusus tentang “Toleransi Beragama”.Dalam kesempatan ini, kami meneguhkan persepsi bahwa Indonesia adalah negara yang penuh toleransi dan harmonisasi dalam keneragaman budaya dan agama. Kami mencoba menepis kesan bahwa Indonesia penuh konflik karena perbedaan agama. Dalam kesempatan ini, kami pun mengajar aneka salam keagamaan sebagai upaya mewujudkan toleransi beragama, assalamualaikum, syalom, namo budhaya, om swastiastu. Ah… indahnya perbedaan.

ariani-4Saat mengisi kelas Ibu Firdaus, kami mendapat kesempatan memperkenalkan Bipa Dahsyat. Sungguh sebuah kesem-patan yang tidak terduga. Kami menjelaskan text books dan media ajar kami yang menggugah dan menggairahkan. Respons mereka, “Wah…buku integratif seperti ini yang kami cari!”,“Di mana dan bagaimana cara mendapatkan buku itu?”,“Kami ingin memiliki media ajar itu!” Komentar-komentar yang menyemangati kami untuk terus berkarya demi bahasa Indonesia yang bermartabat.

Ajang ASILE 2016 telah memperkaya wawasan belajar dan mengajar Bahasa Indonesia, memperkaya pertemanan kami dengan orang-orang hebat, tetapi tetap bersahaja, orang-orang yang tetap Indonesia sekalipun bertahun-tahun telah bermukim di Australia. Dari mereka, kami belajar bahwa berpikir harus global, tetapi berbudaya harus tetap lokal.

Terima kasih APBIPA Bali yang telah memfasilitasi kami, terima kasih ASILE 2016 yang telah menjadi ajang refleksi kami, dan terima kasih BIPA Dahsyat yang telah memberi kesempatan dahsyat ini.

Catatan Perjalanan Tim BIPA Dahsyat di 
Konferensi ASILE (30 September – 2 Oktober 2016), Adelaide, Australia

Niknik M. Kuntarto

asile-2016-0Insan yang baik adalah insan yang tidak hanya mengenal kelebihan, tetapi juga mengenal kelemahannya. Bagaimana cara kita bisa melihat diri kita sendiri? Bercerminlah…! Cermin adalah benda yang acapkali kita gunakan dalam kehidupan sehari-hari. Hidup tidak lengkap rasanya bila sehari tidak becermin. Cermin selalu dibutuhkan karena merupakan benda yang mampu memantulkan bayangan seseorang dengan sempurna. Namun, cermin juga berguna tidak hanya melihat kesempurnaan, tetapi juga untuk melihat penampilan yang masih harus diperbaiki. Cermin bermanfaat untuk membantu kita dalam mengoreksi diri sendiri.

Ada sebuah cermin yang dapat memperlihatkan kepada kita tentang ke-Indonesia-an. Sungguh unik! Cermin ini dapat memantulkan seberapa jauh kita mengenal Indonesia, terutama tentang kecintaan kita pada bahasa dan budaya Indonesia. Cermin itu adalah BIPA. BIPA atau Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing adalah sebuah program pembelajaran bahasa Indonesia khusus untuk orang asing. Melalui BIPA, kita dapat melihat Indonesia dari luar. Melalui BIPA kita bisa melihat bagaimana orang asing memandang Indonesia. Melalui BIPA, kita bisa becermin sejauh mana kita bisa menjawab atau menjelaskan pertanyaan oarang asing tentang Indonesia. Ketika kesulitan saat menjawab itulah, kita bisa menyadari sejauh mana kita mengenal negeri sendiri, sejauh mana kita mengenal bahasa dan budaya negeri kita sendiri. Melalui BIPA-lah akhirnya kita bisa melihat kelebihan dan kelemahan kita. Melalu BIPA-lah kita bisa mengoreksi diri dan melalui BIPA-lah, kita bisa berdandan dan menentukan bagian mana yang harus dihias agar berpenampilan cantik dan menarik.

asile-2016-3Tim BIPA Dahsyat berusaha untuk melihat Indonesia dari luar Indonesia melalui Cermin BIPA di Konferensi Australian Society of Indonesian Language Education yang berlangsung sejak 29 Sepember hingga 2 Oktober 2016 di Flinders University, Adelaide, Australia Selatan dengan tema “INDOVASI: Menuju Paradigma Baru”. Sebagai muslim, sungguh merupakan kehormatan tersendiri ketika konferensi internasional ini dibuka oleh Brent Bloffwitch dengan ucapan salam assalamualaikum. Terharu dan bangga. Cermin nuansa toleransi beragama tercium indah di ruang ini. Juga ketika Tim BIPA Dahsyat berkunjung ke beberapa kelas di Flinders University, tempat konferensi ini berlangsung, kami menjadi narasumber ketika diskusi bersama mahasiswa tentang keragaman beragama di Indonesia. Kami meneruskan pesan yang disampaikan oleh George Queen di ruang konferensi bahwa belajar bahasa Indonesia saat ini seperti tergencat di antara dua gajah. Pertama saat ini orang Indonesia sendiri yang sekarang sedang gencar belajar bahasa asing. Kehadiran orang asing di Indonesia yang mau belajar bahasa Indonesia justru diajak untuk praktik berbahasa Inggris. Kedua adalah pandangan negatif orang asing terhadap Islam di Indonesia. Saat berdiskusi di ruang kuliah asuhan Ibu Michelle, kami ceritakan tentang keindahan toleransi beragama di Indonesia. Kami juga bercerita tentang Riyanto, seorang penjaga gereja yang meninggal karena melindungi jemaat gereja di Mojokerto dari ledakan bom itu adalah seorang muslim. Kami pun dengan yakin dan penuh haru menyatakan bahwa Islam itu bukan teroris.

asile-2016-2Di beberapa ruang konferensi yang dihadiri oleh 160 pemerhati dan guru bahasa Indonesia dari berbagai belahan Negeri Kangguru dan Indonesia ini, begitu banyak tersedia cermin-cermin pembelajaran bagi guru-guru BIPA, terutama tentang inovasi metode mengajar, yang dapat kita jadikan koreksi diri, dengan mengusung tanya, masihkah kita mengajar dengan cara konvensional?

Adalah seorang Irianto Ryan Tedja, alumni Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), Bandung, yang kini mengajar di Murdoch University, telah menjadi cermin yang baik dan sanggup menyadarkan kita arti pentingnya mengenal budaya negeri sendiri. Baginya, mengajar bahasa Indonesia, berarti mengajarkan budaya kepada peserta asing. Berada di ruang konferensi 2.23 Flinders University, merasa seperti memasuki masa kanak-kanak. Masih ingatkah kita pada permainan suten? Kelingking adalah lambang semut, telunjuk lambang orang, dan jempol adalah lambang gajah. Siapa yang menang ketika gajah bertemu semut? Siapa yang kalah ketika orang bertemu dengan semut? Apa filosofi di balik permainan yang juga bernama dam dam sut? Pria yang fasih berbahasa Sunda ini sanggup membuat pembelajaran bahasa Indonesia dengan menarik dan menyenangkan melalui pengenalan permainan tradisional suten atau dam dam sut. Hmm… metode bermain memang cukup efektif dalam belajar bahasa. Bermain yang bukan main-main, melainkan bermain dengan penuh makna tentunya.

asile-2016-5Cermin indah lainnya adalah David Reeve yang dikenal sebagai tokoh bahasa Indonesia di Australia. Pria ramah ini memaparkan metode mengajar kosakata dengan memanfaatkan bahasa iklan, baik iklan yang terkait dengan komersil, imbauan, maupun politik. Yang menarik adalah iklan yang ditampilkan adalah iklan yang menggunakan campur kode di dalamnya. Dengan demikian, kosakata yang diajarkan tidak hanya kosakata bahasa Indonesia, tetapi juga kosakata bahasa-bahasa daerah di Indonesia.

Tim BIPA Dahsyat sendiri membawa cermin ke-Indonesia-an melalui makalah yang berjudul Mastery of Indonesian Language for Foreigners (BIPA) Using Creativity-Based Teaching Media BIPA Dahsyat: Word Order Game (SUKA). Pemilihan materi ajar BIPA selalu menarik perhatian, dinamis, dan menantang para pengajar. Seorang pengajar BIPA selalu harus tampil di hadapan peserta BIPA dengan persiapan yang maksimal. Jika tidak dilakukan, pengajar BIPA akan berhadapan dengan berbagai masalah. Pertama, materi tidak dapat tersampaikan dengan baik kepada peserta BIPA karena materi kurang sesuai. Kedua, peserta BIPA kecewa dan frustasi karena sulit memahami bahasa Indonesia karena materi terlalu sulit. Ketiga, bisa saja, peserta asing tidak semangat belajar bahasa Indonesia karena media ajar kurang menarik. Keempat, tidak menutup kemungkinan, pengajar memasuki kelas dan ternyata semua peserta meninggalkan kelas karena kurang tergugah dan tergairahkan. Semua terjadi karena pengajar BIPA akan berhadapan dengan berbagai peserta yang berasal dari berbagai Negara dengan warna-warni budaya, dengan latar belakang sosial beragam, dan dengan kecerdasan yang jamak.

Pengalaman tersebut, sering kali dirasakan tidak hanya oleh pengelola BIPA yang baru memulai kegiatan dalam pengajaran BIPA, tetapi juga pengelola BIPA yang telah berpengalaman selama puluhan tahun dalam menyelenggarakan program BIPA. Inilah yang menyebabkan selalu ramainya forum pertemuan seperti KIPBIPA dan PITABIPA atau pelatihan seperti Program Sertifikat Pelatihan Guru BIPA I, II, dan III yang digagas oleh APBIPA Bali, Pelatihan Guru BIPA UI, Pelatihan Guru BIPA UNJ, juga Pelatihan Guru BIPA ala BIPA Dahsyat dihadiri oleh para pegiat BIPA. Mereka butuh berdiskusi, saling tukar pikiran, dan berbagi pengalaman di antara pengajar, pegiat, dan pengelola BIPA. Akhirnya, kebutuhan tersebut menjadi tuntutan yang tidak dapat ditawar-tawar lagi. Pengajar BIPA harus terampil mempersiapkan materi dan media ajar BIPA yang menarik, menggugah, dan menggairahkan.

asile-2016-1Menggeliatnya para pengajar dan penggiat BIPA atas kesadaran pentingnya menyediakan buku dan media ajar yang menarik, ternyata kurang didukung dengan tersedianya contoh buku atau media ajar yang tersebar secara umum di Indonesia. Pengajar BIPA merasa kesulitan mencari contoh buku dan media ajar BIPA yang diharapkan. Sebenarnya telah tersedia buku ajar BIPA, baik bagi pemula anak-anak maupun pemula dewasa, tetapi penyebarannya hanya pada lingkungan lembaga itu sendiri. Artinya, buku hanya diperuntukkan bagi siswa yang belajar bahasa Indonesia saja yang akan mendapatkan buku tersebut. Sementara itu, masyarakat umum agak sulit mendapatkannya. Beberapa Sekolah Internasional seperti mengakui kesulitan mendapatkan buku ajar BIPA. Kalau pun ada, buku tersebut harus diimpor dari Australia dan ditulis oleh penulis asing yang dirasa ironis. Akan mengajarkan bahasanya sendiri, bahasa Indonesia, tetapi menggunakan buku karya penulis asing. Beberapa buku memang ada yang ditulis oleh penulis Indonesia, tetapi ia menjadi penulis kedua. Penulis pertama tetap diduduki oleh penulis asing. Itulah yang terjadi. Inilah cermin diri bagaimana penyediaan buku dan media ajar BIPA di Indonesia.

Berdasarkan kegelisahan-kegelisahan itulah, atas bimbingan APBIPA Bali, Tim BIPA Dahsyat lahir. Dalam waktu dua tahun embrio karya-karya BIPA Dahsyat yang tematik dan naratif dengan tokoh-tokoh multikulur dibuat dan pada 2 Oktober 2015, lahirlah BIPA Dahsyat dengan 20 buku ajar tingkat prapemula, pemula, madya, dan lanjut juga 16 media ajar BIPA saat acara besar KIPBIPA di Bali dan kini di Konferensi ASILE 2016, pada 2 Oktober 2016, bertepatan dengan Hari Batik Nasional, BIPA Dahsyat berulang tahun yang pertama dengan meluncurkan media ajar baru: Roda Prefiks untuk belajar imbuhan bahasa Indonesia. Hadiah terindah bagi Tim BIPA Dahsyat karena diberi kesempatan untuk memperkenalkan karya BIPA Dahsyat di ruang konferensi yang pesertanya berpakaian batik, khas Indonesia dan juga ruang kuliah Jurusan Hubungan Internasional asuhan Ibu Michelle Kohler dan Ibu Firdaus.

BIPA Dahsyat lahir bukan saja untuk kalangan terbatas atau guru-guru BIPA di Yayasan Kampung Bahasa BloomBank, melainkan untuk Indonesia. Ini berarti, karya-karya BIPA Dahsyat bisa digunakan oleh siapa saja, lembaga mana pun, baik di dalam maupun di luar negeri. Inilah alasan Tim BIPA Dahsyat lahir dan merayakan hari ulang tahun pertamanya bukan di Jakarta, tempat para penulis juga guru-guru BIPA bertempat tinggal dan bekerja, melainkan di tempat lain: lahir di Bali dan berulang tahun di Adelaide, Australia agar BIPA Dahsyat meng-Indonesia, juga mendunia. Itulah harapan besar kami demi senyum kembang Ibu Pertiwi. Semoga BIPA Dahsyat dan juga para pegiat dan pengajar BIPA di mana pun tetap selalu becermin agar dapat menatap wajah diri Indonesia.

Pengalaman Mengajarkan BIPA di Laos
Tiara Tirtasari

laos-1 Saya memulai perjalanan sebagai pengajar BIPA tepatnya pada November 2011 bersama Lembaga Bahasa Universitas Sanata Dharma Yogyakarta. Saat itu saya masih berstatus sebagai mahasiswa semester lima dan belum bekerja penuh waktu sebagai pengajar BIPA. Namun demikian pengalaman yang sedikit demi sedikit tumbuh melalui aktivitas mengajar di kelas maupun di luar kelas melalui kegiatan non-akademik membuat saya tertarik dan semakin menyukai dunia BIPA sampai saat ini. Sejak memasuki tahun ketiga menjadi pengajar BIPA tepatnya pada tahun 2014 tahun di mana saya juga lulus dari universitas saat itu, saya mulai berpikir bahwa kalau saya ingin menekuni profesi ini saya perlu mengembangkan wawasan saya dan juga relasi di lingkungan BIPA. Salah satunya yaitu dengan mengikuti kegiatan lokakarya pengajaran BIPA di mana saya bisa mendapatkan ilmu baru dan bertemu rekan-rekan yang juga menekuni profesi yang sama dengan saya. Oleh karena itu saya mulai mencari informasi seputar program lokakarya pengajaran BIPA dan saya menemukan Program Sertifikat Guru BIPA Level 1: Metodologi Pengajaran BIPA. Kursus ini diselenggarakan oleh APBIPA Bali yang dikoordinir oleh Bapak Nyoman Riasa. Saya akhirnya mendapatkan kesempatan untuk mengikuti program lokakarya tersebut pada Juni 2015 di Jakarta.

Saya sangat bersyukur bisa mengikuti program tersebut karena saya dipertemukan dengan tokoh-tokoh pejuang BIPA salah satunya Pak Nyoman dan juga bisa mengenal para pengajar BIPA dari daerah lain yang sama-sama ingin memperbarui wawasan tentang BIPA. Saya percaya bahwa kesempatan yang saya dapatkan untuk mengajar BIPA di Laos beberapa bulan berikutnya tidaklah lepas dari lokakarya yang saya ikuti lebih dulu pada bulan Juni 2015 dan pengalaman yang saya peroleh ketika masih di Lembaga Bahasa Universitas Sanata Dharma Yogyakarta.

laos-2Kesempatan mengajar BIPA di Laos yang saya peroleh bermula dari rekrutmen program pengiriman pengajar BIPA keluar negeri oleh PPSDK (Pusat Pengembangan Strategi dan Diplomasi Kebahasaan) Kemdikbud pada November 2015. Setelah melalui dua tahapan yaitu seleksi administrasi dan wawancara, saya dinyatakan lolos seleksi dan ditugaskan mengajar BIPA di KBRI Vientiane, Laos dari bulan Maret hingga Juni 2016. Tidak pernah terbayangkan oleh saya sebelumnya bahwa saya akan menginjakkan kaki ke negeri yang dijuluki negeri seribu gajah tersebut. Informasi yang saya peroleh seputar Laos dan pemelajar BIPA pun sangat sedikit sebelum keberangkatan saya di Laos.

Ketika saya berada di KBRI Vientiane barulah saya mendapatkan data dan pengalaman nyata dari para pengajar BIPA yang sudah lebih dulu mengajar di KBRI Vientiane. Kursus bahasa Indonesia di KBRI Vientiane diselenggarakan secara gratis setiap tahun selama delapan bulan dari Maret hingga Oktober. Mayoritas pemelajar adalah mahasiswa, pegawai pemerintahan, dan tentara. Tantangan yang saya dapatkan saat itu adalah membuat kegiatan pembelajaran semenarik mungkin dan menembus kendala berbahasa di mana mayoritas pemelajar Lao tidak memahami bahasa Inggris sementara saya juga belum menguasai bahasa Lao.

Pada dua minggu pertama sebelum kursus dimulai, saya menyiapkan materi baru yang akan dipakai selama empat bulan berikut dengan media pembelajaran baik kartu kata maupun lagu dan video. Saya sempat merasa gugup ketika menghadapi pertemuan pertama karena jumlah pemelajar dalam satu kelas mencapai 25 orang ditambah keterbatasan bahasa Lao yang saya miliki dan mereka tidak bisa memahami bahasa Inggris jika saya berbicara sepenuhnya dalam bahasa Inggris. Akhirnya saya tetap menggunakan sedikit bahasa Inggris lalu ditambah dengan bahasa Lao yang saya pelajari dan bahasa Indonesia sebagai bahasa utama yang saya gunakan dan perkenalkan secara pelan-pelan ketika saya memperkenalkan diri kepada mereka.

img-20160530-wa0014Antusiasme pemelajar Lao terhadap Bahasa Indonesia ternyata cukup besar. Seiring berjalannya kursus saya memberikan kesempatan mereka untuk mendengarkan lagu Indonesia dan menonton film Indonesia berjudul Habibie & Ainun. Beberapa dari mereka sangat mengagumi mantan presiden RI Bapak Habibie setelah menonton film tersebut. Beberapa yang lain jatuh cinta dengan kecantikan Bunga Citra Lestari dan ketampanan Reza Rahardian. Para pemelajar juga meminta film tersebut kepada saya untuk belajar bahasa Indonesia. Ada pula yang mengunduh lagu “Cinta Sejati” yang terdapat dalam film Habibie & Ainun untuk belajar membiasakan diri mendengarkan kosakata bahasa Indonesia.

Pada kesempatan lainnya para pemelajar saya bagi dalam beberapa kelompok untuk berlatih menggunakan kata tanya dan responnya melalui permainan ular tangga. Aktivitas ini juga sangat menarik minat pemelajar dalam proses mengenal dan menyukai bahasa Indonesia. Para pemelajar terutama bapak-bapak tentara yang usianya ada yang mencapai 40-50 tahun mengaku senang dengan kegiatan seperti itu karena beliau belajar bahasa melalui kegiatan yang menyenangkan sehingga beliau tidak merasa tertekan atau dituntut untuk menguasai bahasa yang sedang dipelajari.

Selain kegiatan menonton dan bermain dalam kelompok, beberapa pemelajar juga mendapat kesempatan untuk mengenakan pakaian adat Indonesia ketika KBRI Vientiane menyelenggarakan malam kesenian bertajuk Wonderful Indonesia in Laos. Mereka sangat senang bisa berpartisipasi dan mengenakan pakaian adat Indonesia secara langsung. Tidak hanya itu, para pemelajar juga berkesempatan memainkan alat musik angklung  dalam acara tersebut.

Dari empat bulan penugasan saya mengajar BIPA di Laos saya belajar bahwa memang benar pengajaran bahasa asing itu harus dilakukan melalui aktivitas yang menyenangkan sehingga para pemelajar tidak merasa tertekan apalagi terbebani dalam mempelajari bahasa tersebut. Lagu, film, permainan tradisional, dan pengenalan budaya adalah beberapa cara yang saya rasakan sangat bermanfaat dalam kegiatan pembelajaran bahasa Indonesia di kelas. Waktu empat bulan dengan jadwal belajar dua kali seminggu bagi pemelajar Lao tentu belumlah cukup untuk menguasai bahasa yang baru mereka pelajari. Namun satu hal yang saya yakini adalah pasti ada hal yang melekat dalam ingatan mereka tentang Indonesia ketika mempelajari bahasa Indonesia di kelas yang kelak mungkin akan membawa mereka ke Indonesia baik untuk belajar, bekerja, ataupun sekadar berwisata.

View Desktop Site