http://apbipabali.org/catatan-perjalanan-tim-bipa-dahsyat-di-konferensi-asile-2016/

Catatan Perjalanan Tim BIPA Dahsyat di  Konferensi ASILE (30 September – 2 Oktober 2016), Adelaide, Australia

Niknik M. Kuntarto

asile-2016-0Insan yang baik adalah insan yang tidak hanya mengenal kelebihan, tetapi juga mengenal kelemahannya. Bagaimana cara kita bisa melihat diri kita sendiri? Bercerminlah…! Cermin adalah benda yang acapkali kita gunakan dalam kehidupan sehari-hari. Hidup tidak lengkap rasanya bila sehari tidak becermin. Cermin selalu dibutuhkan karena merupakan benda yang mampu memantulkan bayangan seseorang dengan sempurna. Namun, cermin juga berguna tidak hanya melihat kesempurnaan, tetapi juga untuk melihat penampilan yang masih harus diperbaiki. Cermin bermanfaat untuk membantu kita dalam mengoreksi diri sendiri. Ada sebuah cermin yang dapat memperlihatkan kepada kita tentang ke-Indonesia-an. Sungguh unik! Cermin ini dapat memantulkan seberapa jauh kita mengenal Indonesia, terutama tentang kecintaan kita pada bahasa dan budaya Indonesia. Cermin itu adalah BIPA. BIPA atau Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing adalah sebuah program pembelajaran bahasa Indonesia khusus untuk orang asing. Melalui BIPA, kita dapat melihat Indonesia dari luar. Melalui BIPA kita bisa melihat bagaimana orang asing memandang Indonesia. Melalui BIPA, kita bisa becermin sejauh mana kita bisa menjawab atau menjelaskan pertanyaan oarang asing tentang Indonesia. Ketika kesulitan saat menjawab itulah, kita bisa menyadari sejauh mana kita mengenal negeri sendiri, sejauh mana kita mengenal bahasa dan budaya negeri kita sendiri. Melalui BIPA-lah akhirnya kita bisa melihat kelebihan dan kelemahan kita. Melalu BIPA-lah kita bisa mengoreksi diri dan melalui BIPA-lah, kita bisa berdandan dan menentukan bagian mana yang harus dihias agar berpenampilan cantik dan menarik. asile-2016-3Tim BIPA Dahsyat berusaha untuk melihat Indonesia dari luar Indonesia melalui Cermin BIPA di Konferensi Australian Society of Indonesian Language Education yang berlangsung sejak 29 Sepember hingga 2 Oktober 2016 di Flinders University, Adelaide, Australia Selatan dengan tema “INDOVASI: Menuju Paradigma Baru”. Sebagai muslim, sungguh merupakan kehormatan tersendiri ketika konferensi internasional ini dibuka oleh Brent Bloffwitch dengan ucapan salam assalamualaikum. Terharu dan bangga. Cermin nuansa toleransi beragama tercium indah di ruang ini. Juga ketika Tim BIPA Dahsyat berkunjung ke beberapa kelas di Flinders University, tempat konferensi ini berlangsung, kami menjadi narasumber ketika diskusi bersama mahasiswa tentang keragaman beragama di Indonesia. Kami meneruskan pesan yang disampaikan oleh George Queen di ruang konferensi bahwa belajar bahasa Indonesia saat ini seperti tergencat di antara dua gajah. Pertama saat ini orang Indonesia sendiri yang sekarang sedang gencar belajar bahasa asing. Kehadiran orang asing di Indonesia yang mau belajar bahasa Indonesia justru diajak untuk praktik berbahasa Inggris. Kedua adalah pandangan negatif orang asing terhadap Islam di Indonesia. Saat berdiskusi di ruang kuliah asuhan Ibu Michelle, kami ceritakan tentang keindahan toleransi beragama di Indonesia. Kami juga bercerita tentang Riyanto, seorang penjaga gereja yang meninggal karena melindungi jemaat gereja di Mojokerto dari ledakan bom itu adalah seorang muslim. Kami pun dengan yakin dan penuh haru menyatakan bahwa Islam itu bukan teroris. asile-2016-2Di beberapa ruang konferensi yang dihadiri oleh 160 pemerhati dan guru bahasa Indonesia dari berbagai belahan Negeri Kangguru dan Indonesia ini, begitu banyak tersedia cermin-cermin pembelajaran bagi guru-guru BIPA, terutama tentang inovasi metode mengajar, yang dapat kita jadikan koreksi diri, dengan mengusung tanya, masihkah kita mengajar dengan cara konvensional? Adalah seorang Irianto Ryan Tedja, alumni Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), Bandung, yang kini mengajar di Murdoch University, telah menjadi cermin yang baik dan sanggup menyadarkan kita arti pentingnya mengenal budaya negeri sendiri. Baginya, mengajar bahasa Indonesia, berarti mengajarkan budaya kepada peserta asing. Berada di ruang konferensi 2.23 Flinders University, merasa seperti memasuki masa kanak-kanak. Masih ingatkah kita pada permainan suten? Kelingking adalah lambang semut, telunjuk lambang orang, dan jempol adalah lambang gajah. Siapa yang menang ketika gajah bertemu semut? Siapa yang kalah ketika orang bertemu dengan semut? Apa filosofi di balik permainan yang juga bernama dam dam sut? Pria yang fasih berbahasa Sunda ini sanggup membuat pembelajaran bahasa Indonesia dengan menarik dan menyenangkan melalui pengenalan permainan tradisional suten atau dam dam sut. Hmm… metode bermain memang cukup efektif dalam belajar bahasa. Bermain yang bukan main-main, melainkan bermain dengan penuh makna tentunya. asile-2016-5Cermin indah lainnya adalah David Reeve yang dikenal sebagai tokoh bahasa Indonesia di Australia. Pria ramah ini memaparkan metode mengajar kosakata dengan memanfaatkan bahasa iklan, baik iklan yang terkait dengan komersil, imbauan, maupun politik. Yang menarik adalah iklan yang ditampilkan adalah iklan yang menggunakan campur kode di dalamnya. Dengan demikian, kosakata yang diajarkan tidak hanya kosakata bahasa Indonesia, tetapi juga kosakata bahasa-bahasa daerah di Indonesia. Tim BIPA Dahsyat sendiri membawa cermin ke-Indonesia-an melalui makalah yang berjudul Mastery of Indonesian Language for Foreigners (BIPA) Using Creativity-Based Teaching Media BIPA Dahsyat: Word Order Game (SUKA). Pemilihan materi ajar BIPA selalu menarik perhatian, dinamis, dan menantang para pengajar. Seorang pengajar BIPA selalu harus tampil di hadapan peserta BIPA dengan persiapan yang maksimal. Jika tidak dilakukan, pengajar BIPA akan berhadapan dengan berbagai masalah. Pertama, materi tidak dapat tersampaikan dengan baik kepada peserta BIPA karena materi kurang sesuai. Kedua, peserta BIPA kecewa dan frustasi karena sulit memahami bahasa Indonesia karena materi terlalu sulit. Ketiga, bisa saja, peserta asing tidak semangat belajar bahasa Indonesia karena media ajar kurang menarik. Keempat, tidak menutup kemungkinan, pengajar memasuki kelas dan ternyata semua peserta meninggalkan kelas karena kurang tergugah dan tergairahkan. Semua terjadi karena pengajar BIPA akan berhadapan dengan berbagai peserta yang berasal dari berbagai Negara dengan warna-warni budaya, dengan latar belakang sosial beragam, dan dengan kecerdasan yang jamak. Pengalaman tersebut, sering kali dirasakan tidak hanya oleh pengelola BIPA yang baru memulai kegiatan dalam pengajaran BIPA, tetapi juga pengelola BIPA yang telah berpengalaman selama puluhan tahun dalam menyelenggarakan program BIPA. Inilah yang menyebabkan selalu ramainya forum pertemuan seperti KIPBIPA dan PITABIPA atau pelatihan seperti Program Sertifikat Pelatihan Guru BIPA I, II, dan III yang digagas oleh APBIPA Bali, Pelatihan Guru BIPA UI, Pelatihan Guru BIPA UNJ, juga Pelatihan Guru BIPA ala BIPA Dahsyat dihadiri oleh para pegiat BIPA. Mereka butuh berdiskusi, saling tukar pikiran, dan berbagi pengalaman di antara pengajar, pegiat, dan pengelola BIPA. Akhirnya, kebutuhan tersebut menjadi tuntutan yang tidak dapat ditawar-tawar lagi. Pengajar BIPA harus terampil mempersiapkan materi dan media ajar BIPA yang menarik, menggugah, dan menggairahkan. asile-2016-1Menggeliatnya para pengajar dan penggiat BIPA atas kesadaran pentingnya menyediakan buku dan media ajar yang menarik, ternyata kurang didukung dengan tersedianya contoh buku atau media ajar yang tersebar secara umum di Indonesia. Pengajar BIPA merasa kesulitan mencari contoh buku dan media ajar BIPA yang diharapkan. Sebenarnya telah tersedia buku ajar BIPA, baik bagi pemula anak-anak maupun pemula dewasa, tetapi penyebarannya hanya pada lingkungan lembaga itu sendiri. Artinya, buku hanya diperuntukkan bagi siswa yang belajar bahasa Indonesia saja yang akan mendapatkan buku tersebut. Sementara itu, masyarakat umum agak sulit mendapatkannya. Beberapa Sekolah Internasional seperti mengakui kesulitan mendapatkan buku ajar BIPA. Kalau pun ada, buku tersebut harus diimpor dari Australia dan ditulis oleh penulis asing yang dirasa ironis. Akan mengajarkan bahasanya sendiri, bahasa Indonesia, tetapi menggunakan buku karya penulis asing. Beberapa buku memang ada yang ditulis oleh penulis Indonesia, tetapi ia menjadi penulis kedua. Penulis pertama tetap diduduki oleh penulis asing. Itulah yang terjadi. Inilah cermin diri bagaimana penyediaan buku dan media ajar BIPA di Indonesia. Berdasarkan kegelisahan-kegelisahan itulah, atas bimbingan APBIPA Bali, Tim BIPA Dahsyat lahir. Dalam waktu dua tahun embrio karya-karya BIPA Dahsyat yang tematik dan naratif dengan tokoh-tokoh multikulur dibuat dan pada 2 Oktober 2015, lahirlah BIPA Dahsyat dengan 20 buku ajar tingkat prapemula, pemula, madya, dan lanjut juga 16 media ajar BIPA saat acara besar KIPBIPA di Bali dan kini di Konferensi ASILE 2016, pada 2 Oktober 2016, bertepatan dengan Hari Batik Nasional, BIPA Dahsyat berulang tahun yang pertama dengan meluncurkan media ajar baru: Roda Prefiks untuk belajar imbuhan bahasa Indonesia. Hadiah terindah bagi Tim BIPA Dahsyat karena diberi kesempatan untuk memperkenalkan karya BIPA Dahsyat di ruang konferensi yang pesertanya berpakaian batik, khas Indonesia dan juga ruang kuliah Jurusan Hubungan Internasional asuhan Ibu Michelle Kohler dan Ibu Firdaus. BIPA Dahsyat lahir bukan saja untuk kalangan terbatas atau guru-guru BIPA di Yayasan Kampung Bahasa BloomBank, melainkan untuk Indonesia. Ini berarti, karya-karya BIPA Dahsyat bisa digunakan oleh siapa saja, lembaga mana pun, baik di dalam maupun di luar negeri. Inilah alasan Tim BIPA Dahsyat lahir dan merayakan hari ulang tahun pertamanya bukan di Jakarta, tempat para penulis juga guru-guru BIPA bertempat tinggal dan bekerja, melainkan di tempat lain: lahir di Bali dan berulang tahun di Adelaide, Australia agar BIPA Dahsyat meng-Indonesia, juga mendunia. Itulah harapan besar kami demi senyum kembang Ibu Pertiwi. Semoga BIPA Dahsyat dan juga para pegiat dan pengajar BIPA di mana pun tetap selalu becermin agar dapat menatap wajah diri Indonesia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

View Desktop Site