Author Archives: webadmin

Pengalaman Mengajarkan BIPA di Laos Tiara Tirtasari laos-1 Saya memulai perjalanan sebagai pengajar BIPA tepatnya pada November 2011 bersama Lembaga Bahasa Universitas Sanata Dharma Yogyakarta. Saat itu saya masih berstatus sebagai mahasiswa semester lima dan belum bekerja penuh waktu sebagai pengajar BIPA. Namun demikian pengalaman yang sedikit demi sedikit tumbuh melalui aktivitas mengajar di kelas maupun di luar kelas melalui kegiatan non-akademik membuat saya tertarik dan semakin menyukai dunia BIPA sampai saat ini. Sejak memasuki tahun ketiga menjadi pengajar BIPA tepatnya pada tahun 2014 tahun di mana saya juga lulus dari universitas saat itu, saya mulai berpikir bahwa kalau saya ingin menekuni profesi ini saya perlu mengembangkan wawasan saya dan juga relasi di lingkungan BIPA. Salah satunya yaitu dengan mengikuti kegiatan lokakarya pengajaran BIPA di mana saya bisa mendapatkan ilmu baru dan bertemu rekan-rekan yang juga menekuni profesi yang sama dengan saya. Oleh karena itu saya mulai mencari informasi seputar program lokakarya pengajaran BIPA dan saya menemukan Program Sertifikat Guru BIPA Level 1: Metodologi Pengajaran BIPA. Kursus ini diselenggarakan oleh APBIPA Bali yang dikoordinir oleh Bapak Nyoman Riasa. Saya akhirnya mendapatkan kesempatan untuk mengikuti program lokakarya tersebut pada Juni 2015 di Jakarta. Saya sangat bersyukur bisa mengikuti program tersebut karena saya dipertemukan dengan tokoh-tokoh pejuang BIPA salah satunya Pak Nyoman dan juga bisa mengenal para pengajar BIPA dari daerah lain yang sama-sama ingin memperbarui wawasan tentang BIPA. Saya percaya bahwa kesempatan yang saya dapatkan untuk mengajar BIPA di Laos beberapa bulan berikutnya tidaklah lepas dari lokakarya yang saya ikuti lebih dulu pada bulan Juni 2015 dan pengalaman yang saya peroleh ketika masih di Lembaga Bahasa Universitas Sanata Dharma Yogyakarta. laos-2Kesempatan mengajar BIPA di Laos yang saya peroleh bermula dari rekrutmen program pengiriman pengajar BIPA keluar negeri oleh PPSDK (Pusat Pengembangan Strategi dan Diplomasi Kebahasaan) Kemdikbud pada November 2015. Setelah melalui dua tahapan yaitu seleksi administrasi dan wawancara, saya dinyatakan lolos seleksi dan ditugaskan mengajar BIPA di KBRI Vientiane, Laos dari bulan Maret hingga Juni 2016. Tidak pernah terbayangkan oleh saya sebelumnya bahwa saya akan menginjakkan kaki ke negeri yang dijuluki negeri seribu gajah tersebut. Informasi yang saya peroleh seputar Laos dan pemelajar BIPA pun sangat sedikit sebelum keberangkatan saya di Laos. Ketika saya berada di KBRI Vientiane barulah saya mendapatkan data dan pengalaman nyata dari para pengajar BIPA yang sudah lebih dulu mengajar di KBRI Vientiane. Kursus bahasa Indonesia di KBRI Vientiane diselenggarakan secara gratis setiap tahun selama delapan bulan dari Maret hingga Oktober. Mayoritas pemelajar adalah mahasiswa, pegawai pemerintahan, dan tentara. Tantangan yang saya dapatkan saat itu adalah membuat kegiatan pembelajaran semenarik mungkin dan menembus kendala berbahasa di mana mayoritas pemelajar Lao tidak memahami bahasa Inggris sementara saya juga belum menguasai bahasa Lao. Pada dua minggu pertama sebelum kursus dimulai, saya menyiapkan materi baru yang akan dipakai selama empat bulan berikut dengan media pembelajaran baik kartu kata maupun lagu dan video. Saya sempat merasa gugup ketika menghadapi pertemuan pertama karena jumlah pemelajar dalam satu kelas mencapai 25 orang ditambah keterbatasan bahasa Lao yang saya miliki dan mereka tidak bisa memahami bahasa Inggris jika saya berbicara sepenuhnya dalam bahasa Inggris. Akhirnya saya tetap menggunakan sedikit bahasa Inggris lalu ditambah dengan bahasa Lao yang saya pelajari dan bahasa Indonesia sebagai bahasa utama yang saya gunakan dan perkenalkan secara pelan-pelan ketika saya memperkenalkan diri kepada mereka. img-20160530-wa0014Antusiasme pemelajar Lao terhadap Bahasa Indonesia ternyata cukup besar. Seiring berjalannya kursus saya memberikan kesempatan mereka untuk mendengarkan lagu Indonesia dan menonton film Indonesia berjudul Habibie & Ainun. Beberapa dari mereka sangat mengagumi mantan presiden RI Bapak Habibie setelah menonton film tersebut. Beberapa yang lain jatuh cinta dengan kecantikan Bunga Citra Lestari dan ketampanan Reza Rahardian. Para pemelajar juga meminta film tersebut kepada saya untuk belajar bahasa Indonesia. Ada pula yang mengunduh lagu “Cinta Sejati” yang terdapat dalam film Habibie & Ainun untuk belajar membiasakan diri mendengarkan kosakata bahasa Indonesia. Pada kesempatan lainnya para pemelajar saya bagi dalam beberapa kelompok untuk berlatih menggunakan kata tanya dan responnya melalui permainan ular tangga. Aktivitas ini juga sangat menarik minat pemelajar dalam proses mengenal dan menyukai bahasa Indonesia. Para pemelajar terutama bapak-bapak tentara yang usianya ada yang mencapai 40-50 tahun mengaku senang dengan kegiatan seperti itu karena beliau belajar bahasa melalui kegiatan yang menyenangkan sehingga beliau tidak merasa tertekan atau dituntut untuk menguasai bahasa yang sedang dipelajari. Selain kegiatan menonton dan bermain dalam kelompok, beberapa pemelajar juga mendapat kesempatan untuk mengenakan pakaian adat Indonesia ketika KBRI Vientiane menyelenggarakan malam kesenian bertajuk Wonderful Indonesia in Laos. Mereka sangat senang bisa berpartisipasi dan mengenakan pakaian adat Indonesia secara langsung. Tidak hanya itu, para pemelajar juga berkesempatan memainkan alat musik angklung  dalam acara tersebut. Dari empat bulan penugasan saya mengajar BIPA di Laos saya belajar bahwa memang benar pengajaran bahasa asing itu harus dilakukan melalui aktivitas yang menyenangkan sehingga para pemelajar tidak merasa tertekan apalagi terbebani dalam mempelajari bahasa tersebut. Lagu, film, permainan tradisional, dan pengenalan budaya adalah beberapa cara yang saya rasakan sangat bermanfaat dalam kegiatan pembelajaran bahasa Indonesia di kelas. Waktu empat bulan dengan jadwal belajar dua kali seminggu bagi pemelajar Lao tentu belumlah cukup untuk menguasai bahasa yang baru mereka pelajari. Namun satu hal yang saya yakini adalah pasti ada hal yang melekat dalam ingatan mereka tentang Indonesia ketika mempelajari bahasa Indonesia di kelas yang kelak mungkin akan membawa mereka ke Indonesia baik untuk belajar, bekerja, ataupun sekadar berwisata.
Pengalaman Mengajarkan BIPA di Canberra, Australia Ni Made Verayanti Utami APBIPA Bali
Pakaian adat Bali

Pakaian adat Bali

Bulan Desember 2015 menjadi awal pertemuan saya dengan APBIPA Bali. Saya memutuskan mengikuti program kursus Program Sertifikat Guru BIPA Level 1: Metodologi Pengajaran BIPA. Setelah mendapatkan pelatihan dari para fasilitator yang sangat berpengalaman dan karena kecintaan sayapada BIPA, saya memutuskan untuk bergabung menjadi anggota APBIPA Bali. Keputusan ini berbuah manis karena saya mendapat kesempatan untuk mengajar BIPA di Canberra, Australia. Program ini bernama Indonesia-Australia School Attachment Program. Dalam program ini, saya berkesempatan menjadi sukarelawan sebagai Guru Tamu (guest teacher) dalam kelas Bahasa Indonesia di tiga sekolah Katolik di Canberra, ACT, Australia. Program ini juga akan mengundang guru-guru dari Australia untuk membantu pengajaran bahasa Inggris di berbagai sekolah di Indonesia. Seperti saya, mereka juga akan menjadi Guru Tamu dalam kelas bahasa Inggris di sekolah Indonesia. Program BIPA yang saya ikuti ini berlangsung selama satu bulan. Dalam satu bulan tersebut saya mengajar di tiga sekolah Katolik: Holy Family Primary School, St. Thomas The Apostle Primary School, Rosary Primary School. Ketiganya terletak di pusat kota Canberra, ibukota Australia. Walaupun waktunya sangat singkat, saya mendapatkan banyak pengalaman dari ketiga sekolah tersebut, karena saya mengajar anak-anak dari kelas TK hingga SD kelas 6. Di ketiga sekolah tersebut saya mengajarkan bahasa dan budaya Indonesia, khususnya budaya Bali. Saya memperkenalkan permainan tradisional Bali, lagu tradisional Bali, tarian tradisional Bali, dan kerajinan tangan yang berhubungan dengan tradisi Bali kepada anak-anak serta guru bahasa Indonesia di sekolah-sekolah tersebut.
Belajar dan bermain

Belajar dan bermain

Tanggapan dari anak-anak di sekolah tersebut sangat membesarkan hati saya. Mereka sangat antusias dengan apa yang mereka pelajari. Pertanyaan demi pertanyaan dari anak-anak membuat saya sadar bahwa keingintahuan mereka terhadap bahasa dan budaya negara lain sangatlah besar. Kebanyakan anak-anak di ketiga sekolah tersebut memiliki karakter yang ramah, berani, dan percaya diri. Hal ini membuat saya senang dan bangga bahwa Bahasa Indonesia menjadi mata pelajaran wajib di sekolah mereka. Proses belajar-mengajar tidak hanya berdasarkan teori semata, tetapi juga praktik di dalam maupun luar kelas. Fasilitas yang memadai serta kegiatan praktik bahasa maupun budaya membuat proses pembelajaran lebih menyenangkan. Selain kegiatan di sekolah-sekolah tersebut, saya juga mendapatkan pengalaman menikmati indahnya kota Canberra. Beruntung sekali saya tinggal dengan keluarga angkat yang sangat ramah, hangat, dan membuat semuanya menjadi mudah untuk saya. Mereka adalah keluarga Bapak dan Ibu Bassett. Ibu Arika Bassett adalah guru bahasa Indonesia di salah satu sekolah Katolik di sana. Setiap akhir pekan Beliau menemani saya mengunjungi tempat-tempat wisata di Canberra, mulai dari Telstra Tower, New Parliament House, Old Parliament House, Australian War Memorial, National Gallery of Australia, National Museum of Australia, National Portrait Gallery, Australian National Botanical Garden, National Library of Australia, Royal Australian Mint, National Arboretum Canberra, Canberra Glasswork, National Film and Sound Archive, serta National Zoo and Aquarium Canberra. Walaupun cuacanya sangat dingin (-3˚C), pengalaman tersebut merupakan pengalaman yang sungguh menyenangkan bagi saya.
Makan malam

Makan malam

Satu bulan rasanya terlalu singkat bagi saya untuk berkunjung ke negeri Kangguru tersebut. Banyak pengalaman luar biasa yang saya dapatkan di sana. Tidak hanya pengalaman mengajar, tetapi juga pengalaman hidup menghadapi perbedaan budaya dan cuaca, serta banyak pengalaman berharga lainnya. Saya sangat berterima kasih kepada APBIPA Bali yang sudah memberikan kepercayaan kepada saya untuk menjalankan tugas ini. Terima kasih juga saya ucapkan kepada para guru di sekolah-sekolah Katolik yang saya kunjungi, Ibu Zita Clifford, Ibu Jo Chilver, serta Ibu Arika Bassett atas kerjasama yang baik ini. Tidak lupa juga saya berterima kasih saya kepada para staf di KBRI Canberra atas sambutannya yang hangat, serta kepada Prof. George Quinn, pakar BIPA, yang sudah meluangkan waktunya untuk bertemu dan berdiskusi tentang BIPA di Canberra dengan saya. Mudah-mudahan kita semua bisa bertemu lagi di lain waktu. Harapan saya juga, mudah-mudahan program ini terus berjalan dan semakin berkembang ke negara-negara bagian yang lain di seluruh Australia.
cli-2016-students-and-instructorsApa itu CLI ASU – Indonesian (Critical Language Institute at Arizona State University). CLI sudah berdiri sejak 1991 di bawah the Melikian Center, ASU. Tahun 2016 adalah untuk kali pertama Bahasa Indonesia masuk Program CLI dengan 6 orang mahasiswa. Program CLI pertama di Indonesia akan dilaksanakan di Bali atas kerja sama dengan Universitas Ngurah Rai dan APBIPA Bali. Program ini terdiri dari dua bagian. Bagian pertama adalah pelatihan BIPA di Critical Language Institute at Arizona State University, Tempe, USA. Salah seorang instruktur APBIPA Bali bertugas selama 2 bulan untuk mengajarkan BIPA kepada empat mahasiswa Amerika. Mereka tidak memiliki pengalaman tentang Indonesia atau Bahasa Indonesia. Jadi, mereka datang ke kelas BIPA tanpat bekal sepatah kata pun dalam Bahasa Indonesia. Setelah 2 bulan (23 Mei – 15 Juli 2016) mereka harus mampu meperoleh tingkat kemahiran pada Tingkat Novice High.   bali-2Setelah mengikuti pelatihan di Amerika mereka harus mengikuti pelatihan lanjutan di Denpasar Bali selama 4 minggu (18 Juli – 12 Agustus). Seluruh program di Bali dikoordinasikan oleh Universitas Ngurah Rai dan APBIPA Bali. Bagian kedua dari program ini adalah kursus BIPA selama dua bulan untuk grup yang lain. Program ini mulai pada 20 Juni 2016 dan selesai pada 12 Agustus 2016. Dengan demikian seluruh peserta BIPA selesai pada saat yang sama dan mereka kembali ke Amerika pada yang sama juga. Selama program mahasiswa dikondisikan agar senantiasa mendengar, mengungkapkan ide dll semuanya dalam Bahasa Indonesia melalui empat komponen wajib sbb: – Bahasa Indonesia – Budaya Indonesia (Bali) – Keluarga Angkat – Mahasiswa pendamping
10 Tahun Perjalanan Program Sertifkat Guru BIPA Level 1, 2, dan 3 Bipa 1Dimulai dari Lokakarya Metodologi Pengajaran BIPA Regional 1 pada 1997, APBIPA Bali bekerja sama denga IALF Bali untuk melatih guru-guru BIPA yang ada di Denpasar – melengkapi mereka dengan keterampilan metodologi pengajaran BIPA. Sampai pada 2005 Lokakarya ini dilaksanakan setiap tahun, apda hari Sabtu bulan Oktober atau November dalam rangka menyemarakkan bulan bahasa. Biasanya sekitar 50 peserta hadir dalam kegiatan tahunan ini. Pada 2006 APBIPA Bali mulai merancang program pelatihan guru secara lebih komprehensif. Dalam draftnya, program ini diberi nama Sertifikat Guru BIPA 1, 2, 3 yang diilhami oleh sejumlah program dengan nama yang mirip seperti RSA Certificate dan CertTESOL. Dengan total 40 jam belajar program ini pertama kali diluncurkan I Pusat Bahasa (sekarang Badan Bahasa) berupa pelatihan intensif semalam satu minggu (5 hari) kepada staf Pusat Bahasa yang membidangi unit BIPA serta staf Balai Bahasa dari berbagai provinsi di seluruh Indonesia. Untuk program di Pusat Bahasa, kursus ini diberi nama Prasertifikasi Guru BIPA dengan harapan Pusat Bahasa akan segera mengambil langkah-langkah strategis untuk melakukan program sertifikasi guru BIPA. Namun, perubahan status Pusat Bahasa menjadi Badan Bahasa telah mengakibatkan program sertifikasi itu terhenti. Bipa 5APBIPA Bali tidak berhenti sampai di sini. Tim APBIPA Bali lalu memperkenalkan program ini dengan membuat kemasan ulang dengan nama Program Sertifikat Guru BIPA Level 1, 2, dan 3. Karena berbagai faktor di lapangan maka Tim APBIPA Bali melakukan penyesuaian dan perubahan. Perubahan pertama adalah mengurangi lama kursus dari 5 hari menjadi 3 hari – biasanya Rabu – Jumat. Perubahan ke dua adalah mengurangi jumlah jam belajar dari 40 jam menjadi 30 jam. Akibatnya, sejak 2010 program ini menjadi lokakarya selama 3 hari dengan 30 jam belajar sangat intensif. Sejak 2008 telah dilaksanakan sebanyak 30 kursus dengan jumlah peserta antara 28 – 34 peserta untuk setiap kegiatan. Jumlah alumi ini telah menyebar hamper ke sluruh Indonesia terutama di Pulau Jawa, Bali, Kalimantan, Lombok, Sulawesi, dan Maluku. Banyak di antara pada alumni kini sudah menjadi instruktur kursus serupa dengan nama kursus yang berbeda, namun dengan mengadopsi strategi pembelajaran yang diberikan khususnya dalam Program Sertifikat Guru BIPA Level 1. Banyak pembaruan yang telah dilakukan oleh APBIPA Bali: mengusulkan nama APBIPA Indonesia (1999) yang telah diubah menjadi APPBIPA (2016). Singkatan UKBIPA juga diusulkan oleh APBIPA Bali pada 2007 pada Diskusi Panel dalam Semiloka Internasional Pengajaran BIPA yang pertama di Hotel Grand Melia, Jakarta. Bipa 4Dalam perjalanannya APBIPA Bali kini telah menandatangani Nota Kesepahaman dengan sejumlah lembaga termasuk: Sekolah Tinggi Pariwisata Bali (STPBI), Green School, Universitas Ngurah Rai, Universitas Dwijendra, dan Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW). Di masa-masa yang akan datang APBIPA Bali akan secara terus-menerus melakukan program-program pemberdayaan guru BIPA melalui program peningkatan kompetisi profesi guru BIPA (BIPA Professional Development Programs) untuk mendorong terciptanya pembelajaran BIPA yang lebih profesional. Namun ingat, Program Sertifikat Guru BIPA Level 1-4 bukanlah program sertifikasi melainkan semacam professional development activities bagi mereka yang senantiasa ingin meningkatkan keterampilan dalam pengajaran BIPA.
GEDUNG Achmad Sanusi, Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung, 4 Desember 2014. Sejak pukul 10:00 WIB, gedung ini telah dipenuhi oleh lebih dari enamratus orang. Umumnya mereka mahasiswa dengan pakaian yang rapi. Sejumlah orang yang duduk di kursi barisan depan terlihat mengenakan setelan jas atau blazer. Mereka adalah peserta Lomba Presenter Berita Akademi Indosiar. Sebuah acara yang diselenggarakan oleh Stasiun TV Indosiar, bekerjasama dengan Departemen Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Pengetahuan Sosial, Universitas Pendidikan Indonesia. Di salah satu kursi, tampaklah seorang peserta perempuan sedang membaca beberapa kalimat di layar telepon pintarnya. Ia menghapal kalimat yang mesti diucapkan ketika mendapat giliran nanti. Namanya Lu Ying Xuan, mahasiswa asing yang berasal dari Tiongkok. Kepada Kim, temannya dari Korea, Lu Ying Xuan mengatakan bahwa ia merasa gugup. BIPA-UPI-2Selain Lu Ying Xuan, mahasiswa asing dari Tiongkok lainnya adalah Huang Meng Jiao dan Wang Qun. Ada juga Jeffrey Alexius Brandes (Belanda), Le Thi Ha (Vietnam), Minami Ninagawa (Jepang), dan Patricia Dorn (Jerman). Mereka juga mengikuti lomba tersebut. Mereka adalah para mahasiswa asing yang sejak September lalu belajar bahasa Indonesia di Balai Bahasa, Universitas Pendidikan Indonesia. Saat ini mereka belajar di tingkat menengah satu. Menurut Bapak Vidi Sukmayadi, dosen kelas menengah satu, lomba ini merupakan ajang untuk melatih keterampilan berbicara sekaligus mengasah keberanian para mahasiswanya untuk berbicara dalam bahasa Indonesia. Beliau menjelaskan, persiapan dan latihan dilakukan selama empat hari. Mulanya, mahasiswa diajak menyaksikan beberapa berita di televisi. Dengan demikian, mereka dapat mengetahui dan mempelajari cara presenter ketika membuka dan membacakan berita. Hal-hal yang mereka pelajari meliputi pemilihan kata, artikulasi, dan tempo pada saat berbicara. Setelah itu, mahasiswa mulai berlatih sambil mendapat bimbingan dari dosen. Mahasiswa juga dibebaskan untuk memilih dan mengadaptasi salah satu gaya presenter di televisi. Aksen khas bahasa pertama para mahasiswa ini menjadi kendala ketika mereka melatih pelafalan disertai intonasi yang tepat, sebagaimana pembaca berita di Indonesia pada umumnya. Namun, hal tersebut tidak menjadi halangan bagi mereka untuk tetap mengikuti lomba. “Kegiatan pembelajaran berbicara yang selama ini diterima di kelas juga menjadi bekal mereka dalam mengikuti lomba ini,”tutur Pak Vidi. Sementara itu, berbeda dengan Lu Ying Xuan, Minami Ninagawa mengaku tidak terlalu gugup. “Semua penonton memberi semangat kepada saya. Jadi saya bisa tampil sambil tersenyum”, ujar mojang Jepang ini. Demikian pula yang dirasakan oleh Le Thi Ha. Ia bahkan tidak merasa gugup sama sekali karena merasa pasti kalah jika harus bersaing dengan peserta dari Indonesia. Hal ini membuatnya merasa tak punya beban apapun. “Saya pikir saya pasti kalah. Jadi tidak apa-apa. Santai saja”, ujarnya dengan bahasa Indonesia yang lancar. Namun, ternyata sikap tenang Le Thi Ha itulah justru yang mengantarnya ke babak final. Selain Le Thi Ha, Huang Meng Jiao (Tiongkok) juga berhasil masuk ke babak final dalam lomba tersebut. Hal ini merupakan kebanggaan tersendiri, baik bagi para mahasiswa maupun bagi Balai Bahasa, UPI. Pak Vidi mengatakan, baru kali ini ada mahasiswa BIPA (Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing) yang mengikuti Audisi Presenter Indosiar. “Ini hasil kerja keras mereka”, ujar beliau dengan wajah bahagia. Kesempatan yang jarang ini juga menjadi pengalaman yang berharga bagi para mahasiswa asing tersebut. “Kami merasa sangat beruntung”, ujar Lu Ying Xuang. Ketika ditanya, hal apalagi yang berkesan dari pengalaman mengikuti lomba ini, Lu menjawab bahwa ia menyukai suasana lomba di Indonesia. “Selalu ramah dan ramai!” ujarnya. Suasana ini berbeda dengan suasana lomba yang ia rasakan sebelumnya. Biasanya lomba sangat serius, sehingga ketika melakukan kesalahan peserta akan menjadi lebih gugup. “Tetapi di sini, meskipun salah, tidak apa-apa”, ujar Lu yang juga senang karena dapat bertemu langsung dengan Walikota Bandung, Ridwan Kamil, dalam acara lomba tersebut. ** — Ellis Artyana – Pengajar BIPA Balai Bahasa UPI
View Desktop Site