Print this pageEmail this to someoneShare on LinkedInShare on Google+Share on Facebook

Author Archives: webadmin

BIPA? Apa itu BIPA?
Oleh Dian Anggraini Febtiani

Dian KorselKalimat itu yang terlintas dibenak saya saat mengambil mata kuliah pilihan ketika saya menempuh program pascasarjana di UPI tahun 2014. Setelah saya mengikuti perkuliahan saya merasa “Kok mengajar BIPA itu menyenangkan ya?” padahal saya adalah orang yang paling tidak mau menjadi tenaga pengajar.

Maret 2015, dosen saya yang bernama Bu Nuny memperkenalkan saya dengan teman beliau yang bernama Pak Nyoman Riasa yang berada di Bali untuk kepentingan tugas mata kuliah. Saya takjub ketika bertemu dengan beliau di Bali, karena beliau mau meluangkan waktu untuk berdiskusi perihal BIPA dengan saya (seorang mahasiswa) yang masih sangat buta dalam dunia BIPA. Beliau sangat memotivasi saya.

IMG_5204Agustus 2016, saya meraih gelar magister dan berselang satu pekan saya kembali mendapatkan kesempatan untuk bertemu dengan Pak Nyoman di Bandung. Saya sangat senang karena dapat mengikuti pelatihan Program Sertifikat Guru BIPA Level 1: Metodologi Pengajaran BIPA difasilitas oleh beliau dan diselenggarakan oleh Program BIPA Universitas Katolik Parahyangan (UNPAR), Bandung.

Di pelatihan itu saya juga bertemu dengan teman baru dan mendapatkan banyak ilmu untuk mengajar siswa BIPA, yang membuat saya mulai lebih paham “Oh ini BIPA”. Setelah pelatihan itu selesai, saya masih belum mengetahui apa yang akan saya lakukan dengan ilmu yang telah saya miliki. Satu bulan dua bulan berlalu, saya mendapatkan kesempatan mengajar siswa BIPA dari Thailand. Itu adalah kesempatan saya untuk mengembangkan ilmu dari pelatihan tersebut, tetapi saya merasa tidak maksimal karena pikiran saya terbagi untuk menjaga ibu saya yang sedang berjuang melawan kanker selama dua tahun. Namun, saat itu juga saya berjanji untuk mengembangkan ilmu itu suatu hari nanti.

Januari 2017, salah satu teman yang duduk di samping saya pada saat pelatihan BIPA di UNPAR itu, Ibu Theresia, menghubungi saya dan meminta saya untuk menjadi tenaga pengajar di UNPAR. Saya sangat takjub karena melalui BIPA ada banyak jalan yang dapat saya lalui juga. Hingga saya menuliskan cerita ini, beliau (Pak Nyoman) berpesan, “Tetaplah di jalan BIPA, ada banyak hal di sana. Kalau pulang lewat Denpasar, kita bisa ngopi bareng.” Pesan ini semakin membuat saya ingin terjun lebih jauh di dunia BIPA.

IMG_5980Saya merasa sedih karena saya melewatkan beberapa pelatihan BIPA yang diadakan di Bandung. Yang pertama bertepatan dengan meninggalnya ibu saya dan yang kedua, saat ini, saya sedang berada di Korea Selatan untuk mengajarkan BIPA dan menepati janji saya untuk mengembangkan ilmu yang telah saya dapatkan.

Saya tidak pandai merangkai kata yang baik dan indah, meskipun ada banyak kata di benak saya yang ingin saya utarakan. Terima kasih Pak Nyoman atas ilmu yang yang telah Bapak berikan kepada saya. Sehingga, saya dapat membuat siswa saya mampu belajar dengan cara yang menyenangkan.

Pasang surut dunia BIPA yang saya lalui selalu membuat saya mengerti bahwa sesuatu yang indah sering kali datang tanpa permisi bahkan ketika kita tidak berharap.

Penghargaan Satya Abdi Budaya bagi Pejuang BIPA

Penghargaan Satya Abdi Budaya (SAB) adalah sebuah perjuangan, sebuah cita-cita, sebuah ketegaran serta sebuah pengakuan. Tidak saja itu, SAB adalah juga cinta terhadap Indonesia, ketidaklekangan pengabdian terhadap Bahasa Indonesia serta pencapaian atas sebuah upaya dan perjuangan yang panjang.

Penerima penghargaan 2017

SAB 2017 2Penerima Satya Abdi Budaya (SAB) yang kedua adalah Prof. Dr. Dendy Sugono, M.Hum (Pak Dendy) dan Dr. Erlin Susanti Barnard (Ibu Erlin) masing-masing mewakili pejuang BIPA nasional dan internasional. Penyerahan penghargaan SAB II dilaksanakan dalam rangka Konferensi Internasional Pengajaran BIPA X di kota Batu, Malang pada 12-14 Oktober 2017.

Saya berkenalan cukup dekat dengan Pak Dendy sejak tahun 2000 terutama ketika saya harus sering bertamu ke Pusat Bahasa (kini Badan Bahasa) Departemen Pendidikan Nasional di Rawamangun, Jakarta. Kunjungan saya ke Pusat Bahasa saat itu adalah dalam rangka pelaksanaan KIPBIPA IV di Denpasar. IALF Bali adalah lembaga penyelenggara saat itu bekerja sama dengan APBIPA Bali dan pada saat itu saya adalah Program Manager, Indonesian Language Services IALF Bali dan Sekretaris APBIPA Bali sementara Pak Dendy adalah Kepala Pusat Bahasa.

Pertemuan saya dengan Pak Dendy semakin sering sejak 2006 ketika beliau hendak melakukan standarisasi program BIPA di Indonesia. Pertanyaan saya saat itu kepada beliau adalah, “Bagaimana mungkin Pusat Bahasa melakukan standarisasi sementara Pusat Bahasa sendiri tidak memiliki unit BIPA? Apakah teman-teman di Pusat Bahasa benar-benar paham tentang BIPA?”

Singkat cerita Pusat Bahasa berencana membuat unit BIPA dan memulainya dengan penyelenggaraan Lokakarya Prasertifikasi Guru BIPA (2006 – 2008) dengan harapan Pusat Bahasa akan segera melaksanakan program standardisasi program BIPA beberapa tahun kemudian. APBIPA Bali diminta untuk membuat struktur program: 40 jam pelajaran terstruktur di dalam kelas dan 20 jam kerja mandiri selama satu minggu. (Pada 2009 Program Prasertifikasi Guru BIPA ini didesain ulang oleh APBIPA Bali menjadi Program Sertifikat Guru BIPA Level 1-4 seperti saat ini). Hal ini dilakukan karena tanda-tanda program sertifikasi program BIPA oleh pihak yang berkompeten untuk itu tidak kunjung tiba padahal keterampilan guru BIPA sangat diperlukan.

SAB 2017Saya ingat kali pertama bertemu dengan Ibu Erlin Barnard pada tahun 1996 saat penyelenggaraan KIPBIPA II di IKIP Padang (kini Universitas Negeri Padang). Saya sempat ngobrol sekitar 20 menit saja. Pertamuan kedua saya dengan ibu Erlin terjadi di kota Bandung pada 1999 di sela-sela KIPBIPA III di IKIP Bandung (sekarang Universitas Pendidikan Indonesia). Jika tidak salah saat itu beliau masih bertugas di Singapura.

Ibu Erlin Barnard, Ph.D. adalah Koordinator Pedagogi untuk Bahasa pada Asian Languages and Culture, Universitas Wisconsin, dengan tugas utama mengawasi aspek-aspek pedagogis dan perkembangan pembelajaran bahasa yang sering diajarkan di UW-Madison. Ia adalah alumni Jurusan Pendidikan Bahasa Inggris IKIP Malang (1986) dan telah memperole gelar doktor dari Leeds Metropolitan University pada 2004. Selama karirnya ia telah menjadi fasilitator pengembangan pedagogi di A.S, Indonesia, Malaysia, Belanda, dan Singapura. Sejumlah buku ajar BIPA sudah ia terbitkan termasuk Nah, Baca!, Ayo Berbahasa Indonesia. Ada begitu banyak prestasi akademik yang telah dicapai oleh Ibu Erlin termasuk penghargaan bergengi berupa ‘The Chancellor’s Award for Excellence in Service’ (2012).


Riwayat lahirnya SAB

Di dunia BIPA, Satya Abdi Budaya adalah sebuah pengakuan dan pernghargaan kepada individu yang telah dengan terus-menerus mengabdi untuk mengajarkan, meneliti, menulis serta berpikir untuk mengembangkan dan mempertahankan pengajaran Bahasa dan Budaya Indonesia di dalam luar negeri.

Sejak 2010, ketika saya dipilih sebagai Ketua Umum APBIPA Indonesia saya sudah berhasrat untuk memberikan penghargaan kepada para insan BIPA dengan pencapaian yang luar biasa dalam perkembangan dan pengembangan Bahasa Indonesia di dalam dan luar negeri, tidak saja dalam pengajaran melainkan juga dalam berbagai aksi dan program.

GQuinn 2Perhelatan Konferensi Internasional Pengajaran BIPA (KIPBIPA) adalah saat yang paling tepat bagi APBIPA Indonesia untuk menyerahkan penghargaan ini kepada yang paling berhak. Namun, antara 2010-2012 kami belum berhasil menemukan nama yang tepat untuk penghargaan itu. Itulah sebabnya pada KIPBIPA VIII (2012) di Universitas Kristen Satya Wacanan keinginan ini belum bisa diwujudkan. Alasan lain adalah pada saat itu ada begitu banyak persiapan yang harus dilakukan oleh Panitia KIPBIPA VIII dan APBIPA Indonesia karena penyelenggarakan KIPBIPA VIII saat itu dirangkaikan dengan pelaksanaan Konferensi ASILE (Australian Society for Indonesian Language Educators). APBIPA Indonesia belum merasa siap untuk itu.

Keinginan untuk memberikan penghargaan SAB itu menguat pada 2014. Pada saat itu saya sudah menetapkan bahwa hal ini harus dilaksanakan pada KIPBIPA IX di Denpasar 30 September -2 Oktober 2015. Saya lalu berdiskusi panjang hanya dengan M. Bundhowi (Pak Bun – Conference Manager KIPBIPA IX) karena kami ingin agar ini menjadi ‘kejutan’ dalam KIPBIPA IX terutama bagi penerimanya. Setelah menetapkan nama, saya lalu meminta bantuan Pak Bun untuk merancang bentuk fisik serifikat dan trofi SAB tersebut.

Dalam diskusi di Pusat Bahasa Universitas Ngurah Rai pada akhir 2014 disepakati dua nama penerima SAB: Dr. Widodo Hs., M.Pd (Indonesia – nasional) dan Prof. George Quinn (Australia – ineternasional). Kedua tokoh ini hampir sepanjang karirnya tetap berada di jalur BIPA melalui lembaga atau universitas masing. Untuk dan karena alasan tersebut keduanya dinobatkan menjadi penerima penghargaan Satya Abdi Budaya I.

Joint ProgramsAfter working on the Indonesian language and culture immersion programs  since 1997 with a number of educational institutes in the country, APBIPA Bali is now strengthening its Indonesian language program with its partner organisations in Bali (Denpasar, Singaraja), Jakarta and Makassar:
– Ngurah Rai University Language Centre in Denpasar
– BIPA Dahsyat in Jakarta
– Eurolasia Training Centre in Makassar
– Alekawa Language Centre in Makassar
– SLC International College in Singaraja

The purpose of this joint program is to provide a language learning experience in such a way so that students could enjoy cultural diversity of Indonesia either taking a course in two different locations or undertake a program at one designated city they would like explore.

This program allows students completing their program in Bali, for example, could then continue the course to the higher level in Makassar or Jakarta and vice versa. This is made possible because the syllabus and material are standarzised.

The major program components in the four different cities are the same, i.e. language studies (40-60 hours), cultural studies (20 – 30 hours), homestay accommodation (13-20 nights) and tutoring with local students. Through the program students will be fully exposed to Indonesian language culture the local culture.

This program was first tried out in 2011, i.e. one week in Denpasar and another week in Singaraja with a group of three Australian students. In 2016 another tried out was organized with two students from America.

As a professional organization for the teaching of Indonesian as a second language since 1998 and current easier access to different parts of the country, it is time for us to share expertise with new organizations with the same or similar missions – strengthening, empowering and promoting in-country IFL programs.

The program is available for 1-3 intensive intensive weeks with the following daily timetable:
Morning: Language Studies
Afternoon: Cultural Studies & Tutorial

For more information of the programs please contact Mr Nyoman Riasa (nriasa@apbipabali.org) or click this link – http://apbipabali.org/kursus-bipa/

Artikel 4Ini bukan tulisan atau cerita tentang keindahan Amerika seperti yang dibayangkan oleh kebanyakan orang. Juga bukan tentang kemegahan kota-kota, lebarnya jalan-jalan raya di negara Paman Obama ini. Ini adalah sebuah kesan seorang guru yang melihat banyak keindahan Amerika melalui sejumlah ungkapan dalam sejumlah esei yang ditulis oleh mahasiswa dari berbagai universitas di Amerika.

Di musim panas 2017 ini saya tiba di kota Tempe melalui bandara Phoenix, ibukota Negara Bagian Arizona, pada 19 Mei untuk memulai program BIPA pada 22 Mei. Kalau tahun 2016 program Bahasa Indonesia CLI-ASU hanya memiliki empat orang mahasiswa, tahun ini ada 11 orang mahasiswa yang berhasil lulus seleksi.

Setelah selesai minggu ke 4, ketika mereka telah menyelesaikan 80 jam belajar sangat intensif, saya mulai memberikan PR dengan jumlah kata minimal 350. Salah satu esei yang harus mereka tulis adalah jawaban atas pertanyaan saya, “Apa yang membuat Amerika ini indah?”. Harapan saya waktu itu adalah bahwa saya akan bisa belajar dari mereka tentang nama-nama tempat yang menarik di benua ini.

Artikel 2Ternyata saya mendapat lebih dari itu. Monica Orillo mahasiswa Jurusan Sospol Arizona State University menuliskan bahwa, “Keindahan Amerika adalah perbedaan Amerika itu sendiri.” Kalimat ini cukup menyentak saya karena di Indonesia kita dari dulu sangat fasih mengucapkan semboyan kebinekaan dan kesatuan kita, bhineka tunggal ika, namun sekarang kain kebhinekaan itu mulai mau dikoyak dan karenanya kain ini dan perlu dirajut ulang. Dari situ lalu saya mulai memikirkan makna lebih dalam dari kata ‘penyatuan’ dan ‘persatuan’.

Mahasiswa dari North Carolina State University, Jared Abell, melihat keindahan Amerika disebabkan oleh adanya kebebasan: kebebasan untuk memilih dan menjalankan bisnis, kebebasan untuk bersuara, dan kebasan untuk memilih makanan dan minuman sesuai kesukaan dan kemampuan. Saya jadi ingat perckapan singkat saya dengan sahabat saya yang berasal dari Timor Timur (sekarang Timor Leste) di tahun 1996. Kebetulan sahabat saya inilah yang antar-jemput saya dari Hotel Turismo – Kanwil Pertanian untuk memberi pelatihan bahasa Inggris. Dalam perjalanan pulang ke hotel dia sempat bercerita bahwa mereka punya semuanya: makanan, uang, pakaian tetapi mereka merasa tidak punya kebebasan.

Artikel 1Saat ini orang-orang Indonesia memiliki kebebasan yang luar biasa, saking bebasnya sampai melewati batas. Merusak sumbu-sumbu kesopanan, melanggar kode etik budaya. Orang Indonesia kini mulai fasih mencaci maki di depan umum – mencaci maki siapa saja. Kita juga sudah biasa melihat atau mendengar elit yang bicara bohong di depan publik karena motif tertentu.

Ada juga mahasiswa yang menguraikan bahwa yang membuat Amerika menarik dan indah adalah karena adanya banyak kesempatan. Mereka yang percaya dengan kesempatan itu dan jika mereka bekerja keras pasti akan berhasil. Yang paling indah adalah ungkapan yang ditulis oleh Vlada Dementyeva (University of Maryland) mengutip nasihat ayahnya bahwa “Kita tidak boleh memiliki apapun, hanya kata-kata yang baiklah yang bisa dimiliki dan diwariskan kepada anak-anak.” Sebagai orang tua dari tiga anak yang sudah dewasa dan memiliki dua cucu, ungkapan ayah Vlada ini sangat menyentuh dan cukup menampar muka saya.

Artikel 3Tidak saja ungkapan-ungkapan seperti ini yang membuat saya tersentuh tetapi saya juga kagum pada makna yang ada di balik ungkapan itu. Para mahasiswa ini adalah anak muda Amerika yang berumur antara 19 dan 24 tahun yang mengungkapkan dengan penuh rasa percaya diri tentang kesempatan masa depan yang ia miliki, tentang kekayaan negaranya, dan hal-hal positip lainnya. Singkatnya adalah tentang rasa nasionalisme mereka untuk ‘to serve my country’ ungkapan yang berkali-kali saya dengar dari mereka. Ketika saya mencoba memadankan ungkapan ini dengan ‘melayani negara saya’ atau mengabdi pada negara tiba-tiba lidah saya terasa kelu dan pahit ketika otak saya menjalar mengingat dan melihat perilaku sejumlah elit di negeri kita.

Jadi, ke 11 mahasiswa itu sebenarnya hanya belajar bahasa dan keterampilan bahasa dari saya, tetapi saya telah belajar tentang kehidupan dari mereka. Saya pun lalu bergumam bagaimana dengan anak-anak muda Indonesia dewasa ini? Apakah mereka masih merasa bangga dengan negaranya, tahu bahwa negaranya memiliki begitu banyak kesempatan? … Entahlah, mudah-mudahan saja begitu.

Malam Indonesia 1
Tahun 2017 adalah tahun kedua Bahasa Indonesia secara resmi dimasukkan ke dalam Program Critical Language Institute yang berada di bawah Melikian Centre pada Arizona State University (Universitas Negara Bagian Arizona). Pada tahun pertama (2016) ada enam orang mahasiswa yang mendaftar untuk program Bahasa Indonesia: 2 orang belajar di Bali selama 8 minggu dan 4 orang di Arizona State University selama 8 minggu dan dilanjutkan dengan 4 minggu di Universiats Ngurah Rai, Denpasar. Mereka berasal dari Universitas Cornell, Universitas Notredam, Universitas Clarkson, dan Arizona State University.

Tahun 2017 ini sejumlah 13 (tigabelas) mahasiswa yang berhasil melewati seleksi program Bahasa Indonesia dan mereka berasal dari berbagai universitas besar di Amerika. Pada gelombang pertama, dua orang mahasiswa Arizona University belajar selama 8 minggu di Pusat Bahasa Universitas Ngurah Rai. Gelombang ke 2 harus belajar di Arizona State University selama 8 minggu (22 Mei – 14 Juli 2017) sebelum diberangkatkan ke Denpasar Bali untuk mengikuti program lanjutan selama 4 minggu.

Ketika memulia program, ke 11 mahasiswa yang mulai belajar di Arizona State University belum tahu Bahasa Indonesia sama sekali tetapi beberapa di antara mereka sudah menguasai dua atau tiga bahasa asing. Mereka memiliki latar belakang jurusan akademik yang sangat beragam, mulai dari Keuangan dan Bisnis, Teknik Komputer,Teknik Kimia, MIPA, Sosial Politik sampai dengan Teknik Penerbangan dan Ruang Angkasa serta Kebijakan Hukum dan Kepolisian.
CLI Rap
Dari 11 mahasiswa itu hanya delapan orang yang akan melanjutkan program mereka di Bali selama 4 minggu (17 Juli – 12 Agustus), sementara dua orang mahasiswa yang lebih senior sudah tiba di Bali pada 16 Juni 2017 untuk program selama delapan minggu.
Selama di kampus Arizona State University ke 11 mahasiswa tersebut dilatih untuk menguasai keterampilan Bahasa Indonesia mulai dari percakapan sehari-hari (survival language) sampai dengan presentasi yang menggunakan Bahasa Indonesia ranah formal.

Rata-rata kecepatan belajar mereka sangat tinggi yang menyebabkan saya sebagai instruktur harus mengimbangi mereka dengan materi dan kegiatan di dalam kelas sesuai kecepatan mereka. Setiap hari kecuali hari Kamis, mereka harus menulis esei pendek (350 kata) menggunakan bahasa yang telah mereka pelajari dengan menerapkan kaidah-kaidah kebahasaan yang dipelajari sebelumnya.
Setelah minggu ke enam, mereka menulis esei yang memberikan kenikmatan kepada saya untuk membacanya karena mereka menuliskannya dengan gaya khas mereka, seperti contoh di bawah ini.
CLI 2017 Act 1
“… Sospol adalah bidang kebijakan domestik dan luar negeri. Kebijakan adalah apa yang dilakukan pemerinta. Untuk sospol saya juga belajar hukum di Amerika dan hukum di negara lain. Di Amerika, ilmu politik adalah studi tentang Presiden dan Kongres. Sospol adalah juga tentang budaya, ekonomi dan masyarakat negara Amerika dan negara lain. Bidang sospol memakai banyak statistik dan studi kasus. Studi kasus adalah contoh spefifik tentang teori politik di negara spesifik dan saya pikir studi kasus adalah yang paling menarik dari sospol. …” (Monica Orillo, Arizona State University)

… Franklin Delana Roosevelt (atau FDR) adalah seorang negawaran Amerika dan pemimpin politik yang merupakan Presiden Amerika Serikat ke 32 dari tahun 1933 sampai kematiannya pada tahun 1945. Seorang Demokrat, dia memenangkan empat pemilihan presiden dan merupakan tokoh penting dalam peristiwa dunia selama pertengahan abad ke 20. Dia memimpin pemerintah Amerika Serikat selama sebagian besar Depresi Besar dan Perang Dunia II. …” (Dylan DeWitt, Ohio State University).

CLI 2017 Papua
“Saya mahasiswa matematika di Universitas Maryland dan saya baru selesai tahun pertama di universiats, jadi saya tidak tahu banyak tentang jurusan saya. Ketika mulai kuliah saya mau menjadi insinyur tetapi setelah satu semester saya mengganti jurusan saya ke matematika. Saya sudah pernah mengambil dua semester untuk kalkulus. Kalkulus adalah bidang kesukaan saya sekarang. …” (Vlada Dementyeva, University of Maryland).

“Ini adalah tulsian tentang J.K. Rowling. JK Rowling adalah orang yang tulis buku Harry Potter. Walaupun dia adalah seorang penulis yang sangat sukses, dia memiliki kehidupan yang sangat sulit. Saat dia masih muda, kehidupan keluarag terasa berat karena ibunya menderita skoliosis. Itu adalah ‘pertempuran’ yang berlangsung selama 10 tahun. Ibunya meninggal ketika JK Rowling berumur dua pulu lima tahun. …” (Tia Scoggan, Purdue University).

CLI 2017 Act
Sebagai bagian penting dalam program ini adalah pengenalan budaya Indonesia (Bali) yang ingin mereka ketahui lebih dalam. Mereka memilih topik dan cara penyajian kepada hadirin. Kegiatan ini dirangkum dalam Indonesian Club (Klub Indonesia). Puncak dari kegiatan budaya ini adalah penyelenggaraan Malam Indonesia sebuah presentasi tentang Indonesia secaraa yang lebih komprehensif. Para instruktur CLI-ASU dan sejumlah mahasiswa dari programa bahasa yang lain hadir untuk menikmati Malam Budaya ini. Penampilan atraksi budaya dan makanan Indonesia (Bali) senantiasa mendapat apresiasi yang sangat tinggi. Penampilan para mahasiswa begitu apik, makanannya enak.

CLI 2017 Act PS
Tahun 2017 ini program Bahasa Indonesia sangat beruntung karena para mahasiswa Amerika ini bertemu dengan delapan orang mahasiswa dari Papua yang sedang belajar bahasa Inggris di Arizona State University untuk melanjutkan ke program pendidikan pilot.
Masuknya Bahasa Indonesia ke dalam Program CLI-ASU tidak lepas dari peran aktif Dr. Peter Suwarno, satu-satunya dosen Bahasa Indonesia di Arizona State University dan Dr. Kathleen Evans-Romaine, Direktur Critical Language Institute. Mereka telah mempercayakan program ini untuk dilaksanakan oleh APBIPA Bali yang bekerja sama dengan Pusat Bahasa Universitas Ngurah Rai di Denpasar Bali.

View Desktop Site