Author Archives: webadmin

1 2 3 5

BIPA: Dari, Oleh, dan Untuk Indonesia Oleh Putri Anggitawati

Saya adalah seorang sarjana pendidikan Bahasa Inggris, dan sedang melanjutkan program magister saya yang tentunya masih di jurusan yang sama. Istilah BIPA telah saya dengar seja kmasih di bangku kuliah S1. Namun, tidak ada pikiran atau keinginan saya untuk tahu lebih jauh tentang BIPA, karena bagi saya untuk apa kita mengajarkan Bahasa Indonesia untuk orang asing? Apa untungnya buat kita? Bisakah itu menghasilkan uang nantinya? Pertanyaan-pertanyaan itulah yang dulu selalu muncul setiap teman-teman saya membicarakan betapa kerennya dunia BIPA. Tapi, semua pertanyaan pesimis tersebut seolah luntur oleh semangat nasionalisme saya yang mendadak muncul setelah mengikuti workshop pengajaran BIPA seminggu yang lalu di desa Menyali di sebelah timur kota Singaraja. Mungkin cerita pengalaman yang saya tulis ini merupakan sebuah takdir yang di usahakan. Saya sebut demikian karena walaupun tidak pernah terpikir sebelumnya di benak saya tentang keinginan untuk tahu lebih jauh tentang BIPA. Namun, sebuah usaha telah saya usahakan untuk membuat takdir bergabung bersama keluarga besar APBIPA Bali ini ada. Selama 30 jam saya bersama 14 peserta workshop pengajaran BIPA lainnya masih terasa kurang karena BIPA itu seperti candu. Saya sebut candu karena semakin kita tahu BIPA lebih jauha kans emakin dalam juga kita terlena akan martabatnya. 10 jam setiap harinya kami habiskan untuk bertukar pikiran dan pengalaman bersama Bapak Nyoman Riasa selaku Direktur Program telah membuka wawasan dan kecintaan saya terhadap bahasa Ibu kami, yaitu Bahasa Indonesia. Di awal sebelum kami memulai kegiatan workshop, Bapak Nyoman mengajak semua peserta untuk menyanyikan laguke bangsaan Indonesia, yaitu Indonesia Raya. Awalnya saya sempat berpikir bahwa ini hanya pengawal sebuah kegiatan. Namun melihat betapa khusyuk dan lantang suara beliau menyanyikan Indonesia Raya tanpa sadar membuat jiwa saya dan ikut terpanggil untuk menyanyikan lagu kebangsaan kami dengan lantang dan bangga. Dari kegiatan tersebut saya dapat menyimpulkan bahwa hal pertama yang wajib dimiliki sebagai pengajar BIPA ialah kecintaan kita terhadap bangsa sendiri. Dan ini bisa saya lihat dari bagaimana Pak Nyoman selalu menyelipkan cerita-cerita di setiap sesi pengajaran untuk selalu mengingatkan betapa bermartabatnya Bangsa Indonesia. Dari lokakarya pengajaran BIPA ini saya juga belajar untuk membuka wawasan saya tentang keberagaman budaya dan melihat sesuatu tidak hanya dari satu perspektif namun haruslah dari segala arah. Pengajaran BIPA ialah sebuah pengajaran yang menghormati segala perbedaan yang ada. Itulah pesan yang saya dapat dari sesi Lintas Budaya. Di workshop ini saya juga menemukan bahwa ternyata hobi saya menggambar dapat juga dimanfaatkan sebagai media pengajaran. Ibu Astiari sebagai salah satu alumni BIPA telah membuka mata saya bahwa dengan memiliki hobi menggambar juga dapat menunjang karir di BIPA. Jadi, saya merasa semakin termotivasi untuk mengembangkan hobi menggambar saya lebih jauh, dan berharap mungkin nantinya gambar-gambar saya dapat memberikan sumbangsih dalam pengembangan materi dan media di dalam pengajaran BIPA. Selain cerita tentang bagaimana BIPA telah menumbuhkan rasa cinta saya terhadap bangsa, BIPA juga telah mempertemukan saya dengan berbagai orang-orang hebat yang ternyata memiliki tujuan yang sama. Tidak hanya dari Bali, mereka juga datang dari Cirebon, Tanggerang, Finland dan membawa cerita dan harapan mereka masing-masing selama mengikuti workshop pengajaran BIPA ini. Di sini saya percaya, bahwa dengan BIPA kita mampu merubah harapan seseorang. Kami, 15 peserta workshop yang awalnya datang sebagai orang-orang dengan isi kepala yang berbeda, mampu diperbaiki sudut pandangnya terhadap bangsa kami sendiri hanya dalam waktu 30 jam. Dan ikatan yang tercipta selama 30 jam itu pun masih berbekas hinggasekarang. Sehingga saya berharap, nantinya jika saya mengikuti pelatihan pengajaran BIPA di level 2 nantinya saya dapat bertemu mereka kembali dan lebih banyak lagi calon-calon pendekar yang bermartabat. Karena dari BIPA saya belajar bahwa seorang pendekar bangsa yang bermartabat ialah pendekar BIPA. BIPA ialah semangat dari Indonesia, diusahakan oleh Indonesia, untuk Indonesia.

Memasuki Babak Baru dengan Genetic Computer School Singapore

Pada hari Senin tanggal 26 Februari 2018 APBIPA Bali menjembatani penandatanganan MoU antara Universitas Ngurah Rai dengan Genetic Computer School yang berpusat di Singapura. Dalam pelaksanaannya program ini akan berada di bawah Genetic-UNR International Program. Sampai saat ini Yayasan Jagadhita – Universitas Ngurah Rai memiliki Pusat Bahasa dan Genetic-UNR International Program. Kedua unit ini berada di bawah payung baru, Centre for International Programs and Training, yang dibentuk oleh Yayasan Jagadhita. Genetic-UNR International Program menyelenggarakan program yang modulnya disiapkan di Singapura oleh Genetic Computer School (GCS) tetapi seluruh instrukturnya berasal dari Bali (Indonesia). Para instruktur ini akan dilatih dan disertifikasi oleh Tim GCS untuk menjaga mutu program dan kompetensi lulusan. Program yang dikembangkan oleh Genetic-UNR International Program sangat bervariasi mulai dari kursus singkat 3 – 5 hari, program sertifikat sampai dengan program diploma 2 tahun sesuai dengan jenjang kepakaran IT yang hendak dikuasai oleh para peserta kursus. Dalam waktu dekat Genetic-UNR International Program akan menyelenggarakan sebuah seminar untuk mengupas betapa pentingnya peran teknologi informasi terutama yang berhubungan dengan media sosial. Jika dikelola dengan baik dan positif, sosial media dapat memberikan dampak sosial ekonomi yang sangat luar biasa bagi masa depan Indonesia. Tidak seperti sekarang media sosial telah banyak disalahgunakan untuk tujuan-tujuan yang berpotensi merusak tataran berbangsa dan bernegara. Jadi, pantau terus program-program baru dan praktis yang sedang disiapkan oleh tim Genetic-UNR International Program. Penandatangan MoU di atas merupakan tonggak penting bagi APBIPA Bali yang selama 19 tahun ini hanya berfokus pada program bahasa dan budaya. Kali ini APBIPA Bali mulai belajar tentang sesuatu yang baru – Teknologi Informasi. Kita tahu bahwa tahun ini APBIPA Bali memasuki usia 20 tahun sejak didirikan pada 1998 oleh para tokoh BIPA di Bali saat itu. Sempat terbengkalai hampir lima tahun tanpa terdengar kabar beritanya antara 2001 dan 2006 karena berbagai persoalan terutama pemahaman tentang misi ke depan yang harus dikerjakan. Satu per satu pendirinya mengundurkan diri karena berbagai alasan. Saat itu APBIPA Bali seperti balita tak terurus, telantar, dan tidak jelas masa depannya. Setelah muncul kembali sejak 2008 sampai dengan 2013 dengan berbagai program dan konsepnya: Trilogi Pengembangan BIPA nasional (2010) Program Sertifikat Guru BIPA Level 1, 2, 3, dan 4 serta Program Voluntir Guru BIPA, APBIPA Bali mulai mendapat ‘goncangan angin kencang’ dari berbagai arah. Berbagiai upaya pembusukan pun mulai terjadi dari berbagai lini terutama antara 2013 dan 2015. Program yang sudah mapan hampir saja rontok dan tim yang sudah solid pada akhirnya harus disusun ulang. Itulah siklus sebuah perjalanan dan perjuangan. Kebangkitan itu mulai tampak lagi ketika APBIPA Bali berhasil menjembatani pelaksanaan program musim panas dan program imersi Bahasa dan Budaya Indonesia dengan Critical Language Institute – Arizona State University sejak 2016. Hal ini lalu disusul oleh program musim panas dari CSEAS dari UCLA – Los Angeles. Terima kasih kepada para mitra dan sahabat yang masih setia. Mari terus bekerja untuk sebuah keyakinan akan kebenaran dan kemanfaatan tetapi bukan untuk kedudukan.
Press Release

Dr Nici Barnes, CDU

Cradle.IA has officially been launched!!!   After talking separately for well over a year, a small group of 14 people from Bali and Australia were very excited to hold the first official Cradle.IA meeting and workshop at Slukat Learning Centre, in Gianyar, on the 2nd January 2018.  Our day consisted of meeting each other for the first time as a team, establishing a direction for Cradle.IA based on our common vision of empowering young people to overcome disadvantage, and then developing the first steps towards reaching this goal. Cradle.IA is a network of people and organisations from Indonesia and Australia (and other countries), who have an acknowledged passion to help overcome the disadvantage that many young people experience.  This disadvantage might be due to any number of things, from poverty, a disability, abuse to just plain life circumstances that have prevented young people from having and doing the types of things that most of us take for granted.  Our team recognises the privilege they have themselves, and want to be able to share their resources, knowledge and experiences with these young people in order to empower every young person to address whatever disadvantage they might live in. We have big plans for both an independent research centre and a number of learning centres for disadvantaged kids.  The research centre will be a shared organisation for all our university partners and will focus on research capacity building and on conducting research that can help us to work effectively with disadvantaged young people.  The learning centres will be strategically developed to provide education in English language and technological skills, but it is also planned that these centres can provide support for medical and other needs that young people might have.  However, our most immediate aim is to start fund raising so that we can put our plans into action. We came to the conclusion at the end of the day that we need to think very differently and work smart in order to reach a very lofty but incredibly worthwhile goal of empowering all young people to have and to make their own choices in life. I leave you with two quotes from Emerson and Einstein: “Don’t go where the path may lead, go instead where there is no path and leave a trail”. “No problem can be solved by the same consciousness that created it.  We need to see the world anew”. We cannot hope to change a problem of the ages, like disadvantage, by doing what has already been done.  Those things have obviously not worked because we still have millions of kids living in disadvantage across the globe.  Cradle.IA is here to see if it will be our time and our people that could be the catalyst for change. We are thrilled to share this start with everyone. Dr. Nici Barnes nici.barnes@cdu.edu.au January 10th, 2018

Cradle Activities 2017

CRADLE is an organisation that works to produce social empowerment and change for young people who live in disadvantage in Indonesia (Bali). The organization has established partnerships with universitites and NGO’s to access resources to facilitate change for young people embedded in disadvantaged lives. CRADLE will allow the building of opportunities to apply resources in ways that create change. While the focus of CRADLE is on young people, we recognise that working with the young will necessitate acting within their contexts and that this will and should catalyse future social change and impact not just for the young but for their communities. Our initial stepping stone for the project is to work with disadvantaged children in Bali through the provision of educational and cultural activities. These programs and activities are aimed at empowering the children with skills and knowledge so that they can later formulate and reach their goal in life. Our team initially works with the children to boost their confidence to speak up in public while maintaining their Balinese cultural identities through continued mastery of practical skills of Balinese arts and culture. We help them to realise what they would like to achieve for their future education and career by providing special training programs. So, we cannot shape their future or make decision for them but we will show them alternatives and guidelines. CRADLE is supported by partner organisations in Bali and outside Bali: Ngurah Rai University, Dwijendra University, Slukat Learning Centre, APBIPA Bali, Ngurah Rai University Language Centre and Charles Darwin University, Australia. We also have individuals and professional people who are willing to work as volunteers for the project. We would welcome interested parties to participate as supporters or volunteers in the project or any other roles they could possibly take. (For more information please contact nriasa@apbipabali.org or nici.barnes@cdu.edu.au)
On December 11-14, 2017, APBIPA Bali provided a short Indonesian language course to two students of Wesley College, Perth. The course was conducted at Bali Club Med in the Nusa Dua Resort Area, a 35-minute drive from Denpasar.   During my very first hour of the session with the students (Michael and Sam) I already had two concluding points for them and their Bahasa Indonesia level. 1) Each of them already had a good foundation of the language training in relation to their current grade. This also implied that they had been very well taught by a professional teacher back in Perth. Through our conversation in Bahasa Indonesia, I tried to check (especially with Michael) on a number of Indonesian linguistic concepts and the result was FANTASTIC. I should pay my full respect to Ibu Laura Wimsett, their teacher (and or the teacher before her), who has also been an old friend of APBIPA Bali. 2) Both students had a very strong commitment to their learning as they always did every activity through the hour. They asked me with excellent questions about Bahasa Indonesia and Indonesia. From the first meeting I always assigned them an after class project making them communicate in Bahasa Indonesia with the Club Med staff members or Indonesian people they met during their outdoor activities. Following the short course, I am happy to share a note from Mrs Denise Buchanan, the students’ mother, who specially wrote to us about the students’ opinions on the course. This is what she wrote: “In December 2017 two of my sons and I visited Bali. On the recommendation of the Indonesian Teacher from their school, we arranged with Mr Nyoman Riasa from APBIPA Bali for the boys to have individual Indonesian lessons daily. Mr Riasa offered us the option of lessons at the APBIPA Bali premises or at our hotel. To keep things relaxed for us, we opted for Mr Riasa to work with the boys at our Hotel in Nusa Dua. Sam (13) and Michael (14) have been learning Indonesian at their school in Perth, Western Australia for several years and hope to continue to year twelve. Mr Riasa tailored the lessons to meet each boys’ current level of ability. Both boys felt Mr Riasa was an exceptional teacher, and this was evident in the way they were so keen to attend the lessons daily and practice what they had been taught. Once the staff at our hotel realised the boys were learning Indonesian they encouraged them, and were eager to help answer the questions in the worksheets the boys were given each day. The hotel had many varied activities for the boys, but when I asked my sons what the highlight of the trip had been for them, they both agreed that it was the Indonesian lessons. It gave them an appreciation of why learning a language is so valuable and it built a stronger connection to the Balinese people. If you are interested in learning or furthering your understanding of the Indonesian language, we cannot recommend Mr Riasa and his team at APBIPA Bali too highly. He is quite outstanding“.
1 2 3 5
View Desktop Site